Sekte Kristen non-Katolik sering kali menuduh bahwa Gereja Katolik menambah Kitab Deuterokanonika dalam Kitab Suci. Namun tuduhan semacam itu justru menunjukkan ketidaktahuan penuduh akan sejarah Kitab Suci. Meskipun demikian sebagian umat kesulitan untuk menjawab para penuduh. Pada kesempatan ini tim jalapress mencoba menjelaskan secara sederhana jawaban untuk para penuduh.
Perlu kita ketahui bahwa Allah Tritunggal Maha Kudus tidak pernah menyerahkan Kitab Suci secara langsung dan lengkap kepada para nabi dan para rasul. Kitab Suci yang kita miliki saat ini merupakan tulisan para penulis yang diilhami oleh Roh Kudus melalui sejarah keselamatan selama berabad-abad. Kitab Deuterokanonika adalah bagian dari Perjanjian Lama. Septuagint yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani pada tahun 250-125 BC/Sebelum Kristus memuat Kitab-Kitab Deuterokanonika. Oleh sebab itu, Kitab Suci Katolik edisi bahasa Inggris menyatukan Deuterokanonika sebagai bagian Perjanjian Lama. Sementara itu, edisi Indonesia yang diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia memberi catatan “Deuterokanonika” sebagai pemisah.
Perjanjian Lama sendiri kemungkinan ditulis antara tahun 1000-100 SM. Kitab Perjanjian Lama digolongkan menjadi empat bagian yaitu, Kitab Taurat (Pentateukh), Kitab Sejarah, Kitab Para Nabi dan Kitab Hikmat. Setelah Yerusalem jatuh pada tahun 70, para Rabi Yahudi mengadakan Konsili Jamnia (90-100) untuk menetapkan kitab-kitab yang dianggap sebagai Kitab Suci agama Yahudi. Para Rabi menetapkan syarat suatu Kitab, sehingga dapat masuk dalam kanon mereka antara lain kitab-kitab harus tertulisa dalam bahasa Ibrani. Sementara itu, ketujuh Kitab ‘Deuterokanonika,’ Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Putra Sirakh, Barukh dan Makabe I-II ditulis dalam bahasa Yunani. Namun, para ahli modern berpendapat bahwa Konsili Jamnia tidak mengeluarkan satu kitab pun secara definitive atau tetap/baku. Kanon Yahudi yang baku baru muncul kira-kira seratus tahun kemudian. Oleh sebab itu, kitab-kitab ‘Deuterokanonika’ masih dibaca dan dihormati oleh agama Yahudi.
Gereja Katolik menerima kitab-kitab ‘Deuterokanonika’ sebagai bagian dari kanon Kitab Suci. Bapa Gereja Origen mengatakan bahwa dikalangan umat Kristiani telah menggunakan kitab-kitab itu, meskipun para pemimpin Yahudi tidak menerima secara resmi. Gereja dikemudian hari menetapkan pula tulisan-tulisan Perjanjian Baru yang dianggap diilhami oleh Roh Kudus dan merupakan ajaran yang berasal dari Yesus. Kitab-kitab ‘Deuterokanonika’ sendiri sering dikutip oleh Bapa-Bapa Gereja pada abad awal. Hal itu dilakukan karena ketujuh Kitab dianggap sebagai satu kesatuan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Oleh sebab itu, Gereja Katolik memasukkan ketujuh kitab ‘Deuterokanonika’ dalam kanon Kitab Suci, seperti yang ditetapkan oleh Paus Damasus I pada tahun 382. Selanjutnya juga ditetapkan pada Konsili Hippo tahun 393 dan Konsili Carthage pada tahun 397.
‘Deuterokanonika merupakan istilah yang muncul setelah abad ke 16. Istilah itu diberikan kepada ketujuh kitab yang tidak diterima oleh gereja Protestan. Pada tahun 1534, Martin Luther menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Jerman. Pada waktu itu, ia mengelompokkan ketujuh Kitab Deuterokanonika (Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Barukh, Makabe I & I) sebagai “Apocrypha” sambil memaklumkan kepada pengikutnya, bahwa ketujuh kitab berguna dan baik dibaca, namun tidak sejajar dengan kitab-kitab lainnya. Selain itu, ia mengelompokkan kitab-kitab Perjanjian Baru (Yohanes, Roma, Galatia, Efesus, Petrus I dan Yohanes I) sebagai kitab yang berbicara tentang karya keselamatan Allah. Kemudian ia mengelompokkan kitab dan surat (Ibrani, Yakobus, Yudas, Wahyu) sebagai kitab non-kanonik.
Ada beberapa spekulasi Sejarahwan yang mengatakan Luther tidak mengeluarkan kitab yang ia sebut “kitab-kitab non-kanonik” karena faktor politis. Sebagian lain mengatkaan bahwa Luther hendak kembali ke “iman primitive” yang hanya menerima kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Ibrani. Sementara ahli lain mengatakan bahwa Luther menyingkirkan beberapa kitab karena tidak sesuai dengan teologi yang ia anut. Oleh sebab itu, tindakan yang dilakukan Luther mengandung konsekuensi bahwa Luther menghilangkan ketujuh Kitab Deuterokanonika dalam Kitab Suci Protestan. Setelah kematian Luther, edisi Kitab Suci selalu memuat kitab Deuterokanonika dalam Kitab Suci, misalnya edisi pertama King James version (1611) dan edisi Gutenberg Bible (1546).
Oleh sebab itu, secara definitif dan permanen ketujuh Kitab Deuterokanonika dihilangkan pada tahun 1825 oleh Komite Edinburg dari the British Foreign Bible Society. Dengan demikian, kita dapat membuktikan secara historis bahwa Gereja Protestan yang mengurangi ketujuh kitab dalam Kitab Suci.
Sumber: Sanjaya, V. Indra. 2015. Menelusuri Tulisan-Tulisan Deuterokanonika. Jakarta: Lembaga Biblika Indonesia.


