Banyak aliran masa kini merasa terganggu jika menyebut nama Maria, Bunda Yesus. Mereka berprasangka bahwa dengan memberi tempat istimewa kepada Maria, kita menduakan Tuhan.
[postingan number=3 tag= “bunda-maria”]
Tentu saja prasangka semacam itu tidak berdasar karena sampai kapanpun Maria tidak pernah disetarakan dengan Yesus. Justru kita menghormati Bunda Maria karena ia sudah bersedia berkata ‘YA’ terhadap tawaran dari Allah untuk melahirkan Sang Juruselamat ke dunia. Jadi, penghormatan terhadap Maria tidak bisa dilepaspisahkan dari kesediaannya dalam melahirkan Yesus, Tuhan kita.
Sejak awal, Gereja Katolik sudah menyadari pentingnya peran Maria; tapi tidak pernah menyamakan Maria dengan Tuhan Yesus. Karenanya, bagi Gereja Katolik, tindakan penghormatan terhadap Bunda Maria sama sekali tidak menduakan Tuhan.
Pencetus gerakan reformasi, Martin Luther, bahkan tidak mempersoalkan penghormatan Gereja Katolik terhadap Bunda Maria. Ia justru ikut memberikan kata-kata pujian terhadap sosok Maria. Ia berkata: “Apa persamaan dari para dayang istana, bangsawan, raja, ratu, pangeran dan Kaisar dunia bila dibandingkan dengan Perawan Maria, Putri Daud. Ia adalah Bunda dari Allah kita, Pribadi yang amat agung di bumi ini. Setelah Kristus, dialah permata terindah dalam kekristenan. Sang Ratu yang ditinggikan di atas segala kebijaksanaan, kesucian dan keagungan ini tak akan pernah cukup dipuji”.
Ia melanjutkan: “Sungguh pantaslah apabila sebuah kereta kencana emas mengiringi dia, dengan ditarik oleh empat ribu kuda, dengan abdi utusan yang meniup sangkakala serta dengan lantang ber¬seru: “Lihatlah dia, Bunda Yang Agung, Putri Umat Manusia” tetapi yang ada hanyalah: seorang Perawan berjalan kaki dalam sebuah perjalanan jauh untuk mengunjungi Elisabet. Perjalanan ini ditempuhnya walaupun saat itu ia sudah menjadi Bunda Allah. Bukan merupakan sebuah keajaiban apabila kerendahan hatinya dapat membuat gunung-gunung melonjak menari sukacita”.
Lalu, Martin Luther mengutip Nyanyian Pujian Maria untuk menunjukkan betapa Maria layak dihormati. “Melalui perkataannya sendiri dalam Magnificat (Luk. 1:46-55), dan melalui pengalamannya, Maria mengajar kita bagaimana caranya mengenal, mengasihi dan memuji Allah. Sejak awal, umat manusia telah menyimpulkan segala kemuliaan yang diberikan kepada Maria di dalam frasa: ‘Bunda Allah’. Sekalipun manusia mempunyai lidah sebanyak daun di pohon, rumput di padang, bintang di langit, atau pasir di laut, tak seorangpun mampu mengatakan hal yang lebih agung kepada Maria atau mengenai Maria. Perlu direnungkan dalam hati apakah artinya menjadi seorang Bunda Allah”.
Referensi:
1. William Johnston SJ. 1987. Mistik Kristiani. Sang Rusa Terluka. Yogyakarta: Kanisius.
2. Frans Harjawiyata OCSO. 1993. Kehidupan Devosional dalam Gereja-gereja Timur. Seri Sumber Hidup 16. Yogyakarta: Kanisius.
3. Alexander Roman. Martin Luther on the Mother of God; dalam http://orrologion.blogspot.com/2006/01/martin-luther-on-mother-of-god.html.



Saya Katolik, setuju dengan pengantar di atas, pertanyaan, tulisan Marthin Luther itu, apakah setelah dia keluar dari Katolik atau sebelumnya?
Martin Luther baik sebelum dan setelah keluar dari GK tidak pernah mengkritik ajaran tentang Maria dalam Gereja Katolik. Bahkan tulisan-tulisannya itu tetap beredar tanpa ada tindakan untuk memusnahkannya.
Marthin luther tdk prnh menyatakan diri keluar dari
gereja katolik bahkan sampai akhir hayatnya.