0.6 C
New York
Monday, January 12, 2026

Covid-19 Mewabah, di manakah Tuhan? — Sebuah Refleksi di tengah Pandemi

Dunia dibuat heboh dengan kemunculan virus baru yang diberi nama Corona Virus Disease 2019 atau yang disingkat Covid-19. Kemunculannya pertama kali di Wuhan telah menggegerkan dunia, sebab belum ada vaksin untuk menangkalnya. Tidak ada yang tahu pasti penyebab munculnya virus ini dan kapan berakhirnya. Semua masih dalam tanda tanya besar.

Kini, virus mematikan ini sudah mewabah ke hampir semua negara di dunia; dan telah menelan banyak korban jiwa. Banyak orang kemudian bertanya: “Apakah ini hukuman dari Tuhan? Di manakah Tuhan saat-saat seperti ini?”

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Sebagai insan yang beriman, kita percaya bahwa Tuhan tak mungkin membinasakan ciptaan-Nya sendiri; Ia juga tak pernah menghukum orang yang tidak bersalah.

Maka, Covid-19 pasti bukanlah hukuman atas salah dan dosa manusia. Ini bukan tulah atau laknat, melainkan hanyalah ujian kecil yang harus kita hadapi.

Karena ini ujian, maka kita hendaknya bersabar. Untuk itu, kita perlu belajar dari salah seorang tokoh dalam cerita Kitab Suci, yang dihormati sebagai teladan kesabaran dalam penderitaan. Nama tokoh tersebut adalah Ayub.

Ayub diuji oleh Tuhan. Mula-mula, bersama tiga pendampingnya, ia dengan berani mempertanyakan ketetapan Tuhan. Ia gusar terhadap Tuhan.

Penyusun kisah Ayub memang tidak mengingkari hak untuk bertanya, tetapi menyarankan bahwa akal semata tidak memadai untuk membahas persoalan yang pelik.

Tuhan memperlihatkan diri kepada Ayub dalam suatu penampakan, mengutarakan keluarbiasaan dunia yang telah diciptakan-Nya: bagaimana mungkin seorang makhluk kecil yang lemah, seperti Ayub, berani menentang Tuhan yang transenden?

Ayub pun menyerah. Ia pasrah kepada Tuhan. Penulis kisah Ayub mencatat bahwa dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Tuhan berbuat yang kurang patut.

Ayub mengambil hikmah dari ujian yang dialaminya. Dan, karena ia telah memikul penderitaan yang berat itu dengan sabar, Tuhan memberkatinya dengan memulihkan kembali kekayaannya di masa lalu.

Luar biasa karakter dari tokoh Ayub ini. Barangkali kita perlu belajar darinya untuk menghadapi wabah Covid-19 ini. Ya, kita harus bisa mengambil hikmah dari peristiwa yang serba sulit akibat wabah ini.

Dengan kemunculan wabah ini, kita menjadi sadar bahwa hidup kita ada di tangan Tuhan. Secanggih apapun teknologi yang kita miliki, tetap tak sebanding dengan kuasa Tuhan. Bayangkan saja, gara-gara wabah ini, rencana Nasa untuk kembali mengirimkan astronot ke bulan ditunda.

Kayaknya – dengan wabah ini – Tuhan juga sedang mengajarkan kita untuk tidak mengabaikan hal-hal yang selama ini kita anggap sepele.

Pemerintah menyarankan langkah-langkah antisipatif dalam menghindari penularan Covid-19. Caranya ternyata sederhana saja: jaga jarak aman, jangan ngerumpi, cuci tangan pakai sabun, dan di rumah aja.

Hal seperti ini kelihatannya sepele, tapi rupanya masih sulit dilakukan. Ternyata, selama ini kita sudah mengabaikan hal-hal yang sepele ini. Karenanya, dengan kemunculan Covid-19 ini kita diajarkan kembali tentang hal-hal yang paling mendasar ini.

