Orang Katolik Makan ‘Tubuh’ dan Minum ‘Darah’ Yesus: Apakah Orang Katolik Kanibal?

0
1768
Gambar ilustrasi oleh congerdesign / Pixabay

Banyak kali orang-orang non-Katolik mengira bahwa kita orang Katolik adalah kanibal. Alasannya jelas: yaitu ajakan Yesus sendiri sebagaimana tertulis dalam Injil Yoh. 6:51-58, yaitu untuk ‘memakan daging-Nya dan meminum darah-Nya’.

Dalam bacaan Injil tersebut di atas, Yesus berkata: “Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh. 6:51).

Mendengar perkataan Yesus itu, orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan” (Yoh. 6:52). Jadi, jika sekarang ada orang non-Katolik mengira bahwa kita orang Katolik adalah orang kanibal, itu bukan perkara baru. Orang Yahudi dalam cerita Injil  pun bertengkar karena mereka juga berpikir demikian.

Dalam Injil, Yesus mula-mula menyebut diri-Nya sebagai roti yang turun dari surga. Orang-orang Yahudi belum mengerti perkataan Yesus itu. Mereka berpikir bahwa yang dimaksudkan oleh Yesus adalah roti bisa; sebab mereka sudah pernah melihat Dia menggandakan roti. Makanya, Ia mempertegas pernyataan-Nya dengan berkata: “Roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh. 6:51).

Yesus sampai beberapa kali berkata kepada para pendengar-Nya bahwa mereka harus makan daging-Nya. “Tubuhku benar-benar makanan dan darahku benar-benar minuman”.

Pernyataan Yesus itu menciptakan skandal di antara orang-orang Yahudi. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana mereka memakan tubuh dan meminum darah manusia. Mereka tidak paham sedikit pun terhadap apa yang dikatakan oleh Yesus. Mereka menangkap setiap perkataan Yesus secara harafiah. Bahwasanya Yesus mengajak mereka untuk makan daging-Nya dan minum darah-Nya. Titik. Mereka tidak mampu berpikir lebih jauh dari itu.

Kalau kita mengambil posisi sebagai orang Yahudi yang mendengarkan Yesus pada saat itu, mungkin kita juga tidak akan mengerti perkataan Yesus. Tapi Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Efesus (Ef. 5:15-20), meminta kita supaya berusaha mengerti kehendak Tuhan, termasuk juga mengerti perkataan-perkataan Tuhan di dalam Kitab Suci. Paulus menambahkan, “Pergunakanlah waktu yang ada”.

Untunglah, kita orang Katolik cukup memahami perkataan Yesus pada Injil Yohanes itu, yaitu bahwa apa yang dimaksudkan oleh Yesus di dalam pernyataan-Nya itu terkait erat dengan peristiwa Malam Perjamuan Terakhir, yaitu saat di mana Ia menetapkan Ekaristi bagi kita.

Dalam Ekaristi, kita tidak hanya mengenang peristiwa Malam Perjamuan Terakhir melainkan menghadirkan kembali peristiwa itu, saat di mana Yesus mendatangi dan menyapa kita satu per satu. Ia yang telah mengorbankan Diri-Nya di kayu salib, kini hadir di dalam Ekaristi dan memberikan diri-Nya bagi kita. Maka, ketika kita menerima Hosti dan jika memungkinkan, Anggur, dalam perayaan Ekaristi, itu artinya kita sungguh-sungguh memakan tubuh-Nya dan meminum darah-Nya.

Dengan demikian, melalui Ekaristi kita menyambut Tubuh dan Darah Yesus, artinya kita membiarkan Dia bersatu dengan kita dan masuk ke dalam hati kita. Kita memberi ruang bagi Yesus untuk merajai hati kita, pikiran kita, maupun seluruh hidup kita. Dalam kerangka berpikir seperti inilah perkataan Yesus itu harus dipahami.

Yesus menyebut diri-Nya sebagai makanan: roti, daging, dan darah. Dan kita tahu bahwa makanan diperlukan supaya kita bisa hidup. Jika kita tidak makan, maka kita tidak bisa hidup. Hidup kita bergantung pada makanan.

Yesus menyebut diri-Nya sebagai roti, daging, dan darah, untuk memberi tahu kita bahwa tanpa Dia, kita tidak bisa hidup. Kita memerlukan Yesus bukan hanya pada saat kita masih hidup di dunia ini, tetapi juga pada saat kita beralih dari dunia ini. Itulah sebabnya Yesus berkata bahwa jika kita memakan tubuh-Nya dan meminum darah-Nya, kita akan masuk ke dalam kehidupan yang kekal. Dengan demikian, Ekaristi yang kita rayakan setiap hari atau setiap hari Minggu, tidak hanya diperlukan untuk kehidupan di dunia ini, tetapi juga untuk kehidupan yang kekal.

Setiap orang butuh makan, dan tidak bisa diwakilkan. Apalagi, makanan yang kita makan dalam setiap perayaan Ekaristi, bukan sembarang makanan. Yang kita makan adalah  Tubuh Yesus sendiri; makanan yang berguna bagi kehidupan yang kekal. Maka, kiranya kita menjadi orang-orang yang mencintai Ekaristi, dan menjadikan Ekaristi sebagai tujuan dan puncak hidup kita.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.