Katolik Menjawab: Beriman Saja Belum Cukup untuk Bisa Masuk Surga!

0
1949
Gambar ilustrasi StockSnap / Pixabay

Banyak orang mengira bahwa dengan beriman saja sudah cukup untuk menunjukkan dirinya sebagai pengikuti Kristus. Sebenarnya, tidak ada salahnya dengan iman. Justru semakin orang beriman, maka akan semakin baik. Dengan iman, orang akan diselamatkan. Itu betul. Tetapi, yang menjadi persoalan adalah kalau keselamatan itu dibatasi ‘HANYA’ oleh iman. Padahal, kita tahu bahwa Kitab Suci justru mengatakan yang sebaliknya.

Kitab Suci mengajarkan kepada kita bahwa iman yang tidak disertai oleh perbuatan baik adalah iman yang mati [lih. Yak 2:17]. Dengan demikian, jika dirumuskan secara positif adalah: iman yang disertai perbuatan baik adalah iman yang hidup. Iman yang hidup inilah, yang kita peroleh karena kasih karunia Allah, yang dapat menyelamatkan kita [lih. Ef 2:8-10; Tit 3:5-8; Yak 2:14-26]. Itu berarti, jika kita ingin diselamatkan kita harus mempunyai iman yang hidup, yaitu iman yang dinyatakan dengan perbuatan baik.

Coba perhatikan surat Yak. 2:14. Dalam ayat dikatakan, “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?” Bunyi ayat ini sangat sesuai dengan ajaran Kristus, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” [Mat 7:21].

Kalau demikian, kita harus mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan tidak dapat menyelamatkan. “Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalam cinta-kasih; jadi yang ‘dengan badan’ memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak ‘dengan hatinya.’ Pun hendaklah semua putera Gereja menyadari, bahwa mereka menikmati keadaan yang istimewa itu bukan karena jasa-jasa mereka sendiri, melainkan berkat rahmat Kristus yang istimewa. Dan bila mereka tidak menanggapi rahmat itu dengan pikiran, perkataan dan perbuatan, mereka bukan saja tidak diselamatkan, malahan akan diadili lebih keras” [Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 14 – Luk 12:48, Lih. Mat 5:19-20; 7:2-22; 25:4-46; Yak 2:14].

Konsili Vatikan II justru menegaskan bahwa seharusnya dengan iman itu, kita terdorong untuk semakin memperjuangkan perbuatan kasih. Kalau iman itu tidak disertai dengan perbuatan kasih, maka kita bukan saja tidak diselamatkan, malahan kita akan diadili lebih keras. Mengapa? Karena orang yang mengaku beriman seharusnya tahu lebih banyak mengenai bagaimana caranya berbuat baik, daripada mereka yang tidak beriman. Nah, itulah sebabnya kepada mereka yang mengaku beriman akan dimintai pertanggungjawaban yang jauh lebih besar daripada kepada mereka yang kurang atau tidak mempunyai iman.

Iman haruslah disertai dengan perbuatan kasih. Seperti kata Kitab Suci, “Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” [Yak 2:15-17].

Apakah dengan iman saja maka seseorang akan mendapatkan keselamatan? Tidak. Namun iman memang penting untuk sampai kepada Baptisan. Bahkan, Gereja Katolik menyatakan bahwa Baptisan adalah Sakramen iman [lih. KGK, 1253]. Tapi, seperti kata rasul Yakobus, “Iman tanpa perbuatan adalah mati” [Yak 2:17-18, 20, 26].

Saya menggunakan analogi kartu toll. Kebetulan itu yang paling dekat dengan kehidupan kita. Baptisan itu seperti kartu toll. Kartu toll itu perlu untuk melewati jalan toll. Begitu juga dengan pembaptisan. Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan. Tetapi, apakah dengan mempunyai kartu toll, kita secara otomatis bisa melewati pintu toll? Tidak. Kartu itu harus di top-up atau diisi terlebih dahulu. Begitu juga dengan pembaptisan, harus diikuti dengan iman yang disertai perbuatan kasih. Jadi, pembaptisan tidak membuat kita secara otomatis masuk surga, sama halnya kartu toll tidak membuat seorang pengendara secara otomatis bisa melewati jalan toll.

Maka, tidak cukup kita hanya bilang “Saya beriman kepada Yesus. Saya Katolik sejak dalam rahim ibu”. Kita harus bisa menunjukkan iman kita itu dalam perbuatan-perbuatan baik. Tuhan tidak akan bertanya, “Apakah kamu sudah dibaptis? Kalau sudah, OK silahkan masuk”. Tidak. Tuhan tidak akan bertanya seperti itu. Dia justru akan bertanya, “Betulkan kamu sudah dibaptis? Jika betul, perbuatan baik apa yang sudah kamu lakukan sebagai orang yang sudah dibaptis?” Iman – yang tampak dalam pembaptisan – yang disertai dengan perbuatan kasih itulah yang nantinya akan diperhitungkan oleh Tuhan. Jadi, beriman tidak cukup hanya di bibir dan di hati. Beriman itu harus juga bisa diwujudnyatakan dalam keseharian. Kalau benar bahwa kamu adalah seorang beriman Katolik, tunjukkan itu lewat perbuatan kasih. ***

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.