Selama ini, dunia sibuk; bahkan sangat sibuk. Hiruk pikuk orang bekerja, siang maupun malam. Tapi sekarang, semua sudah berubah. Seakan Tuhan ingin mengatakan kepada kita bahwa tiba saatnya bagi kita untuk beristirahat sejenak; dan kembali memusatkan perhatian kita pada-Nya.

Dalam situasi sulit seperti sekarang ini, kita tak boleh mengkhianati Tuhan seperti yang dilakukan oleh Yudas Iskariot; juga tak boleh menyangkal Tuhan seperti Petrus. Sebaliknya, kita harus setia berada di bawah kaki salib Tuhan seperti Bunda Maria.

Apapun situasi yang kita hadapi saat ini, sesulit apapun itu, setialah. Bersabarlah seperti Ayub, sebab dalam setiap peristiwa hidup, pasti ada hikmahnya. Kita percaya rencana dan rancangan Tuhan selalu indah pada waktunya.

Maka, jangan pernah bertanya: “Di manakah Tuhan saat-saat seperti ini?” Sebab Ia tidak pernah absen dari hidup kita. Ia selalu ada di dalam diri kita. Tuhan hadir dalam nafas kita.  

Ya, Kitab Kejadian bab 2 memberitahu kita tentang dari mana sebenarnya kita ini berasal. Dikatakan dengan jelas bahwa (tubuh) manusia dibentuk oleh Tuhan dari debu tanah. Kemudian, Ia menghembuskan nafas hidup ke dalam hidung manusia yang baru saja dibentuk-Nya itu; sehingga manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

“TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej. 2:7).

Kutipan ayat di atas mengandung pesan yang sangat kuat, yaitu bahwa hidup kita sangat bergantung pada Tuhan. Tanpa nafas yang ditiup-Nya, kita tentu tak bisa hidup. Atau, jika saja nafas itu diambil kembali oleh Tuhan, maka kita akan kembali menjadi tanah (baca: mati).

Dengan kata lain, kita bukan siapa-siapa. Kita hanyalah butiran debu yang dibentuk dan diberi nafas kehidupan oleh Tuhan. Maka, pesan bagi kita adalah: pertama, selalu bersyukur kepada Tuhan; dan kedua, jangan sombong.

Ketika manusia mati, tubuhnya akan kembali menjadi tanah. Namun, tidak demikian dengan nafasnya. Nafas hidup yang dihembuskan ke dalam hidung manusia tidak berasal dari tanah melainkan dari Tuhan, sehingga ketika manusia mati, nafas itu akan kembali kepada Tuhan, bukan menjadi tanah.

“Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup. Jikalau Ia menarik kembali Roh-Nya, dan mengembalikan nafas-Nya pada-Nya, maka binasalah bersama-sama segala yang hidup, dan kembalilah manusia kepada debu” (Ayb. 33:4; 34:14-15).

“… dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya” (Pkh. 12:7).

Masih dalam Kitab Kejadian dikatakan juga bahwa Tuhan menciptakan manusia tak seperti ciptaan lainnya. Jika ciptaan lain hanya sebatas ‘baik adanya’, tidaklah demikian dengan manusia. Manusia disebut sebagai ciptaan yang ‘sungguh amat baik’ (Kej. 1:31).

Tentu penyebutan ini bukan sekedar permainan kata-kata. Dengan menyebut manusia sebagai ciptaan yang ‘sungguh amat baik’ dimaksudkan bahwa manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi dari ciptaan yang lain. Kita ini berharga. Mengapa? Sebab manusia diciptakan ‘menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka’ (Kej. 1:27).

Atas dasar itu jugalah mengapa kemudian Tuhan memberikan tanggung jawab kepada manusia untuk ‘berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi’ (Kej. 1:28).

Kita percaya bahwa Tuhan hadir dalam ciptaan-Nya, terutama manusia; sebab kita membawa wajah-Nya setiap saat. Artinya, kita mengemban tugas utama: menghadirkan wajah Tuhan di muka bumi melalui tindak-tanduk hidup kita. Maka, dalam situasi sulit seperti yang kita alami sekarang ini, hadirkanlah wajah Tuhan kepada sesama, dengan cara berbagi.

