Tuhan Tak Butuh Sembah dan Sujud Kita

0
1485
Gambar ilustrasi oleh martinduss / Pixabay

Tuhan bersabda: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku” (Kel. 20:3-5).

Dari ayat di atas, tidak sedikit orang berkeyakinan bahwa karena Tuhan menyuruh mereka supaya menyembah diri-Nya, itu berarti bahwa Ia membutuhkan sembah dan pujian mereka. Pertanyaannya: benarkah Tuhan membutuhkan sembah dan sujud kita?

Tentu saja keyakinan seperti ini tidak benar dan menyesatkan. Tuhan sama sekali tidak membutuhkan sembah dan pujian kita. Bahkan, ketika Tuhan memerintahkan kita untuk menyembah Dia, itu tidak berarti bahwa Dia membutuhkannya. Ingat, mau disembah atau tidak, Tuhan tetaplah Mahakuasa. Segala sembah, sujud, dan pujian kita tidak menambah sedikitpun pada kemahakuasaan-Nya. Dia hanya menginginkan supaya kita menjadi ciptaan-Nya yang tahu bersyukur.

Tuhan adalah Maha-sempurna. Entah kita sembah ataupun kita tidak menyembah-Nya, sama sekali tidak menambah sedikitpun pada kesempurnaan-Nya. Dia adalah Maha-mulia. Kemuliaannya ada sejak dahulu kala, sekarang, hingga selama-lamanya. Ia tidak pernah tidak mulia. Kemuliaan Tuhan tidak bergantung pada pujian dan sembah sujud kita. Lagi pula, siapa kita untuk menentukan kemahakuasaan, kesempurnaan, dan kemuliaan?

Justru kitalah yang membutuhkan pertolongan dari Tuhan karena Dia juga adalah Maha-kasih. Karena kasih-Nya itu, Dia telah menganugerahkan banyak hal kepada kita: hidup kita, kesehatan kita, lingkungan di sekitar kita yang kondusif, dan sebagainya. Karena itu, Tuhan hanya mau supaya kita menyembah Dia sebagai ungkapan hormat dan terima kasih kepada-Nya. Maka, ketika kita bersembah sujud di hadapan Tuhan, sesungguhnya itu bertujuan untuk mendatangkan manfaat bagi kita sendiri, dan mudah-mudahan juga bagi sesama dan lingkungan di sekitar kita.

Seringkali terjadi, kita merasa seperti ciptaan yang paling berjasa di hadapan Tuhan. Seolah-olah tanpa kita, Tuhan tidak bisa menjadi Tuhan. Kita memaksa Tuhan supaya memberi semua yang kita minta. Jika tidak, kita akan meninggalkannya. Kita mengatur dan mengancam Tuhan. Kita selalu bilang “Tuhan saya mau ini, saya mau itu.” Padahal, Tuhan hanya akan memberi apa yang kita butuhkan, bukan semua yang kita minta. Apa yang kita minta seringkali bukan itu yang kita butuhkan. Karena itu, doa yang baik adalah doa yang isinya berpasrah penuh pada kehendak Tuhan, bukan doa yang mendesak apalagi memaksa Tuhan supaya mengikuti keinginan kita.

Perhatikan kembali cara dan pilihan kalimat kita dalam berdoa. Jangan sampai kita mendesak, memaksa, apalagi mengancam Tuhan. Itu dosa. Kita bukan siapa-siapa. Kita hanyalah ciptaan. Kita membutuhkan Tuhan. Hidup kita ada di tangan-Nya. Kita bergantung pada Dia. Maka, jangan sekali-kali mengatur Tuhan. Jangan mengira bahwa jika kita tidak menyembah Dia, kemuliaan-Nya menjadi hilang. Tidak sama sekali. Kitalah yang mengharapkan pertolongan dari Tuhan; sehingga kita pun berkata: “Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu” (Mzm. 17:8).

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: [email protected]