Antara Bercanda atau Berbohong: Ngaku Lulusan Universitas Vatikan dan Injil Vatikan School

1
1823

Viral lagi, viral lagi. Lagi-lagi viral. Kira-kira begitu reaksi pertama kita ketika menonton video berdurasi pendek yang belakangan ini bertebaran di media sosial. Video tersebut memperlihatkan seseorang yang mengaku anak kardinal lulusan Injil Vatikan School.

Bagi mereka yang paham mengenai institusi Gereja Katolik, pengakuan seperti yang dilakukan oleh orang dalam video itu hanya akan dianggap sebagai sebuah joke, lelucon, lawakan, dan sederetnya. Sangatlah keterlaluan jika orang yang tahu betul Gereja Katolik percaya ceramah seperti ini. Orang Katolik tentu tidak pernah mengganggap serius hal-hal seperti itu. Jika dianggap serisus, itu namanya keterlaluan.

Tapi, jangan salah, ceramah yang berbau kebohongan seperti itu justru laris manis di masyarakat. Jangan disangka bahwa tidak ada orang yang percaya terhadap isi ceramah seperti itu. Ingat, kata orang-orang, di Indonesia ini, ngaku Tuhan saja masih ada yang percaya, apalagi jika hanya ngaku anak kardinal, ngaku lulusan Universitas Vatikan, atau ngaku lulusan Injil Vatikan School.

Dari isi pengakuannya, kita tahu bahwa apa yang disampaikan oleh orang dalam video tersebut hanyalah sebuah  joke, lelucon, atau apalah namanyanya. Sayangnya, tempat, situasi, dan cara penyampaiannya saja yang terkesan serius. Jika bukan joke atau lelucon, itu berarti bahwa orang tersebut sedang berbohong atau mempertontonkan kebodohannya. Atau bisa juga dua-duanya.

Si penceramah mungkin saja tahu bahwa kebohongan yang diulang-ulang, lama-lama akan diterima sebagai suatu kebenaran.  Jika itu yang dipikirkannya, maka yang disayangkan sebenarnya adalah para pendengarnya.

Saya hanya membayangkan apa kira-kira yang dipikirkan oleh para peserta yang hadir ketika penceramahnya berbicara seperti ini? Apa wow? Hebat? Luar biasa? Atau justru, masa sih?

Di tengah teknologi komunikasi yang makin canggih saat ini, masih saja ada orang yang berani berbohong. Padahal, jika peserta yang hadir itu mau, mereka bisa melacak informasi yang disampaikan oleh si penceramah di internet. Itu kalau mereka mau. Sayangnya, kebanyakan orang biasanya menelan mentah-mentah informasi yang berbau kebohongan seperti itu.

Pembohong yang cerdas, jika ada, mestinya mempelajari dulu seluk-beluk dan tata cara penggunaan istilah dalam Gereja Katolik sebelum ngaku-ngaku macam-macam itu. Ya, Gereja Katolik mempunyai sederet istilah teknis yang tidak bisa secara sembarangan digunakan. Ngaku-ngaku mantan Katolik dan apalagi mantan pastor, suster, dan sebagainya, tidak gampang. Kecuali jika memang beneran. Tapi, jika tujuannya hanya untuk berbohong, lebih baik niatnya diurungkan daripada kelihatan kurang pengetahuannya tentang Gereja Katolik.

Jika saja penggunakaan istilahnya benar, barangkali ada juga orang Katolik yang percaya nantinya, meski tidak semudah itu. Sebagai contoh, jika ada yang ngaku mantan imam, maka pertanyaannya: dari ordo mana atau keuskupan mana? Ngaku mantan Katolik: dari keuskupan mana, paroki mana. Semua data pasti ada. Tinggal ditelusuri benar tidaknya.

Tapi, yang terjadi baru-baru ini, tanpa perlu ditelusuri, kita langsung tahu bahwa itu bohong. Misalnya, yang ngaku menempuh pendidikan calon imam hanya dalam tempo singkat. Yang jelas, dalam pendidian calon imam, semua jenjang harus dilalui, tidak ada namanya lompat sana lompat sini.

Ada juga yang mengaku menempuh ‘jenjang’ misdinar, prodiakon, tiba-tiba ditahbiskan menjadi imam. Barangkali dikiranya misdinar dan prodiakon adalah jenjang yang harus ditempuh untuk menuju imamat. Padahal, baik Misdinar maupun Prodiakon, bukanlah tahapan menuju imamat. Misdinar adalah pelayan altar, dan prodiakon adalah pelayan komuni. Mereka membantu imam dalam Misa. Misdinar diambil dari anak-anak remaja yang sudah komuni, prodiakon diambil dari orang-orang yang sudah berkeluarga.

Yang sekarang ini, ngaku anak kardinal. Artinya dia tidak paham aturan selibat dalam Gereja Katolik. Dalam Gereja Katolik, yang namanya bruder, suster, diakon, imam, uskup, kardinal, paus, jelas tidak menikah. Jika dari antara yang disebutkan itu ada yang memilih menikah, mereka harus tanggalkan jubahnya terlebih dahulu. Dan saat itu juga, mereka bukan lagi bagian dari kelompok berjubah.

Belum lagi ada yang ngaku lulusan Universitas Vatikan yang sampai hari ini dan entah sampai kapanpun perguruan tinggi yang dimaksud belum pernah eksis. Begitu juga yang mengaku lulusan Injil Vatikan School, yang lagi-lagi sekolah yang disebutkan tidak pernah eksis.

Saya memang belum pernah ke Vatikan, tapi dari cerita orang-orang, dan pengetahuan yang saya dapatkan selama ini, belum pernah ada nama sekolah atau kampus seperti yang disebutkan itu di Vatikan. Kecuali jika nanti dua orang itu mendirikan dua kampus itu di sana, setidaknya dalam mimpi-mimpi dan khayalan mereka.

Jika mereka mau, setiap kali mereka menyebutkan institusi-institusi fiktif itu, mereka harusnya bilang: saya anak kardinal, saya lulusan Universitas Vatikan, saya lulusan Injil Vatikan School, ‘tapi bohong’; supaya pendengar tidak menganggapnya serius.

Sebetulnya, di sini, yang dirugikan bukan institusi yang disebutkan dalam ceramah, tapi para pendengarnya. Kita yang Katolik paling senyum dan ketawa saja karena pengakuan orang-orang itu memang pantas untuk dianggap lucu dan kocak.

Apa tujuan di balik semua ini? Apakah demi mendapatkan popularitas secara cepat? Jika iya, mengapa harus melibatkan agama lain? Tidakkah lebih baik jika cukup menunjukkan pengetahuan yang mumpuni tentang agamanya sendiri, sehingga para pendengar bisa terkesima, tertarik, dan ingin mengikuti ceramahnya terus? Daripada ngaku-ngaku sembarangan tapi bohong dan salah?

avatar
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.