Belajar dari Paulus, Kita Balik Haluan

1
144

Belajar dari Paulus, Kita Balik Haluan: Renungan Harian, 5 November 2020 — JalaPress.com; Bacaan I: Flp. 3:3-8a; Injil: Luk. 15:1-10

Kita semua pastilah mengenal tokoh Paulus. Surat-surat yang ditulisnya dalam Kitab Suci Perjanjian Baru hampir pasti pernah kita baca.

Sebelum mengenal Kristus, Paulus adalah seorang penganiaya jemaat. Ia sendiri mengakui hal itu. Mengenai dirinya, ia menulis begini:

“Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat” (Flp. 3:4-6).

Tapi, semenjak Tuhan Yesus memperkenalkan diri kepadanya, Paulus berubah seratus delapan puluh derajat. Kita mengenal peristiwa itu sebagai peristiwa Damsyik. Peristiwa itu memurnikan kembali penglihatan Paulus.

Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik.

Tuhan mengubah cara pandang Paulus dengan membuat matanya tidak bisa melihat untuk beberapa saat. Peristiwa Damsyik membuat penglihatan Paulus kembali ke titik nol. Ia seperti bayi yang baru belajar melihat. Dan, jelaslah, kini ia dapat melihat dengan jernih.

Apa yang dulu dilihatnya sebagai suatu keuntungan, kini ia melihatnya sebagai yang merugikan. “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya” (Flp. 3:7-8).

Paulus adalah seseorang dengan masa lalu yang kelam. Kita pun demikian. Kita juga seringkali tergelincir dalam salah dan dosa. Tapi, seperti Paulus, kita harus mampu melihat dengan jernih setiap pengalaman kita. Biarkan cara melihat kita dipengaruhi oleh Kristus.

Jika kita orang yang keras kepala, Paulus lebih keras kepala. Tapi, ia toh mau hatinya diubahkan oleh Tuhan. Masa kita tidak? Jika kita selalu merasa diri benar, Paulus lebih dari kita. Tapi, kini ia menyadarinya sebagai sikap yang salah. Masa kita tidak bisa mengubah pola pikir kita? Kita perlu belajar dari Paulus tanpa harus menunggu jatuh tersungkur dan menjadi buta. Jadikanlah peristiwa kecil dan sederhana sebagai momentum kita berubah haluan.

Tuhan selalu memberi kita kesempatan kedua untuk bertobat. Dan sebagaimana Injil hari ini, dipastikan bahwa ‘akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat’ (Luk. 15:10).

Tuhan selalu menantikan pertobatan kita. Di sini kita harus banyak belajar dari Paulus. Yang kita anggap benar belum tentu benar. Yang kita anggap menguntungkan belum tentu baik.

Tuhan menunggu kita di ujung jalan. Ia membuka tangan-Nya lebar-lebar menanti pertobatan kita. Saya dan Anda pernah salah, bahkan masih sering berbuat salah. Tapi, kita mempunyai Tuhan yang selalu merindukan pertobatan kita. Mari kita belajar dari Paulus, saatnya kita balik haluan dan kembali ke jalan Tuhan. Amin. –JK-IND–

avatar
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.