Apa Kelebihan Orang Beriman dari Humanis?

0
324

Jika kamu berbuat dengan baik kepada orang yang melakukan dengan baik, apakah jasamu?”

Apa maknanya? Seluruh umat Katolik mendengar pernyataan ini, pada hari ini.

Inilah salah satu pernyataan Yesus dalam injil menurut Lukas 6: 27-38. 1) Kasihanilah musuhmu, 2) berdoalah untuk mereka yang mengutukmu, 3) mintalah terima kasih kepada orang yang membencimu, 4) berilah bajumu jika orang lain meminta jubahmu, 5) berilah pinjaman tolong minta bantuan 6) jika pipi kirimu di tampar, tolong juga pipi kananmu.

Nasehat dan revisi ini, sebaiknya hal yang mudah diselesaikan. Ini merupakan pertimbangan yang mencungkir balik hal-hal kodrat dalam kehidupan manusia. Boro-boro mendoakan orang yang membenci kita, tetangga dan bahkan keluarga kita sendiri yang baik saja jarang kita lakukanakan. Mau minta tolong untuk orang yang membenci kita, sementara kita sendiri berkekurangan, lalu kita minta tolong rejeki terus untuk kita saja. Inilah realitas hidup kita.

Mengasihi musuh, mendoakan dan minta berkat tidak lah mudah. Ya sangat sulit. Bahkan pengajaran ini dianggap idiealisme dan tidak merujuk pada kenyataan oleh orang lain.

Menarik juga untuk kita cermati baik-baik. Apa sebenarnya maksud pengajaran ini. Kalau kita sedikit menyibak realitas hidup bermasyarakat dan politik kita, apa yang kita rasakan? Apa yang kita lihat?

Agama di ruang Publik

Iman mengandaikan beragama. Kita melihat bahwa justru hidup beragama kurang konektif dalam membangun kedamaian, kesamaan derajat, dan kebebasan hak-hak fundamental manusia di negeri ini.

Seantero Indonesia 100% warganya beragama. Rumah-rumah ibadah bertebaran, tetapi bagaimana relevansinya dalam kehidupan sosial, bernegara dan bermasyarakat? Bagaimana menjelaskan relasi beriman dengan sikap intoleransi, penyebaran kebencian, dan berbagai tindakan kejahatan lainnya yang terjadi di ruang publik?

Kita seperti hidup dalam sekat identitas dan menaruh curiga untuk membaur satu dengan yang lain. Kita takut untuk memperjuangkan kebenaran dan kebebasan, karena hidup beragama seakan membatasi kebebasan manusia untuk menjunjung tinggi kemanusiaan.

Sedangkan disisi lain, banyak orang yang tidak mencatut namanya dalam agama tertentu, menunjukan sikap jauh lebih baik memperlakukan apa yang disebut menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Jauh lebih ringan tangan menolong sesama. Beberapa pejuang kemanusiaan, dan pendonor dana demi kemanusiaan di dunia ini adalah mereka yang tidak mencatut nama agama dalam KTP mereka.

Jadi apakah mungkin berbuat baik tanpa perlu beragama? Jawabannya ialah mungkin dan nyata. Itulah yang namanya kemanusiaan. Ekstrim dari itu adalah humanisme. Lalu bagaimana dengan orang beriman?

Iman dan humanisme

Coba dibayangkan, pernyataan Yesus di awal tulisan ini, sungguh amat jelas amanatnya. Kalau orang beriman tidak menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, untuk apa beriman? Kalau kita juga hanya sebatas berbuat baik seperti kaum humanisme, lalu apa bedanya kita sebagai orang beriman?

Humanisme adalah paham yang mendewa-dewakan kemanusiaan. Kemanusiaan adalah realitas mutlak atau bisa dikatakan hidup itu mengekal dalam kemanusiaan.

Humanisme merupakan produksi dari rasionalitas. Kesadaran manusia sebagai puncak dari tatanan kosmik. Prinsip seperti ini dicetuskan oleh Descartes dan kemudian menjadi prinsip moral dalam Imanuel Kant. Kelompok eksistensial menyuarakan dengan makin kencang beserta dengan penghayatan yang ekstrim terhadapa humanisme.

Sekali lagi, bagaimana dengan kita orang beriman?. Cukup ditertawakan jika kita yang beriman lebih rendah sikapnya pada penghargaan akan nilai kemanusiaan, karena humanisme saja yang mentuhankan kemanusiaan sudah melakukannya dengan baik.

Inilah dilemanya sekaligus benang merah dari arti beriman menurut pernyataan Yesus di atas. Bahwa humanisme tidak cukup bagi seorang beriman. Orang beriman harus menyebrangi humanisme. Sikap menyeberangi humanisme inilah yang disebut orang memeluk iman.

Iman melampaui apa yang diukur baik dan wajar oleh humanisme. Inilah yang dituntut untuk seorang beriman. Tuntutan itu sangat berat. Maka pernyataan Yesus di atas merupakan salib untuk orang beriman. Kalau orang humanis didorong oleh prinsip bahwa kebaikan itu produk manusia, tidak dengan orang beriman.

Cara pandang orang beriman bahwa kebaikan manusia bukan semata mengekal dan bersumber dari manusia. Kebaikan itu bersumber dari Allah. Kalau kebaikan berpusat pada manusia maka yang terjadi adalah mentuhankan manusia. Manusia menjadi pusat dan ukuran kebaikan. Humanisme antroposentris ini sebagai biang kerok kerusakan lingkungan hidup.

Beriman berarti hidup dalam resiko. Resiko untuk mencintai melampaui ukuran manusia. Beriman berarti siap rugi karena memberi tanpa pamrih. Beriman berarti mendoakan musuh dan itu berat. Beriman berarti mempersembahkan hidup dan bahkan siap kehilangan hidup kita sendiri.

Yesus tidak mengajar dengan kata-kata. Ia mengajar dengan melanjutkan. Iman itu adalah Salib-Nya, Pengorbanan-Nya. Ya Tuhan yang mendoakan mereka yang menyalibkanNya. Tuhan yang menjadi manusia dan hidup melampaui ukuran humanisme, melampaui Tuhan yang kita imani?

Jadi apakah anda orang iman? Apakah Anda setuju? Apakah Anda berdoa untuk yang mengutuk dan menghakimu? Apakah meminta izin untuk orang yang mencacimu? Apakah menerima memberi pinjaman tanpa balasan?

Itulah beriman. Iman itu berat. Iman itu salib. Karena itu kita tidak dapat mempertimbangkan sepele iman kita. Karena itu juga, iman adalah tanggung jawab dan kualitas yang melampaui sikap manusia. Beriman berarti tidak hanya berhenti menjadi orang biasa dan berbicara tentang baik. Kita dituntut lebih dari itu yaitu pengorbanan. Iman adalah epik dan heroisme yang bersumber dari Allah, melebihi humanisme.

Ya Tuhan, sabda-Mu berat. Tambahkanlah iman kami dan ajarlah kami sikap rendah hati.

avatar
Anak kampung suka mancing. Kalau dipancing pasti dikencing. Kalo sudah dikencing pasti ketawa. Kena kerjain loh!