Ragi: Renungan PW. Santo Syrilus dan Metodius, 14 Februari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kej. 6:5-8; 7:1-5.10; Injil: Mrk. 8:14-21
[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]
Ragi bukan ragi yang digunakan untuk membuat adonan roti, tetapi ragi yang dimaksud adalah perbuatan, tindakan, pikiran dan tutur kata seseorang. Jika ragi seseorang itu baik dan benar maka hidupnya akan damai dan sukacita; sebaliknya jika raginya tidak baik maka akan menghasilkan dosa. Dosa kecil dapat berkembang menjadi dosa besar bahkan menjadi malapetaka bagi manusia. Inilah yang dikisahkan dalam kisah nabi Nuh. Ketika dosa dan kejahatan manusia sudah melewati batasnya maka Allah akan menghapuskan manusia dan segala makhluk hidup yang diciptakannya. Namun, Allah tetap berbelas kasih kepada Nuh dan keluarganya karena ragi yang dihasilkan oleh Nuh adalah ragi yang baik dan benar. Maka Allah menyelematkan Nuh dan keluarganya serta binatang-binatang yang dibawa olehnya.
Dalam Injil hari ini, Yesus juga meminta para murid-Nya untuk berjaga-jaga dan awas terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes. Mengapa? Karena orang Farisi dan Herodes memiliki ragi yang jahat yakni nafsu kuasa, sehingga kuasa yang diperoleh sebagai otoritas tanpa pelayanan. Padahal kekuasaan yang sejati adalah kekuasaan yang mau melayani. Maka para murid Kristus harus memiliki ragi pelayan sejati yang mau melayani dan memberikan diri seutuhnya bagi sesama seperti yang diteladankan oleh Yesus.
Kita semua juga dipanggil dan diutus untuk memiliki ragi pelayan sejati dalam cinta kasih Kristus. Dengan begitu, kita dapat mempengaruhi dunia untuk terlibat dan saling mencintai satu sama lain. Mampukah kita melaksanakan tugas ini? Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
(P. A. L. Tereng MSF)
Mendung – Mu-Sa-Fir


