ABRAM Dipanggil Allah: dari Ur-Kasdim ke Tanah Kanaan

1
5995

Apakah Anda ingin khatam membaca Kitab Suci? Apakah Anda mau membaca Kitab Suci secara paripurna? Emang bisa? Mengapa tidak?

Selama ini kita selalu berpikir bahwa membaca dan memahami Kitab Suci itu sulit, terutama membaca dan memahami kisah dalam Perjanjian Lama. Apakah benar sulit? Saya kira TIDAK. Kisah-kisah yang ditulis di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama menarik untuk dibaca dan mudah untuk dipahami. Tidak percaya? Mari kita buktikan!

Saya ingin kali ini kita fokus pada Taurat (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan). Ada satu skenario besar yang diceritakan di dalam lima kitab ini, yaitu perjalanan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir.

Saya yakin sekali bahwa kita sudah sering mendengar kisah spektakuler mengenai peristiwa keluarnya bangsa Israel dari negeri Mesir itu. Tokoh penting yang berhasil membawa bangsa Israel keluar dari negeri Mesir itu adalah Musa. Ia dibantu oleh kakak laki-lakinya, Harun, sesuai dengan yang diperintahkan Tuhan kepadanya (Kel. 7:1-2).

TAPI, pernahkah kita bertanya: sejak kapan bangsa Israel berada di negeri Mesir? Mengapa pula mereka berada di sana? Ceritanya panjang. Tapi, kita bisa memulai jalan ceritanya dari leluhur mereka, Abraham.

Mula-mula namanya bukan Abraham, tapi Abram. Abraham berarti Bapa dari banyak bangsa. Nama ini merujuk pada Kej. 17:5 yang bunyinya: “Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa”.
Abram adalah keturunan Sem dan putra Terah. “Setelah Terah hidup tujuh puluh tahun, ia memperanakkan Abram, Nahor dan Haran” (Kej. 11:26). Dia adalah orang Ibrani. “Kemudian datanglah seorang pelarian dan menceritakan hal ini kepada Abram, orang Ibrani itu, yang tinggal dekat pohon-pohon tarbantin kepunyaan Mamre, orang Amori itu, saudara Eskol dan Aner, yakni teman-teman sekutu Abram” (Kej. 14:13.

Riwayat hidup Abram disajikan dalam Kej. 11:26-25:10, dan ringkasannya dalam Kis. 7:2-8. Ia lahir di Ur-Kasdim, Mesopotamia. Kemudian, ia dan keluarganya pergi ke Haran dan menetap di sana (Kej. 11:31). Bahkan ayahnya, Terah, meninggal di Haran. Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu” (Kej. 12:1). Negeri yang dijanjikan oleh Tuhan itu adalah tanah KANAAN – yang nantinya menjadi tanah yang dijanjikan bagi bangsa Israel.

Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Jika kita menuruti kronologi peristiwa di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa Allah berfirman ketika Abraham sudah ada di Haran. Tapi, pemaparan kisah ini akan terlihat berbeda dengan apa yang dituliskan oleh Lukas dalam Kis. 7:1-4.

Dalam Kisah Para Rasul Bab 7, ada indikasi bahwa Allah berfirman kepada Abraham ketika dia masih tinggal di Ur-Kasdim (Mesopotamia), bukan di Haran. Bagaimana kedua ‘pernyataan’ ini diharmoniskan? Tidak ada yang salah dengan kedua pernyataan tersebut. Tuhan memang berfiman kepada Abraham di Ur-Kasdim, bukan di Haran. Penyelidikan eksegesa terhadap perintah Tuhan kepada Abraham dalam Kej. 12:1-3 lebih condong menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘negerimu (‘eres) dan ‘sanak saudara’ (moledet) bukanlah Haran, melainkan Ur-Kasdim. Kata ‘eres moledet juga muncul di Kej. 11:28 yang diterjemahkan LAI dengan ‘negeri kelahiran‘. Secara umum ‘eres moledet diterjemahkan sebagai negeri dimana seseorang dilahirkan. Abraham lahir di Ur-Kasdim, bukan di Haran.

Pemanggilan Allah terhadap Abraham di Ur-Kasdim, bukan di Haran, diperkuat oleh beberapa bagian Alkitab lainnya: “Lagi firman TUHAN kepadanya: Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu” (Kej. 15:7). “Engkaulah TUHAN, Allah yang telah memilih Abram dan membawanya keluar dari Ur-Kasdim dan memberikan kepadanya nama Abraham” (Neh 9:7). Jadi, jelaslah bahwa tidak ada kontradiksi antara Kej. 11:27-12:4 dan Kis. 7:1-4. Tuhan memanggil Abram pergi keluar dari tanah kelahirannya ketika Abram masih tinggal di Ur-Kasdim, bukan sesudah Abram singgah di Haran.

Cerita berlanjut. Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya. Ia membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ (Kej. 12:4-5). Saat itu usianya 75 tahun. Ia berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem. Waktu itu orang Kanaan tinggal di negeri itu. ***

avatar
Bagi siapa saja yang tertarik untuk menjadi penulis di portal ini, silahkan menghubungi kami di alamat email yang sudah tertera. Kiranya portal ini mampu menjala setiap hati serta mampu membawa kabar baik untuk semua orang.