3 B: Berdoa, Bermatiraga, Beramal (Refleksi Prapaskah)

0
142

Saudara/i, terkasih. Hari ini kita sudah memasuki Prapaskah, masa sebelum Paskah. Masa ini diawali dengan perayaan Hari Rabu Abu. Secara istimewa kita ditandai dengan abu sebagai tanda  penyesalan dan pertobatan sekaligus menyadarkan kita semua akan kefanaan hidup ini. Kita berasal berasal dari abu  dan pada saatnya akan kembali menjadi abu.

Masa Prapaskah adalah kesempatan yang istimewa untuk merenung, membarui diri dan membuat komitmen untuk berubah agar menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jadi, semangat dasar masa Prapaskah adalah PERTOBATAN. Ada tiga hal penting yang perlu dilakukan secara serius oleh orang katolik selama masa prapaskah.

  1. Berdoa

Berdoa adalah berkomunikasi dengan Tuhan. Isi komunikasi itu, antara lain: pujian dan syukur atas kebaikan Tuhan, permohonan agar Tuhan melindungi dan memberkati ziarah hidup selanjutnya, juga permohonan agar Tuhan mengampuni dosa-dosa kita. Isi komunikasi  dengan Tuhan yang tak pernah boleh diabaikan adalah penyerahan diri. Melalui doa yang adalah berkomunikasi dengan Tuhan, kita menyerahkan diri secara total kepada Tuhan, menyerahkan suka duka hidup juga rencana hidup ke depan. Pada  masa  prapaskah, kita diajak untuk lebih tekun berdoa atau membangun komunikasi dengan Tuhan lebih dari sebelumnya.

  1. Bermatiraga: Puasa dan Pantang

Dalam masa prapaskah, umat katolik diajak untuk melakukan pantang dan puasa. Apa itu puasa dan pantang? Berpuasa adalah makan kenyang satu kali sehari. Misalnya, Anda memiliki kebiasaan makan tiga kali sehari. Anda berusaha untuk hanya satu kali makan sampai kenyang. Dua kesempatan lainnya hanya makan sedikit atau tidak sampai kenyang. Kapan kita berpuasa? Kita berpuasa pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Jadi, hanya dua kali selama masa Prapaskah!  Siapakah yang wajib  berpuasa? Yang berpuasa adalah yang berumur 18 tahun sampai 60 tahun.

Apa itu berpantang? Berpantang adalah tidak menikmati apa yang menjadi kesukaan kita. Misalnya, pantang makan daging atau ikan, atau bagi yang suka rokok pantang merokok, atau pantang buka akun medsos (FB, Wa, IG atau Twitter) bagi yang selama ini sulit lepas dari hal-hal demikian. Kapan kita berpantang? Kita berpantang pada setiap Jumat dalam Masa Prapaskah dan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung.  Siapa yang diwajibkan untuk berpantang? Yang diwajibkan berpantang adalah semua yang berumur 14 tahun ke atas.

Siapakah yang tidak diwajibkan untuk berpantang dan berpuasa?

  • Mereka yang masih belum berusia 14 tahun (pantang) dan 18 tahun (puasa) serta yang sudah berusia 60-an tahun (puasa).
  • Mereka yang karena alasan wajar dan masuk akal tidak bisa berpantang dan berpuasa, misalnya, perempuan hamil, orang sakit dan pekerja berat.
  • Mereka yang berlayar atau melaut (menangkap ikan) atau untuk alasan tertentu sedang dalam perjalanan di laut tidak diwajibkan untuk berpantang dan berpuasa (bdk. KHK 1251).

Penting untuk disadari bahwa nilai yang diperjuangkan di balik pantang dan puasa adalah PENGENDALIAN DIRI.  Ini bentuk latihan rohani agar kita mampu menguasai tubuh kita sendiri. Kita bermati raga agar  kita tak selalu dikendalikan oleh keinginan tubuh kita sendiri.

Aturan pantang dan puasa yang ditetapkan oleh  Magisterium (wewenang atau kuasa mengajar) Gereja Katolik tentu saja aturan minimal. Dengan demikian, kita bisa melakukan yang lebih dari ini. Misalnya berpantang setiap hari atau berpuasa setiap hari. Tapi ini harus muncul dari kesadaran pribadi atau kerinduan hati.

  1. Beramal atau berbagi

Hal  ketiga yang sangat penting dilakukan selama  masa prapaskah adalah beramal atau berbagi dengan sesama, terutama yang sangat membutuhkannya. Harus saya katakan bahwa orang yang tekun berdoa dan bermatiraga (berpantang dan berpuasa) pasti selalu tergerak hatinya untuk berbagi atau bersedekah dengan sesama. Orang yang tekun berdoa dan bermatiraga pasti hatinya selalu tergerak oleh belaskasihan seperti Yesus untuk berbagi dan menolong sesamanya. Ia pasti peduli dengan sesamanya.

Siapa yang bersedekah? Semua orang katolik. Bahkan anak-anak sekolah dari tingkat dasar sampai pendidikan tinggi juga diajak untuk berbagi atau bersedekah. Biasanya anak-anak sekolah diminta mengumpulkan sejumlah uang atau barang yang pada saatnya disalurkan kepada pihak yang membutuhkannya. Demikian juga dengan umat beriman lain. Melalui Paroki atau wilayah, semuanya diajak untuk terlibat dalam gerakan berbagi kasih ini.  Semuanya diajak untuk peduli dengan sesama sebagaimana Yesus sangat peduli dengan manusia.

Harapannya adalah tindakan beramal atau bersedekah ini dilakukan dengan tulus dan bukan karena kewajiban atau karena terpaksa. Kalau dilakukan dengan tulus, tindakan kasih ini pasti mendatangkan sukacita bagi yang menerimanya maupun yang memberikannya. Selain itu, rahmat secukupnya akan dianugerahkan kepada orang yang bersedekah dengan tulus.

Saudara/i, demikianlah penjelasan selayang pandang tentang tiga hal penting yang perlu dilakukan selama masa Prapaskah. Selamat memasuki Prapaskah! Selamat berdoa dengan tekun, bermatiraga (berpantang dan berpuasa) dan  beramal-bersedekah! Tuhan Yesus memberkati dan menyertaimu ziarahmu!***

 

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.