Doa Brevir 7 Waktu

0
1291
Gambar ilustrasi oleh klimkin / Pixabay

Buku Puji Syukur menulis kebiasaan orang-orang Kristen, salah satunya adalah melaksanakan ibadah Harian. Gereja tiada putusnya memuji Tuhan dan memohonkan keselamatan seluruh dunia bukan hanya dengan merayakan Ekaristi, melainkan dengan cara-cara lain juga, terutama Liturgi Harian  (Sacrosanctum Consilium art. 83, Kitab Hukum Kanonik 1173-1175)

Dasar Alkitab

Allah menyucikan waktu pagi, siang dan malam, oleh sebab itu, ia memberi perintah kepada para imam untuk menyucikan hari melalui kurban sembelihan pada pagi dan petang (lihat Kel. 29:38-39, Bil. 28:3-8, 1 Raj. 18:36). Setelah penghancuran Bait Allah Praktek tersebut diganti dengan pembacaan Taurat, Mazmur dan kurban pujian di sinagoga. Praktek doa tersebut dapat kita temukan dalam berbagai ayat Kitab Mazmur (lihat Mzm 5:4, 88:14, 119:164, 141:2). Bahkan pada masa pembuangan umat Israel melaksanakan doa-doa pada jam-jam tertentu(lih. Dan 6:10;6:13). Misalnya, pemazmur melaksanakan puji-pujian, tujuh kali dalam sehari (lihat Mzm. 119:164).

Pada masa penjajahan Romawi, kaum Yahudi mengikuti sistem pembagian waktu Romawi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga mempengaruhi waktu doa kaum Yahudi. Adapun di kota-kota jajahan itu, terdapat bel penanda jam kerja. Waktu itu bel biasanya berbunyi pada jam enam pagi, sembilan, tengah hari, jam satu siang, jam tiga dan jam enam sore untuk sebagai penanda waktu kerja ditutup. Jemaan perdana mengikuti dan meneruskan tradisi Yahudi terutama jam-jam doa pada waktu tertentu di sepanjang hari, terutama sistem waktu yang dipengaruhi oleh Romawi. Injil sendiri seringkali mengisahkan Yesus dan para rasul berdoa pada jam-jam tertentu (lihat Luk 3:21-22, 6:12, 9:28-29; 11:1, 9:18, 22:32, 5:16,  Mat 4:19; 15:36,11:25,19:13, 4:1, 14:23, 14:23.25, Yoh 11:41, Mrk 1:35, 6:46). Bahkan para rasul juga berdoa pada jam-jam tertentu antara lain jam tiga, jam enam, jam sembilan dan tengah malam (lih. Kis 3:1, 10:3, 9-49; 16:25). Setelah Kristen Perdana terpisah dari Yudaisme, praktek berdoa pada waktu-waktu tertentu berlanjut terus. Jemaat perdana mendaraskan Mazmur, membaca Kitab Suci dan mengucapkan madah (lihat Kis. 4:23-30).

Masa Para Bapa Gereja

Penetapan waktu doa juga tercatat dalam Kitab Didache (95 M) yang berjudul “Orismenois Kairois Kai Horeis”. Selain itu tertulis juga dalam Dokumen Konstitusi Rasuli (380) dan Bapa Gereja. St. Basilius Agung (330-379) dalam Regulae Fusius Tractate mengatakan bahwa penetapan waktu-waktu berdoa atau sembahyang telah dilakukan oleh para rasul sendiri di Yerusalem. Hampir semua Bapa Gereja baik Gereja Timur seperti Santo Yohanes Krisostomos (354-407) dan Gereja Barat seperti Santo Hieronimus (340-420) menulis tentang tradisi penyucian waktu tersebut. Bahkan St. Agustinus dari Hippo dalam aturan hidup membiara menganjurkan ‘untuk bertekun dengan setia dalam doa pada jam-jam dan waktu-waktu yang telah ditentukan”. Selain itu, St. Benediktus Nursia dalam regulanya menuliskan panduan praktek doa ibadah harian. Pada masa itu doa harian disebut doa Ofisi Ilahi. Ungkapan St. Benediktus Nursia yang terkenal adalah “Orare est laborare, laborare est orare”. Kemudian pada abad ketiga, para rahib pertapa mengikuti anjuran Santo Paulus untuk ‘berdoa tanpa henti’ dan mempraktekkan doa tersebut secara berkelompok (lihat 1 Tes. 5:17).

