Bunda Maria Tetap Perawan: sebelum, pada saat, dan setelah Melahirkan Yesus – Bagian I

0
1545
anujatilj / Pixabay

‘Bunda Maria tetap perawan’ merupakan salah satu dari empat dogma tentang Bunda Maria yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Dasar dogma ini adalah karena Kristus adalah Allah, maka proses pembentukan-Nya sebagai janin tidak memerlukan campur tangan benih laki-laki, melainkan oleh kuasa Roh Kudus (Luk. 1:35).

Banyak orang Kristen tidak mengalami kesulitan untuk percaya bahwa Bunda Maria adalah seorang perawan sebelum melahirkan Yesus, sebab memang dikatakan demikian dalam Kitab Suci, yaitu bahwa ia mengandung dari Roh Kudus (lih. Mat. 1:20; Luk. 1:35). Artinya, Tuhan Yesus Kristus menjadi manusia di dalam rahim Bunda Maria, tanpa ada keterlibatan benih laki-laki.

Dengan demikian, lahirnya Kristus dari rahim seorang perawan, menjadi salah satu tanda ke-Allah-an Yesus, sebab tidak pernah ada dalam sejarah manusia, seorang manusia lahir dari seorang perawan tanpa campur tangan benih laki-laki. Hanya saja, yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana keadaan Bunda Maria pada saat dan setelah kelahiran Yesus? Apakah dia masih tetap perawan?

Gereja Katolik secara konsisten menyebut Bunda Maria sebagai ‘Perawan yang Terberkati’. Dengan sebutan itu, Gereja Katolik ingin menegaskan bahwa Bunda Maria tetaplah perawan sepanjang hidupnya, baik sebelum, pada saat, maupun sesudah kelahiran Yesus. Namun, tidaklah demikian bagi orang-orang Protestan. Ketika orang-orang Protestan menyebut Maria sebagai ‘perawan’, itu berarti dia hanya perawan sampai kelahiran Yesus.

Ketidaksepakatan itu muncul karena adanya perbedaan penafsiran atas ayat-ayat Kitab Suci yang menggunakan istilah ‘saudara-saudara,’ ‘saudara,’ dan ‘saudara perempuan.’ Orang-orang Protestan percaya bahwa Maria dan Yusuf memiliki anak-anak lain selain Yesus, yang oleh Kitab Suci disebut sebagai ‘saudara-saudara Tuhan.’

Memang, ada sekitar sepuluh contoh dalam Kitab Suci Perjanjian Baru di mana kata ‘saudara’ dan ‘saudara perempuan’ Tuhan disebutkan (Mat. 12: 46; 13: 55; Mrk. 3: 31-34; 6: 3; Luk. 8: 19-20; Yoh. 2:12; 7: 3, 5, 10; Kis. 1:14; 1 Kor 9: 5). Namun demikian, perlu disadari bahwa baik Kitab Suci maupun keyakinan jemaat perdana sama tidak menyebutkan bahwa Maria mempunyai anak-anak lain selain Yesus. Justru sebaliknya, dari Kitab Suci dan Tradisi, kita diberi tahu bahwa Yesus adalah anak tunggal Maria; dan bahwa Bunda Maria tetap perawan seumur hidupnya.

Ketika Yesus ditemukan di Bait Suci pada usia dua belas tahun, tampak bahwa Ia adalah satu-satunya putra Maria dan Yusuf. Sama sekali tidak ada petunjuk dalam Kitab Suci tentang anak-anak lain dalam keluarga Maria dan Yusuf (Luk. 2: 41-51). Yesus dibesarkan di Nazaret, dan orang-orang di Nazaret menyebutnya sebagai ‘putra Maria’ (Mrk. 6: 3). Kita tahu bahwa tidak pernah ada orang lain dalam Injil yang disebut sebagai putra Maria, bahkan ketika penulis Kitab Suci menyebut mereka sebagai ‘saudara-saudara’ Yesus.

Juga, perhatikan apa yang terjadi di kaki salib ketika Yesus menghadapi sakratul maut. Ia mempercayakan ibu-Nya kepada rasul Yohanes (Yoh. 19:26-27). Padahal, Injil menyebutkan empat nama sebagai ‘saudara-saudara’ Yesus: yaitu Yakobus, Yusuf, Simon, dan Yudas. Jika Maria mempunyai anak-anak lain selain Yesus, tentu kita sulit membayangkan mengapa Yesus justru menitipkan ibu-Nya kepada orang lain yang bukan saudara kandung-Nya?

Referensi:
Tay, Stefanus & Listiati, Inggrid. 2016. Maria, O Maria. Bunda Allah, Bundaku, Bundamu. Surabaya: Penerbit Murai Publishing.
https://www.catholic.com/tract/mary-ever-virgin
https://www.catholic.com/tract/brethren-of-the-lord

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.