Gereja Katolik Percaya bahwa Bunda Maria Diangkat ke Surga: Apa Dasarnya?

2
2899
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Dogma ‘Maria Diangkat ke Surga’ dinyatakan oleh Paus Pius XII pada tanggal 1 November 1950, dalam ensikliknya, Munificentissimus Deus. Paus Pis XII, dalam ensikliknya itu menyebutkan bahwa: “Maria, Bunda Allah yang tak bernoda dan Bunda Allah yang tetap perawan, setelah selesai hidupnya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi”.

Kemunculan dogma ini mendatangkan banyak pertanyaan di kalangan orang-orang Kristen di luar Gereja Katolik. Mereka mempertanyakan dasar biblis dari dogma tersebut. Mereka bertanya, “Di mana dalam Kitab Suci yang menceritakan bahwa Maria diangkat ke Surga?”

Menurut mereka, sepeninggalan Yesus, Maria tinggal bersama rasul Yohanes (Yoh. 19:25-27). Lalu, setelah Yesus naik ke surga, kita melihat kembali kehadirannya pada peristiwa Pentaskosta (Kis. 1:14, 2:1-4; bdk. Luke 1:35). Lebih dari itu, tidak ada yang tahu apa yang terjadi terhadap Maria. Yang pasti, ia meninggal dunia dengan cara yang sama seperti manusia lain pada umumnya. Menurut mereka, jika memang Allah mengerjakan sesuatu yang besar dalam hidup Maria, seharusnya semuanya tertulis di dalam Kitab Suci.

Gereja Katolik mengakui bahwa jika kita mencari kutipan langsung di dalam Kitab Suci yang berisikan tentang peristiwa pengangkatan Bunda Maria ke surga, kita tidak akan menemukan satu ayat pun di sana; sebab memang peristiwa itu tidak secara gamblang diceritakan di dalam Kitab Suci.

Kitab Suci memang tidak mengatakan apa-apa tentang hidup Maria setelah peristiwa Pentakosta. Nah, apakah ‘diamnya’ Kitab Suci soal Maria ini disebabkan karena nasib Maria tidak begitu penting untuk ditulis? Jangan lupa bahwa bukan hanya tentang Bunda Maria, banyak hal lain juga yang sebenarnya penting tapi tidak ditulis di dalam Kitab Suci.

Kita tahu bahwa para murid Yesus diberikan kuasa untuk mengadakan mukjizat dalam nama Yesus (Mrk. 16:27-18), bahkan mereka diberikan kemampuan untuk mengerjakan mukjizat-mukjizat yang lebih besar daripada yang dikerjakan oleh Yesus sendiri (Yoh. 14:12), namun kita toh tidak mendengar banyak hal tentang mereka setelah peristiwa Pentakosta. Tentulah tidak semua mukjizat yang mereka kerjakan tercatat di dalam Kitab Suci. Juga, pastinya, tidak semua mukjizat yang dikerjakan oleh Yesus tercatat di dalam Kitab Suci (Yoh. 20:30).

Yang pasti, tidak semua hal harus berdasarkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci. Paulus, misalnya, menyarankan Timotius untuk menganggap kata-kata yang sehat yang dikatakan Paulus kepadanya sebagai norma (1 Tim. 1:13). Timotius tahu bahwa bahkan jika suatu ajaran tertentu tidak ditulis, orang Kristen masih diharapkan untuk mematuhinya (2 Tes. 2:15) dan tunduk kepada otoritas para pemimpin Gereja (Ibr. 13:17).

Jika kita mau membandingkan, tidak ada di dalam Kitab Suci yang menyebutkan kanon Kitab Suci Perjanjian Baru, tetapi hal tersebut sama sekali tidak menghalangi Gereja untuk menggunakan otoritas yang diberikan kepadanya oleh Kristus (Mat. 16: 15-19, 18: 17-18) untuk memutuskan kanon mana yang digunakan. Nah, sama seperti Gereja abad keempat memiliki wewenang untuk menentukan bahwa dua puluh tujuh buku termasuk dalam Perjanjian Baru, Gereja abad ke-19 memiliki wewenang untuk secara dogmatis mengakui bahwa Bunda Maria diangkat ke dalam surga.

Ingat, jika Kitab Suci tidak mencatat suatu peristiwa, itu tidak berarti bahwa peristiwa tersebut tidak pernah terjadi. Sebagai contoh, Kitab Suci tidak mencatat tentang perjalanan Paulus atau Petrus ke Roma, tapi nyatanya keduanya mati sebagai martir di kota itu. Maka, sangat tidak alkitabiah dan tidak berasalan jika – hanya karena tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Kitab Suci – kita menyimpulkan bahwa dogma Maria diangkat ke surga adalah sesuatu yang keliru; sebab kemungkinan diangkatnya tubuh dan jiwa manusia ke dalam surga sebelum terjadinya kedatangan kembali Sang Mesias sudah dikatakan di dalam Injil Matius 27:52-53. “Kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, mereka pun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang”.

Apakah semua orang suci yang sudah dibangkitkan itu kemudian mati dan harus dikuburkan lagi? Setidaknya, kita tidak menemukan adanya catatan tentang itu di dalam Kitab Suci; tetapi dicatat oleh para penulis Gereja mula-mula bahwa mereka semuanya diangkat ke surga, atau setidaknya mereka masuk ke dalam kebahagiaan sementara yang sering disebut ‘firdaus’; sambil menunggu kedatangan Yesus untuk kedua kalinya (lih. Luk. 16:22, 23:43; Ibr. 11:1–40; 1 Ptr. 4:6); setelah itu mereka dibawa-Nya ke surga surga yang abadi.

Kitab Suci juga menuliskan bahwa mereka yang menderita karena Kristus akan dimuliakan bersama Dia (Rm. 8:17); sehingga sudah sepantasnyalah dia yang hatinya tertusuk oleh penderitaan Putranya akan menerima pemuliaan-Nya dengan cara yang unik.

Meski tidak secara eksplisit disebutkan, beberapa teks Kitab Suci memberikan bukti bahwa Bunda Maria diangkat ke surga. Henokh dan Elia, misalnya, diangkat ke surga (Ibr. 11: 5, 2 Raj. 2:11). Juga, dalam Injil Matius 27: 52-53 kita membaca tentang bagaimana orang-orang kudus yang tubuhnya meninggalkan kubur setelah Kebangkitan Kristus. Nah, kebangkitan awal orang-orang kudus ini mengantisipasi kebangkitan orang-orang yang mati dalam iman, yang semuanya akan diangkat pada suatu hari dan menerima tubuh yang baru yang sudah dimuliakan. Karena itu, pengangkatan Maria ke surga merupakan suatu keyakinan bahwa Tuhan menganugerahinya rahmat ini sejak dini, seperti yang telah dilakukan-Nya kepada orang-orang lain di dalam Matius 27: 52-53. [Bersambung]

Referensi:
Tay, Stefanus & Listiati, Inggrid. 2016. Maria, O Maria. Bunda Allah, Bundaku, Bundamu. Surabaya: Penerbit Murai Publishing.
Pidyarto, H. 2015. Mempertanggungjawabkan Iman Katolik. Malang: Penerbit Dioma.
Dister, Nico Syukur. 2004. Teologi Sistematika 2. Yogyakarta: Kanisius.
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/how-to-argue-for-marys-assumption
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/assumptions-about-mary
https://www.catholic.com/qa/where-in-the-bible-does-it-say-that-mary-was-assumed-into-heaven
https://www.catholic.com/tract/immaculate-conception-and-assumption

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.