Sementara itu, perkembangan Liturgi Harian di Gereja Timur beralih dari Yerusalem menuju Konstantinopel. St. Theodorus (758-826) memadukan doa tersebut dengan pengaruh Byzantium dan madah gubahannya sendiri. Selanjutnya doa liturgi Harian berkembang lebih pesat dalam praktek hidup monastik baik di barat maupun di timur. Memasuki abad keempat, praktek doa liturgi harian telah mendapat bentuk yang lebih pasti, baik untuk kaum awam, monastik, dan imam sekuler. Meskipun demikian pada awalnya buku panduan doa kurang lengkap karena terpisah-pisah, sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan gereja. Ada buku yang isinya hanya kumpulan mazmur, ada yang berisi kumpulan masah dan ada yang berisi buku Injil untuk bacaan Kitab Suci. Oleh sebab itu, disusunlah versi sederhana dari doa-doa liturgi harian tersebut dalam satu buku yaitu Buku Brevir (latin: pendek)

Konsili Trente-Paus Pius V

Konsili Trente (13 Desember 1545 hingga 4 Desember 1563) mempercayakan kepada Paus Pius IV untuk mereformasi brevir. Kemudian pada tanggal 9 Juli 1968, Paus Pius V mengumumkan sebuah edisi sederhana Brevir Romawi.

Konsili Vatikan II

Setelah itu, Paus Clement VIII melakukan penyederhanaan. Kemudian Paus Urban VIII dan Pius X melakukan penyederhanaan yang cukup besar. Lalu Paus Pius XII melakukan penyederhanaan dan terakhir Paus Yohanes XXIII kembali lagi melakukan penyederhanaan pada tahun 1960. Maka sejak akhir abad kelima hingga sebelum Konsili Vatikan II, doa Liturgi Harian sebagai berikut:

  • Matutinum artinya ibadat tengah malam (Vigile).
  • Laudes, dilakukan saat fajar menyingsing (PS. 148, 149,150).
  • Primus artinya doa di awal pagi (jam 6).
  • Tertia artinya doa di awal tengah hari (jam 9).
  • Sexta artinya doa tengah hari (jam 12 siang).
  • Nona artinya doa setelah tengah hari (jam 15.00).
  • Vesper artinya doa sore (dilakukan pada saat matahari terbenam).
  • Completorium artinya doa penutup hari.

Penyederhanaan kembali dilakukan oleh Konsili Vatikan II agar mudah dilakukan oleh awam (umat), sehingga doa tersebut tidak hanya monopoli biarawan-biarawati. Konsili Vatikan II menggabungkan doa primus pada doa Laudes. Kemudian mengubah Matutinum menjadi Ibada Bacaan sehingga fleksibel untuk dilakukan. Lalu Konsili menata ulang mazmur-mazmur sehngga seluruhnya dapa didoakan selama empat minggu (sebelumnya hanya didoakan satu minggu). Sejak Konsili Vatikan II nama Roman Breviary diganti menjadi Liturgy of the Hours (Liturgi Harian/Liturgia Horarum) yang terbagi dalam empat volume (sesuai kalender Liturgi gereja):

  • Volume I, masa Adven dan Natal
  • Volume II, Prapaskah, Trihari Suci dan Masa Paskah.
  • Volume III, Minggu Biasa 1 sampai 17.
  • Volume IV, Minggu Biasa 18 sampai 34.

Praktek Liturgi Harian dalam Gereja Katolik Roma saat ini meliputi:

  • Ibadat Pembukaan (ibadat pertama; bisa Ibadat Bacaan dan Ibadat Pagi).
  • Ibadat Bacaan (Matutinum).
  • Ibadat Pagi (Laudes)

Ibadat Siang, terdiri atas:

  • Tertia (Ibadat sebelum tengah hari).
  • Sextia (Ibadat tepat tengah hari).
  • Nona (Ibadat setelah tengah hari).
  • Ibadat Sore (Vesper).
  • Ibadat Malam (Completorium).**
avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289