Allah Beranak dan Beristeri? Kamu Harus Tahu!

0
1618
Pat_Scrap / Pixabay

Sebagian orang ‘menuduh’ bahwa Tuhan orang Kristiani mempunyai anak dan isteri ‘biologis’. Bahkan pandangan tersebut telah menjadi ‘ajaran’ yang tersebar luas. Banyak orang terjebak pada ‘ajaran’ tersebut sehingga pemahaman dan pola pikir mereka salah dalam memandang iman Kristen.

Namun, pandangan tersebut merupakan pandangan keliru tentang iman Kristen yang telah terjadi selama berabad-abad. Kemungkinan kekeliruan itu terjadi karena situasi kekristenan pada masanya terutama sejak abad ke-6. Banyak aliran-aliran yang dianggap sesat oleh Gereja Katolik yang berkembang di berbagai daerah atau wilayah. Kemungkinan ajaran-ajaran dari aliran-aliran sesat ini menjadi referensi bagi pandangan masyarakat ‘tertentu’ terhadap iman Kristen. Meskipun ajaran-ajaran itu tidak dianut oleh Gereja Katolik yang mewarisi ajaran dari Yesus melalui para rasul. Lalu bagaimana kita menjelaskan tentang makna Allah Bapa, Anak Allah dan ibu Tuhan yang ada dalam iman Kristen?

Pertama, Anak Allah. Dalam Perjanjian Lama, gelar Anak Allah dipakai untuk utusan ilahi. Dengan demikian, Yesus disebut sebagai Anak Allah bukan berarti Allah mempunyai anak biologis dan isteri biologis. Menurut penginjil Yohanes, ungkapan Anak Allah mengungkapkan ‘relasi Yesus yang sangat istimewa dengan Allah’ (bdk. Yoh. 1:14, 1:34; 1:49,5:19,5:2-10,3:36,6:40,5:22,8:36,5:20,10:17,15:9,5:17,5:18-19,10:32,14:10,8:26-28,8:40,14:24,6:47, 10:15, 3:35, 10:30, 10:38, 14:10,11, 5:20, 8:47, 3:31-32, 12:27-28, 18:6).

Kedua, Sebagai Anak Allah, Yesus memiliki segala sesuatu yang bersifat ilahi yang berasal dari Bapa. Oleh sebab itu, Yesus dapat mengetahui hal-hal adikodrati. Yesus sendiri dalam setiap perkataan-Nya berbeda dengan para nabi (bdk. Yoh. 11:41-42). Gelar Anak Allah sesungguhnya mau menunjukkan bahwa Yesus adalah Dia Yang Ilahi.

Ketiga, ibu Tuhan. Kata ibu Tuhan dapat kita temukan dalam Alkitab. “Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana (Luk. 1:41-45).” Elisabet atas dorongan Roh Kudus memanggil Bunda Maria sebagai ibu Tuhan bukan dalam arti Bunda Maria mengandung karena hubungan biologis dengan seorang laki-laki atau berhubungan biologis dengan Allah. Seperti kita ketahui Bunda Maria mengandung dari Roh Kudus (bdk. Mat 1:18-24). Oleh sebab itu sebutan ‘ibu Tuhan’ bukan berarti Allah mempunyai isteri biologis. Sebutan ibu Tuhan hendak menegaskan bahwa Yesus yang dikandung oleh Bunda Maria adalah Dia Yang Ilahi dan keilahian-Nya utuh, baik saat dikandung maupun ketika ia telah dilahirkan.

Keempat, Allah Bapa. Sebutan Allah Bapa bukan berarti bahwa Allah seorang Bapak biologis, yang mempunyai isteri dan anak. Umat beriman memanggil Allah sebagai Bapa menunjukkan ‘relasi yang dekat dan spesial’ seperti atau seumpama seorang anak kepada Bapaknya (Bapak biologis). Lebih dari itu, Yesus sendiri memberikan contoh kepada pengikutnya untuk memanggil Allah dengan berseru ‘Ya Abba, ya Bapa’ (bdk. Markus 14:36). Rasul Paulus menegaskan kembali ajaran Yesus tersebut dalam suratnya kepada umat di Roma “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (bdk. Roma 8:14-15).**

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289