22.6 C
New York
Monday, September 27, 2021

Beberapa Informasi Penting tentang Pelaku Pembunuhan Pater Olivier Maire, SMM, Imam Katolik di Prancis

Seorang imigran Rwanda berusia 40 tahun yang dicurigai memicu kebakaran hebat di sebuah katedral Prancis diinterogasi oleh polisi sehubungan dengan pembunuhan seorang imam Katolik pada Senin 9 Agustus di Prancis Barat.

Pria yang diidentifikasi oleh media sebagai Emmanuel Abayisenga itu, diterima di komunitas Katolik yang dipimpin oleh korban, Pater Olivier Maire, 60, di Saint-Laurent-sur-Sèvre, sebuah komunitas Serikat Maria Montfortan (SMM) di daerah Vendée.

Abayisenga dilaporkan bertemu dengan Paus Fransiskus di Vatikan pada 2016, empat tahun sebelum dia ditangkap oleh polisi dan kemudian dibebaskan dengan jaminan menyusul kebakaran pada 18 Juli 2020, di Katedral St. Peter dan St. Paul of Nantes, di mana dia bekerja sebagai penjaga sukarela.

Pembunuhan Maire, pemimpin provinsi (provinsial) Serikat Maria Montfortan (SMM) Prancis, diumumkan pada 9 Agustus oleh Menteri Dalam Negeri Gérald Darmanin.

Darmanin, yang mengunjungi Saint-Laurent-sur-Sèvre pada Senin malam, menyatakan solidaritas dengan komunitas Katolik Prancis di media sosial.

“Semua dukungan saya berikan kepada umat Katolik di negara kita setelah pembunuhan dramatis seorang imam di Vendée,” tulisnya di akun Twitternya.

Laporan awal mengatakan tampaknya Maire telah meninggal akibat pukulan. Hasil otopsi diharapkan menjelaskan semuanya nanti. Pihak berwenang belum mengatakan kapan pembunuhan itu diyakini terjadi atau dalam keadaan apa.

Uskup François Jacolin dari Luçon, sebuah keuskupan yang terdiri dari daerah Vendée, menyesali “kematian brutal” Maire.

“Pater Olivier Maire meninggal sebagai korban kemurahan hatinya, seorang martir cinta kasih,” katanya dalam sebuah pernyataan 9 Agustus.

Media Prancis melaporkan bahwa tersangka masuk ke kantor polisi di Mortagne-sur-Sèvre pada Senin pagi dan mengatakan kepada petugas bahwa dia telah membunuh seorang imam.

Tersangka ditahan dan polisi dikirim ke alamat yang diberikan oleh tersangka, di mana mereka menemukan mayat Maire di area komunitas tempat dia tinggal.

Surat kabar Katolik Prancis La Croix melaporkan bahwa tersangka baru-baru ini dibebaskan setelah dirawat di rumah sakit jiwa.

Dikatakan bahwa wakil jaksa wilayah Yannick Le Goater telah mengkonfirmasi bahwa tersangka dirawat di rumah sakit selama sebulan.

Jaksa mengatakan bahwa polisi tidak percaya pembunuhan itu terkait teror.

Sebuah foto yang diambil pada 11 November 2016, pertama kali diterbitkan oleh surat kabar Katolik Prancis La Croix pada 15 Juli, menunjukkan seorang pria yang diidentifikasi sebagai Abayisenga menyapa Paus Fransiskus selama audiensi dengan orang-orang yang dikucilkan secara sosial di Vatikan.

Paus diyakini telah bertemu dengan Abayisenga selama pertemuan untuk Festival Kegembiraan dan Kerahiman Eropa di Aula Paulus VI Vatikan.

Acara untuk orang-orang yang terpinggirkan secara sosial ini diselenggarakan oleh organisasi Prancis Fratello, sebagai bagian dari Yubileum Kerahiman Ilahi (Jubilee of Mercy) Gereja Katolik selama setahun.

La Croix juga melaporkan bahwa pihak berwenang Prancis telah menolak permohonan suaka tersangka dan melayaninya dengan tiga pemberitahuan untuk meninggalkan Prancis, pada 2016, 2017, dan 2019.

Tersangka ditahan setelah kebakaran Nantes pada Juli 2020 hingga pembebasannya dengan jaminan pada Mei tahun ini, kata surat kabar itu.

Pembebasannya, di bawah kendali yudisial, termasuk persyaratan seperti kewajiban untuk mendaftar ke pihak berwenang dua kali sebulan dan tinggal di komunitas di Saint-Laurent-sur-Sèvre.

La Croix mengatakan bahwa Maire memanggil polisi pada 20 Juni setelah tersangka menyatakan keinginannya untuk meninggalkan komunitas. Tersangka kemudian dirawat di rumah sakit jiwa. Ia dibebaskan pada 29 Juli dan kembali ke komunitas SMM di Saint-Laurent-sur-Sèvre.

Surat kabar itu mengatakan bahwa pihak berwenang tidak mendeportasi tersangka karena mereka ingin memastikan bahwa dia siap untuk diadili sehubungan dengan kebakaran katedral.

Pembunuhan itu segera memicu perdebatan politik. Marine Le Pen, presiden National Rally, sebuah partai anti-imigrasi, mengkritik pihak berwenang karena gagal mendeportasi tersangka.

“Di Prancis, seseorang bisa menjadi imigran ilegal, membakar katedral di Nantes, tidak pernah dideportasi, dan kemudian melakukan pelanggaran kembali dengan membunuh seorang imam,” tulisnya di Twitter. ***

 

Artikel ini diterjemahkan dari https://www.catholicnewsagency.com/news/248621/update-police-question-man-suspected-of-murdering-catholic-priest-in-france

RP Lorens Gafur, SMM
Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM). Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi, Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini