Bukti Ketuhanan Yesus dalam Kitab Suci

3
5797
Gambar ilustrasi oleh Couleur / Pixabay

Jika Yesus itu Tuhan, sebutkan satu ayat dalam Kitab Suci yang memuat kata-kata Yesus: ‘Aku Tuhan, sembahlah Aku!’

Kalimat “Akulah Tuhan, sembahlah Aku,” tidak pernah keluar dari mulut Yesus; dan karenanya tidak kita temukan di dalam Kitab Suci. Alasannya jelas: Yesus, yang adalah Allah, sudah mengambil rupa manusia dan menjadi sama seperti kita dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa. Ia sangat konsisten dengan tujuan kedatangan-Nya itu, sehingga Ia tidak akan mungkin berkata “Aku Tuhan, sembahlah Aku” sebab hal itu tidak sesuai dengan tujuan kedatangan-Nya.

Lantas, bagaimana kita tahu bahwa Yesus adalah Tuhan? Kitab Suci memberitahu kita bahwa Yesus seringkali membiarkan para pendengar-Nya mengenal siapa diri-Nya dari apa yang dilakukan-Nya. Makanya, ketika Yohanes Pembaptis menyuruh murid-muridnya bertanya kepada Yesus: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Yesus menjawab mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat. 11:2-5; Luk. 7:22).

Sekalipun Yesus tidak secara langsung menyebut diri-Nya Tuhan; dan tidak menyuruh orang lain untuk menyembah diri-Nya, tetapi Ia seringkali mengafirmasi apa yang dikatakan orang mengenai diri-Nya. Jadi prinsipnya, setelah orang melihat apa yang dilakukan-Nya, orang lalu mengenal diri-Nya sebagai Tuhan, dan Yesus mengafirmasi perkataan itu. Mari kita lihat hal itu satu per satu:

Pertama, kesaksian dari Rasul Yohanes, murid yang dikasihi Yesus, yang secara istimewa menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Dalam Yoh 1:1,14 dikatakan: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Justru karena kedekatannya dengan Yesus, maka kita selayaknya percaya kepada kebenaran kesaksian Rasul Yohanes tentang Yesus.

Rasul Yohanes memulai Injilnya dengan menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan. Sesungguhnya, untuk membuktikan ke-Allahan Yesuslah maka Yohanes menuliskan Injilnya, yang merupakan kitab Injil yang terakhir. Dalam Yoh 20:31 dikatakan, “tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.”

Kedua, kesaksian Rasul Petrus: Mat 16:16, “Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Rasul Petrus adalah orang yang pertama mengakui dengan mulutnya tentang ke-Allahan Yesus semasa Yesus hidup di dunia; dan Yesus membenarkan iman Petrus ini, dengan mengatakan bahwa Bapa di sorgalah yang menyatakan hal ini kepadanya [ay.17]. Yesus kemudian mempercayakan Gereja-Nya ke dalam pimpinan Petrus [ay. 18]. Gereja Katolik dengan setia mengajarkan pengakuan iman Petrus ini, bahwa Yesus Kristus adalah sungguh Anak Allah yang hidup.

Setelah kebangkitan Kristus, Rasul Petrus memberikan kesaksian di hadapan Mahkamah Agama, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia [Yesus Kristus], sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” [Kis 2:14]. Sebab hanya di dalam nama Tuhan-lah manusia dapat diselamatkan.

Ketiga, kesaksian dari Malaikat Gabriel, yang berkata kepada Bunda Maria, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” [Luk 1: 35]. Maka kita ketahui bahwa oleh Roh Kudus yang turun atas Maria, maka Yesus bukanlah manusia biasa, namun Anak Allah.

Keempat, perkataan Elisabet yang ditujukan kepada Bunda Maria, dalam Luk 1:42: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Jika Yesus hanya manusia biasa, tentu Elisabet tidak berkata demikian.

Kelima, kesaksian Yesus sendiri tentang Diri-Nya dalam Luk 2:49. Perkataan Yesus yang pertama yang dicatat di Alkitab adalah pernyataan-Nya tentang identitas-Nya sebagai Putera Allah, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Sedangkan kehidupan publik Yesus dimulai dengan pernyataan Allah Bapa kepada Yesus pada saat Pembaptisan di sungai Yordan, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” [Mat 3:17]. Jika yang memberi kesaksian tentang Yesus sebagai Putera Allah adalah Allah Bapa sendiri, maka selayaknya kita percaya bahwa Yesus adalah Allah.

Dalam Yoh 8:58: Yesus sendiri mengatakan bahwa Ia adalah Allah dengan mengatakan bahwa Ia sudah ada sebelum Abraham, “sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Jika Ia “hanya” manusia biasa, Ia tidak dapat berkata demikian, sebab sebagai manusia biasa Ia tidak mungkin ada sebelum Abraham. Perkataan-Nya ini hanya masuk akal jika Ia adalah Allah yang keberadaan-Nya tak terbatas oleh waktu. Selanjutnya, dalam Yoh 13:13, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.” Ini adalah pernyataan yang sangat jelas, yang dikatakan Yesus dalam Perjamuan Terakhir, sebelum kebangkitan-Nya.

avatar
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.