Sepanjang satu minggu ini – mulai dari hari Senin yang lalu sampai hari ini – kita dihadapkan dengan bacaan pertama dari Kitab Kejadian bab 1-3, yang isinya bercerita tentang terbentuknya alam semesta dan segala isinya sampai pada kisah mengenai ‘Kejatuhan Manusia Pertama’, Adam dan Hawa. Dari seluruh isi cerita yang ada di dalam ketiga bab itu, saya tertarik untuk membahas soal kejatuhan manusia.
Manusia pertama jatuh ke dalam dosa, tapi tidak mampu mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri. Mereka hanya bisa melemparkan kesalahan pada pihak lain. Adam melemparkan kesalahan kepada Hawa. Hawa tidak mau mengaku salah. Dia juga melemparkan kesalahan kepada ular. Ular tidak bisa berbuat apa-apa. Ia diam seribu bahasa, dan hanya bisa menerima hukuman dari Tuhan.
Perilaku semacam ini diwariskan secara turun-temurun hingga saat ini. Manusia senang mencari kambing hitam. Ngeles. Sulit sekali mengaku salah. Jarang sekali ada orang yang dengan gampang mengatakan “Saya salah”. Biasanya kita terlebih dahulu menyalahkan keadaan, lingkungan, dan orang sekitar. Kita sulit mengaku salah.
Tuhan tahu siapa yang salah. Tuhan hanya meminta kejujuran dari manusia. Tapi, karena manusia itu tak kunjung jujur, maka Tuhan memberi hukuman kepada mereka masing-masing. Ular, hukumannya adalah berjalan dengan perut. Hawa, susah payah waktu mengandung. Adam, bekerja keras untuk mendapatkan sesuap nasi.
Dari situlah sejarah panjang mengenai penderitaan manusia dimulai. Manusia yang tadinya ongkang-ongkang tinggal di taman Eden dengan segala persediaan makanan yang selalu ada, akhirnya harus bekerja keras. Kalau tidak bekerja, mereka tidak dapat makan.
Tapi, syukurlah, dengan bacaan Injil, kita dapat tahu bahwa ternyata Tuhan mengasihi kita. Ia tidak membiarkan keadaan kita terus terpuruk. Bacaan pertama yang bercerita mengenai kejatuhan manusia, disandingkan dengan kehadiran Tuhan Yesus yang datang untuk menyembuhkan orang sakit, menghibur orang yang berduka, dan memberi makan orang yang lapar.
Injil menampilkan Tuhan Yesus sebagai pemulih keadaan manusia dari akibat dosa asal. Manusia yang tadinya harus mencari makan sendiri, ‘diberi makan’ oleh Tuhan. Nah, Injil ini mengajarkan kepada kita bahwa keadaan kita akan dipulihkan kalau kita dekat dengan Tuhan Yesus.
Karena itu, dalam kehidupan kita setiap hari, kita diajak supaya dekat dengan Tuhan Yesus. Apapun situasi yang kita hadapi, suka-duka, pahit-getirnya hidup kita, bawalah semuanya kepada Tuhan. Yakinlah, Ia akan menjadikan segalanya baik; asalkan kita percaya kepada-Nya.


