0.6 C
New York
Monday, January 12, 2026

Kegelisahan, Ketidakberdayaan, dan Pemenuhan Janji Allah – Renungan Masa Adven

Kegelisahan, Ketidakberdayaan, dan Pemenuhan Janji Allah: Renungan Masa Adven, 02 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 29:17-24; Injil: Mat. 9:27-31

Kantor Statistik Nasional (ONS) pada Selasa (29/11) merilis sensus terbarunya. Data dari ONS itu menunjukkan bahwa penduduk beragama Kristen di Inggris dan Wales turun di bawah 50 persen sejak tahun 2001; sementara jawaban kedua yang paling banyak dipilih adalah tidak beragama atau ateis.

Dengan data yang dirilis oleh ONS ini kita jadi tahu bahwa di luar sana telah terjadi krisis iman. Mengenai apa penyebab utamanya, kita tidak tahu pasti. Namun, barangkali adalah karena adanya pengalaman kegelisahan dan ketidakberdayaan yang pada akhirnya membuat mereka ragu dengan keberadaan, kebaikan, dan kuasa Tuhan.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Pengalaman kegelisahan dan ketidakberdayaan semacam itu tentu bukan hal yang baru-baru ini terjadi. Hampir pasti semua orang, di sepanjang sejarah manusia, pernah mengalaminya, termasuk mereka yang diceritakan dalam Nubuat Yesaya pada bacaan pertama hari ini. Untungnya, Yesaya hadir dan memberikan harapan kepada mereka bahwa Allah akan membuat orang-orang tuli mendengar, orang-orang buta melihat, orang-orang yang sengsara bersukaria, orang-orang miskin bersorak-sorak, orang-orang yang sesat pikiran mendapat pengertian, dan orang-orang yang bersungut-sungut menerima pengajaran. Intinya, Allah tidak akan membiarkan umat-Nya terus-menerus hidup dalam penderitaan.

Harapan yang diutarakan oleh Nabi Yesaya itu merupakan janji Allah kepada semua orang. Dan janji itu terpenuhi di dalam diri Yesus Kristus. Injil Matius hari ini bercerita tentang dua orang buta. Tentulah kebutaan itu membuat mereka gelisah dan tak berdaya, sebab mereka tidak bisa melihat seperti orang-orang pada umumnya. Makanya, ketika kedua orang buta itu tahu bahwa Yesus ada di sekitar mereka, mereka mengikuti Dia sambil berseru-seru: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.”

Cerita dari Injil Matius ini berkisar seputar pertanyaan Yesus ‘percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?’ dan jawaban positif oleh kedua orang buta itu ‘Ya Tuhan, kami percaya’. Sebab itu, tekanan dari cerita ini sebenarnya adalah pada pengalaman iman kedua orang buta itu. Disebut pengalaman iman karena penyembuhan itu terjadi berkat iman mereka. Ketika ingin menyembuhkan mereka, Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu” (ayat 29). Ini menandakan bahwa kepercayaan kepada Allah dalam Yesuslah yang memberikan kesembuhan bagi mereka.

Apa pesannya untuk kita? Pesannya adalah: iman atau kepercayaan kepada Allah harus menjadi pegangan kita semua. Jangan sampai kita tidak beriman. Itu fatal. Begitu juga ketika ada orang kehilangan iman, tugas kitalah untuk meyakinkan mereka bahwa janji Allah tetap berlaku; dan untuk dapat menikmati pemenuhan janji itu kita harus menjadi orang yang percaya.

avatar
Jufri Kano, CICM
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Artikel Terkini