Diutus untuk menjadi Pembawa Damai Sejahtera

0
113
Konevi / Pixabay

Diutus untuk menjadi Pembawa Damai Sejahtera: Renungan Harian Katolik, Kamis 3 Oktober 2019 — JalaPress.com; Injil: Luk. 10:1-12

Dalam mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah, Yesus melibatkan manusia. Ia mau bekerja sama dengan manusia. Ia percaya pada manusia. Dalam Injil yang dibacakan hari ini, setelah Yesus memilih atau menunjuk tujuh puluh murid, Ia mengutus mereka berdua-dua ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Mengapa Yesus mau bekerja sama dengan manusia?  Salah satu alasannya adalah tuaiannya banyak, tetapi pekerjanya sedikit ( ay. 2).

Yesus juga mengingatkan para murid yang diutus-Nya bahwa mereka laksana ‘anak domba yang diutus ke tengah-tengah Serigala.’ Kata-kata ini merupakan gambaran akan banyak tantangan yang harus dihadapi oleh para utusan. Para murid perlu mengetahuinya sejak awal agar mereka tidak kaget dan mudah menyerah.  Mereka harus siap menerima risiko apapun dalam menjalankan perutusan nanti.

Seperti para murid, kita juga perlu menyadari bahwa tak mudah menjadi utusan Kristus zaman ini. Banyak tantangan yang harus kita hadapi.

Yesus juga mengingatkan para murid-Nya bahwa yang mereka bawa atau wartakan  itu damai sejahtera. “Damai sejahtera bagi rumah ini” (ay. 5). Ini ungkapan penting. Mereka hanya membawa damai sejahtera. Kehadiran mereka harus membuat orang yang dijumpai itu hidup dalam damai. Damai itu berasal dari Kristus yang mengutus mereka.

Yesus juga memilih atau menunjuk kita menjadi utusan-Nya. Kita diajak terlibat dalam karya pewartaan Kerajaan Allah kepada orang lain sesuai pilihan hidup kita masing-masing. Isi pewartaan kita juga sama seperti para murid yakni membawa damai sejahtera kepada orang-orang yang kita jumpai. Yang diwartakan itu damai yang bersumber dari Kristus yang kita imani. Tentu damai yang dibagikan itu telah kita rasakan atau alami berkat perjumpaan pribadi kita melalui doa atau ekaristi.

Pewartaan itu juga tak melulu melalui perkataan atau kotbah, tetapi terutama  melalui teladan hidup yang membuat orang lain merasakan damai sejahtera ketika berjumpa dengan kita. Orang lain betah dengan kita dan bertumbuh menjadi orang yang lebih baik lagi berkat perjumpaan dengan kita. Mereka juga tergerak untuk semakin beriman dan mengandalkan Kristus sang sumber damai sejahtera dalam hidup setiap hari. Selanjutnya, mereka juga menjadi pewarta seperti kita.

Seperti para murid, kita juga perlu menyadari bahwa tak mudah menjadi utusan Kristus zaman ini. Banyak tantangan yang harus kita hadapi. Kita memang seperti anak domba lugu yang diutus ke tengah-tengah Serigala buas. Menjadi utusan Kristus di tengah masyarakat yang tak mau lagi percaya pada kuasa Tuhan atau yang berhamba pada uang, harta, jabatan, kecanggilan teknologi informasi-komunikasi, tak selalu mudah. Mungkin kita dianggap bodoh atau mungkin juga akan dicemooh. Bisa jadi nyawa kita kadang-kadang terancam.

Kita perlu belajar juga pada Bunda kita, Bunda Maria, yang terlibat aktif dalam karya keselamatan. Kesediaannya menjadi ibu Yesus dan terus merawat dan mendampingi-Nya itu tentu saja mengagumkan. Pasti banyak tantangan yang dihadapinya, apalagi ketika Yesus Putra-Nya menderita sengsara hingga wafat di salib. Ketika para murid yang setiap hari ada bersama Yesus lari menyelamatkan diri, Bunda Maria tetap setia mengikuti Putranya (Bdk. Yoh. 19:25-27). Ia berani mengambil risiko. Ia bertanggung jawab dengan tugasnya sebagai bunda Yesus. Maria memang utusan yang mengagumkan.

Selain Bunda Maria, kita juga perlu belajar pada santo Montfort (1673-1716), utusan Kristus yang mengagumkan. Ia pewarta damai sejahtera. Banyak orang tersentuh dengan pewartaan-Nya. Tetapi banyak juga orang yang tak menyukainya. Ia sering dicemooh, dibenci bahkan terancam dibunuh. Tentang pengalaman ini, Santo Montfort menulis ungkapan terkenal ini: “Jika Anda tak berani mengambil risiko bagi Allah, Anda tak melakukan sesuatu yang besar untuk-Nya.” Berani mengambil risiko apapun adalah sikap kstaria para utusan Kristus; para pembawa damai sejahtera. Tanpa keberanian ini, kita tak akan menjadi utusan yang baik. Kita akan canggung atau bahkan tidak mau menjadi utusan Kristus. Kita mencari aman saja; kita hanya mementingkan keinginan diri sendiri. Kita masa bodoh. Kita tak mau terlibat. Padahal Yesus terus mengundang kita terlibat dalam mewartakan damai sejahtera. Masihkan kita tak mau mengambil risiko untuk Allah?***

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.