Bersukacitalah dalam Tuhan: Renungan Minggu Gaudete, 13 Desember 2020 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 61:1-2a, 10-11; Bacaan II: 1 Tes. 5:16-24; Injil: Yoh. 1:6-8, 19-28
[postingan number=3 tag= ‘adven’]
Dengan Minggu Sukacita atau Minggu Gaudete ini, kita diajak agar senantiasa bersukacita, bergembira, dan berbahagia. Mengapa? Karena yang kita tunggu hampir tiba; dan Dia yang kita tunggu-tunggu itu tidak lain adalah Tuhan sendiri. Dialah satu-satunya sumber dan alasan kita bersukacita.
Sukacita hanya ada di dalam Tuhan. Itu pasti. Di luar Tuhan tidak ada sukacita. Di luar Tuhan hanya ada kesenangan-kesenanga. Tidak seperti sukacita yang sifatnya kekal abadi, kesenangan bersifat serba terbatas dan bertahan sebentar saja.
Nabi Yesaya, dalam bacaan pertama hari ini, memberi kesaksian tentang sukacita itu. Dia bilang “Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya” (Yes. 61:10).
Bukan hanya dari Kitab Yesaya. Dari Mazmur Tanggapan juga kita mendengar kalimat: “Bahagia Kuterikat pada Yahwe”. Dengan demikian, sukacita dan kebahagiaan hanya ada dan berasal dari Allah. Maka, jangan mencarinya di tempat lain.
Orang yang diliputi oleh perasaan sukacita hampir pasti akan bersemangat. Sebaliknya, ketiadaan sukacita membuat orang menjadi loyo dan tidak bersemangat.
Menantikan sesuatu yang baik mesti dengan sikap yang penuh semangat, bukan loyo. Menantikan sesuatu yang baik mesti dengan penuh pengharapan, bukan dengan kelesuan. Karena itu, menunggu kedatangan Tuhan, sebagaimana yang kita jalani dalam Masa Adven ini haruslah dengan perasaan sukacita.
Boleh jadi Natal tahun ini tidak akan sama meriahnya seperti Natal tahun-tahun sebelumnya, sebagai dampak dari penyebaran Covid-19, tapi jangan sampai hal itu membuat sukacita kita berkurang. Sebab, kita bersukacita dalam Tuhan, bukan dalam hal-hal yang lain.
Yohanes Pembaptis, dalam Injil hari ini, dihujani dengan banyak pertanyaan. Tapi ia menjawab dengan singkat, padat, dan jelas: bukan aku tapi Dia. Kita bersukacita dalam Yesus, kita berbahagia karena Dia. Dialah jawaban dari setiap kerinduan, harapan, kegelisahan kita.
Yang terpenting sekarang ini kita ingat pesan Paulus, sebagaimana yang kita dengarkan dalam bacaan kedua hari ini. Paulus menulis: “Saudara-saudara, bersukacitalah senantiasa! Janganlah padamkan Roh”. Artinya, jangan sampai semangat kita hilang. Tapi, jangan lupa, tetaplah berdoa dan bersyukur. —JK-IND—


