Bunda Maria Tetap Perawan: sebelum, pada saat, dan setelah Melahirkan Yesus – Bagian II

3
1807
JACLOU-DL / Pixabay

Artikel yang sedang Anda baca ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya. Maka dari itu, sebelum membaca seluruh isi artikel ini, baiklah saudara-saudari terlebih dahulu membaca artikel sebelumnya di Bunda Maria Tetap Perawan – Bagian I.

Orang-orang Kristen non-Katolik seringkali bertanya apakah Maria tetap perawan pada saat dan setelah melahirkan Yesus? Bukankah menurut Kitab Suci Perjanjian Baru Yesus mempunyai saudara-saudari?

Mereka menyebutkan ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa Yesus mempunyai saudara dan saudari. Contoh ayat-ayat Kitab Sucinya bisa dilihat pada pembahasan sebelumnya. Dari teks-teks yang disebutkan itu, mereka lantas berkesimpulan bahwa Maria tidaklah tetap perawan sebab ia telah melahirkan anak-anak lain selain Yesus.

Kita harus mengakui bahwa soal keperawanan Maria tidak mudah diterangkan. Ini lebih merupakan soal iman-kepercayaan yang sudah lama sekali diimani Gereja, ratusan tahun sebelum adanya pembedaan antara ‘Gereja Roma Katolik’ dan ‘Gereja Protestan’. Maka, jangan heran jika para perintis Gereja Protestan seperti Martin Luther, John Calvin, dan Ulrich Zwingli menghormati keperawanan abadi Maria dan mengakui hal itu sebagai pengajaran Kitab Suci.

Meskipun sulit dipahami, namun secara objektif dapat dikatakan bahwa keperawanan Maria inilah yang semakin menunjukkan ke-Allah-an Yesus. Banyak orang mungkin bertanya-tanya, sewaktu melahirkan Yesus, bagaimana Bunda Maria dapat tetap terjaga keutuhannya? Menanggapi pertanyaan ini, St. Agustinus mengajarkan bahwa tidaklah mungkin, bahwa Yesus yang datang dengan maksud memulihkan manusia dari kerusakan dosa dan melenyapkan segala penyakit dan kelemahan (Mat. 4:23), malah merusak keutuhan ibu-Nya sendiri pada saat kedatangan-Nya.

Lantas, bagaimana dengan munculnya penyebutan ‘saudara’, ‘saudara perempuan’, dan ‘saudara-saudara’ dalam Kitab Suci? Perlu diingat bahwa istilah ‘saudara’ (bahasa Yunani: adelphos) dalam Kitab Suci memiliki arti yang luas. Kata ini tidak selalu diartikan secara literal sebagai saudara kandung atau saudara tiri. Hal yang sama berlaku juga untuk kata ‘saudara perempuan’ (adelphe) dan bentuk jamak ‘saudara-saudara’ (adelphoi).

Kitab Suci Perjanjian Lama menunjukkan bahwa istilah ‘saudara laki-laki’ memiliki makna semantik yang luas dan dapat merujuk pada kerabat laki-laki (saudara kandung maupun tiri), saudara-saudara sepupu, mereka yang menjadi anggota keluarga karena perkawinan (ipar) atau karena hukum (saudara angkat), dan tidak selalu karena hubungan darah; bahkan teman atau hanya rekan politik semata (lih. 2 Sam. 1:26; Amos 1:9).

Menarik untuk ditelaah bahwa dalam bahasa Ibrani atau Aram (bahasa yang diucapkan oleh Yesus dan murid-murid-Nya), tidak ada kata khusus untuk menyebut ‘sepupu’; sehingga mereka menggantinya dengan kata ‘saudara’ atau  frasa ‘anak paman saya.’ Tapi, tampaknya orang-orang Yahudi lebih sering menggunakan kata ‘saudara’ daripada frasa ‘anak paman saya’.

Para penulis Kitab Suci Perjanjian Baru menggunakan kata yang sepadan dengan kata ‘saudara’ dalam bahasa Aram untuk menyebut sepupu, saudara tiri, kerabat, dan bahkan mereka yang tidak memiliki hubungan darah. Dalam terjemahan Septuaginta (versi Yunani dari Alkitab Ibrani), kata Ibrani yang mencakup saudara dan sepupu diterjemahkan sebagai adelphos, yang dalam bahasa Yunani biasanya memiliki arti sempit seperti kata ‘saudara’ dalam bahasa Inggris. Padahal, sebetulnya, tidak seperti dalam bahasa Ibrani atau Aram, bahasa Yunani memiliki kata terpisah untuk menyebut sepupu, yaitu kata anepsios, tetapi para penerjemah Septuaginta menggunakan adelphos, bahkan untuk mereka yang benar-benar sepupu.

St. Hieronimus (hidup pada abad keempat) percaya bahwa Bunda Maria tetap tinggal sebagai perawan seumur hidupnya. Saudara-saudari yang disebutkan di dalam Kitab Suci itu, demikian Hieronimus, berasal dari keturunan Maria Kleopas, saudari dari Bunda Maria (Yoh. 19:25). Dialah yang memperkenalkan kemungkinan bahwa saudara-saudara Kristus sebenarnya adalah sepupunya, karena dalam idiom Yahudi, sepupu juga disebut sebagai ‘saudara-saudara.’

Pandangan St. Hieronimus ini menjadi pandangan resmi Gereja Katolik. Gereja Katolik meyakini bahwa Yesus tidak mempunyai saudara kandung. Mereka yang disebut ‘saudara-saudara Tuhan’ dalam Kitab Suci adalah sepupu Yesus, dan bukan saudara kandung-Nya. Dengan argumentasi di atas, Gereja Katolik meyakini bahwa Bunda Maria tidak mempunyai anak lain selain Yesus; dan ia tetaplah perawan seumur hidupnya.

Referensi:
Tay, Stefanus & Listiati, Inggrid. 2016. Maria, O Maria. Bunda Allah, Bundaku, Bundamu. Surabaya: Penerbit Murai Publishing.
Pidyarto, H. 2015. Mempertanggungjawabkan Iman Katolik. Malang: Penerbit Dioma.
https://jalapress.com/2018/11/09/apakah-yesus-mempunyai-saudara-kandung/
https://www.catholic.com/tract/mary-ever-virgin
https://www.catholic.com/tract/brethren-of-the-lord
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/jesus-had-brothers

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.