Bagaimana Mungkin Maria yang adalah Manusia Disebut sebagai Bunda Allah?

0
1459
GoranH / Pixabay

Ada empat dogma tentang Bunda Maria yang diajarkan oleh Gereja Katolik; salah satunya adalah dogma ‘Maria Bunda Allah’. Dogma Maria Bunda Allah dirumuskan dalam Konsili Efesus (431), dan dijelaskan kembali pada Konsili Kalsedon (451).

Hal tersebut tidak berarti bahwa Bunda Maria menciptakan Trinitas; dan tidak juga berarti bahwa dia sudah ada sebelum Yesus ada dalam keabadian; melainkan semata-mata berarti bahwa Yesus adalah pribadi yang ilahi, dan Bunda Maria adalah ibu dari pribadi yang ilahi tersebut.

Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak orang gagal paham terhadap adanya keempat dogma tentang Maria ini. Mereka mengira bahwa dogma tersebut merupakan ajaran ‘karangan’ Gereja Katolik, yang tidak mempunyai dasar dari Kitab Suci. Namun demikian, anggapan tersebut tentu saja tidak benar; sebab semua dogma Gereja Katolik, termasuk dogma tentang Bunda Maria, ditetapkan atas dasar ajaran Kitab Suci dan Tradisi Suci, yang telah dihayati oleh Gereja sejak abad-abad awal. Bahwa perumusan dogma tentang Bunda Maria baru dilakukan di abad-abad berikutnya, tidak menunjukkan bahwa dogma tersebut adalah ajaran yang baru.

Kaum fundamentalis selalu beranggapan bahwa frasa ‘Maria Bunda Allah’ tidak ditemukan di dalam Kitab Suci. Karenanya, mereka tidak mau menerima sebutan semacam itu sebagai sebuah kebenaran. Mereka lupa bahwa istilah ‘trinitas’ pun tidak disebutkan secara gamblang di dalam Kitab Suci, tetapi tetap diterima umum sebagai sebuah kebenaran.

Perlu diketahui bahwa dasar dari dogma ‘Maria Bunda Allah’ adalah karena Yesus Kristus yang dilahirkan oleh Bunda Maria adalah Allah, maka Maria disebut Bunda Allah (lih. Luk. 1:43). Logikanya sederhana: jika Yesus Kristus adalah sungguh Allah, maka tidak bisa tidak, Maria, ibu-Nya, adalah sungguh Bunda Allah. Jadi, Maria disebut Bunda Allah semata-mata karena Yesus, putranya, yang adalah Allah.

Tidak sedikit orang dari kalangan non-Katolik berpandangan bahwa Maria hanyalah ibu dari ‘kemanusiaan’ Yesus, dan karenanya menurut mereka, ia tidak bisa menjadi Bunda Allah.

Perlu ditegaskan di sini bahwa memang Bunda Maria tidak memberikan pengaruh apa-apa pada keilahian Yesus, dan memang bukan itu arti dari seorang ibu. Seorang wanita hanya menjadi seorang ibu saat seseorang dengan sifat manusiawinya dikandung dalam rahimnya. Maria mengandung dan melahirkan pribadi ilahi, Tuhan yang berinkarnasi, Yesus Kristus. Karenanya, dia adalah ibu dari pribadi ilahi, atau oleh Gereja disebut ‘Ibu Tuhan’.

Ada juga orang yang mengatakan bahwa Tuhan tidak bisa memiliki ibu karena Dia abadi; tetapi perkataan seperti itu akan terbantahkan dengan sendirinya; sebab itu sama saja mengatakan bahwa Tuhan tidak bisa mati di kayu salib karena Dia abadi. Padahal, kita tahu bahwa jika Allah mengambil sifat manusia seperti kita, maka, Ia tentu saja bisa dilahirkan dan mati untuk menebus dosa-dosa manusia.Lagipula, penyebutan Maria sebagai Bunda Allah ditujukan untuk membantah bidat yang mengatakan bahwa Yesus hanyalah manusia biasa yang menjadi putra Allah pada saat pembaptisan atau kebangkitan-Nya. Jadi, menyebut Maria, Bunda Allah, bertujuan untuk memperkuat kepercayaan jemaat Kristen perdana bahwa Yesus sepenuhnya adalah Allah dan sepenuhnya manusia.

Referensi:
Tay, Stefanus & Listiati, Inggrid. 2016. Maria, O Maria. Bunda Allah, Bundaku, Bundamu.    Surabaya: Penerbit Murai Publishing.
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/how-can-mary-be-gods-mother
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/mary-mother-of-god
https://www.catholic.com/video/is-mary-the-mother-of-god
https://www.catholic.com/tract/mary-mother-of-god

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.