Tuhan juga hadir dalam alam semesta, teristimewa di setiap peristiwa hidup kita. Namun perlu diingat bahwa Ia tidak selalu hadir dalam peristiwa yang dahsyat dan memukau, sebagaimana dibayangkan oleh banyak orang. Boleh jadi, Ia hadir dalam peristiwa biasa, yaitu peristiwa yang kadang-kadang luput dari perhatian kita. Lihat saja apa yang dialami oleh Elia di gunung Horeb (Sinai) – 1 Raj. 19:11-13:

Tuhan berfirman kepada Elia di gunung Horeb: “Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!” Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu. Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.

Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?”

Angin, gempa, dan api, adalah gambaran tentang peristiwa dahsyat. Tetapi, penulis Kitab 1 Raj., secara berulangkali menyebutkan bahwa ternyata tidak ada TUHAN dalam angin, gempa, maupun api itu. Tuhan justru hadir dalam angin sepoi-sepoi basa.

Perikop ini mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan tidak selalu hadir dalam peristiwa dahsyat. Ia bisa jadi hadir dalam peristiwa biasa; dan saking biasanya, kadang-kadang kehadiran-Nya luput dari perhatian kita.

Hanya sedikit orang yang mampu merasakan kehadiran Tuhan dalam peristiwa biasa. Di sinilah kita perlu belajar dari apa yang dialami oleh Elia di gunung Horeb.

Memang, sulit sekali bagi kita untuk merasakan dan mengalami kehadiran Tuhan dalam peristiwa biasa. Apalagi, jika kehadiran-Nya itu bukan lagi dalam peristiwa biasa tapi boleh dikatakan peristiwa super biasa, seperti udara pernafasan. Bisakah kita merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap nafas hidup kita?

Jarang sekali ada orang yang menyadari bahwa Tuhan hadir dalam setiap nafasnya. Akibatnya, kita melihat nafas hidup kita secara taken for granted, tanpa pernah mensyukurinya.

Keluar masuknya udara pernafasan hampir pasti luput dari perhatian kita. Tidakkah kita sadari bahwa nafas kita berasal dari Tuhan? Dia sendirilah yang meniupkan nafas itu ke dalam hidung kita sehingga kita menjadi makhluk yang hidup.

Maka, mestinya, setiap menghembuskan nafas, kita menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Nafas adalah tanda paling nyata dari kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Karenanya, mengikuti apa yang tertulis di dalam Kitab Mazmur 150:6, kita pun harus berkata:

“Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!”

Covid-19 melumpuhkan segalanya. Kita akui itu. Tapi, bukan berarti tidak ada alasan bagi kita untuk tetap bersyukur kepada Tuhan. Kita selalu mempunyai alasan untuk bersyukur. Hal yang paling mendasar yang patut kita syukuri adalah nafas hidup kita.

Sekalipun situasi kita serba sulit, paling tidak kita masih tetap diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bernafas; sebagai tanda paling mendasar bahwa kita masih hidup.

Melalui hembusan nafas kita, Tuhan hadir dalam hidup kita. Ia selalu ada untuk kita dan memberi kita hidup. Karenanya, sesulit apapun keadaan kita sekarang, biarlah kita belajar dari Ayub untuk tetap sabar, tidak berbuat dosa, dan tidak menuduh Tuhan berbuat yang kurang patut.

Sebaliknya, baiklah kita senantiasa menaruh rasa syukur kepada Tuhan dan tidak henti-hentinya memuji Dia dengan berkata: “Terpujilah nama Tuhan”.

Refleksi ini dibuat di Uren, Pegunungan Meratus, pada Pesta St. Markus, penulis Injil, tanggal 25 April 2020.

avatar
Jufri Kano, CICM
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Artikel Terkini