Pemilihan Umum (Pemilu) dan persiapannya sedang berlangsung di seluruh Indonesia, termasuk di Propinsi Kalimantan Tengah. Mari kita tanggapi Pemilu ini sebagai kesempatan untuk memperbaiki mutu kehidupan bermasyarakat di tempat kita masing-masing. Keuskupan Palangka Raya mengajak seluruh umat untuk terus mencari jalan bagaimana meningkatkan martabat manusia yang sejahtera, melalui keikutsertaan kita dalam Pemilu. Oleh karena itu, Gereja Katolik mengajak semua umatnya untuk ikut ambil bagian secara penuh dalam Pemilu ini, dan tak seorang pun menyia-nyiakan dengan tidak ikut memilih atau menjadi Golput.
Pemilu merupakan kesempatan bagi rakyat untuk mendapatkan orang-orang yang akan dipercaya untuk memimpin rakyat dalam mewujudkan cita-cita bersama, yaitu bahwa seluruh rakyat mempunyai kesempatan yang sama untuk hidup sejahtera. Hal ini dimungkinkan apabila rakyat dan terutama para pemimpinnya, baik dalam sikap maupun tindakan, lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi atau golongannya sendiri. Sebagai bagian integral dari rakyat, umat harus terlibat dan berpartisipasi di dalam setiap usaha untuk mengupayakan kesejahteraan bangsa kita, terutama melalui Pemilu ini. Surat Gembala Pemilu 2019 ini kami maksudkan untuk mendorong umat ikut aktif dalam Pemilu sebagai salah satu bagian dari usaha tersebut.
Sehubungan Pemilu 2019 ini, ada beberapa hal yang perlu dicermati.
Pertama, mengenai tata pelaksanaan pemungutan suara. Diperlukan ketelitian yang sungguh-sungguh untuk mengikuti tata-cara yang tercantum di dalam undang-undang dan peraturan yang berlaku. Untuk itu kita perlu meluangkan waktu dan kesempatan untuk secara pribadi maupun secara bersama-sama di dalam kelompok, untuk mempelajari dan mendalami seluk beluk Pemilu 2019 ini, agar dapat berpartisipasi dengan tepat.
Kedua, sekitar pribadi para calon. Kita harus memilih orang-orang yang dapat dipercaya untuk memimpin rakyat Indonesia dan di daerah kita serta menjalankan pemerintahan demi kesejahteraan umum. Marilah kita cermati dan telusuri rekam-jejaknya, apakah orang yang akan kita pilih itu memang dapat dikatakan sebagai orang baik, bersih dan tepat untuk menjadi pemimpin. Layakkah dia dijadikan pemimpin? Jujurkah dia? Mana yang dia utamakan: kepentingan pribadi, golongannya sendiri atau kepentingan umum? Kita pilih mereka yang benar-benar mengutamakan kepentingan umum. Kita juga akan memilih orang-orang yang tidak korup, mereka yang memperoleh kekuasaan secara jujur dan tidak menggunakan politik uang, tetapi mempergunakan kekuasaan demi kesejahteraan masyarakat. Kita semua perlu kritis terhadap kampanye, menilai rekam jejak (track-record) calon dan menentukan pilihan sesuai dengan suara hati kita masing-masing.
Ketiga, ketika kampanye. Umat boleh mendukung calon mana yang sesuai dengan hati nuraninya masing-masing, dengan akibat timbulnya perbedaan pilihan di kalangan umat. Namun perbedaan ini tidak boleh menjadi alasan konflik dan terpecahnya kesatuan umat karena alasan politik. Umat harus tetap memberikan kesaksian bahwa Gereja itu satu, kudus, katolik dan apostolic.
Keempat, mengingat Gereja adalah tempat ibadah, maka tidak boleh seorang pun, entah pastor, biarawan-wati atau awam, menggunakan altar, mimbar atau bagian gereja lainnya menjadi tempat kampanye dengan menyebut nama salah satu pasangan calon untuk dipilih.
Marilah kita berusaha untuk mendapatkan calon yang mengembangkan sikap toleran dalam kehidupan antarumat beragama, mereka yang mengamalkan nila-nilai luhur agamanya sehingga dengan nyata menghargai orang-orang yang di luar agamanya sendiri. Kita bisa memilih pemimpin yang memberi perhatian pada pelestarian lingkungan, pada kaum miskin dan lemah serta peranan perempuan. Marilah kita ikut ambil bagian sepenuh-penuhnya dalam Pemilu ini.
Semoga Pemilu 2019 menjadi kesempatan bagi bangsa kita untuk mendapatkan orang-orang yang dapat dipercaya, pemimpin-pemimpin yang jujur dan benar-benar mencintai bangsanya. Karena itu, hak untuk memilih hendaknya dipergunakan sesuai dengan suara hati yang telah dijernihkan dan dipertajam dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas.
Akhirnya, marilah kita rangkai peristiwa Pemilu 2019 ini di dalam doa-doa kita. Semoga rakyat kita tidak mengambil langkah yang salah, langkah mundur atau langkah yang membawa mala petaka, tetapi sebaliknya, semoga berkat dan kebijaksanaan dari Yang Maha Kuasa mengantar seluruh rakyat Indonesia dan secara khusus di Kalimantan Tengah ini ke masa depan yang lebih sejahtera dan bermartabat.
+ Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF
Uskup Palangka Raya, Kalimantan Tengah.


