Hanya Setan yang Takut terhadap (Salib) Yesus

5
10157
Gambar ilustrasi dari nypost.com

Sejak kemarin viral di media sosial potongan video ceramah dari seorang tokoh agama tertentu yang membahas secara tidak pantas tentang ‘salib’ (simbol paling sakral  dalam agama Kristiani).

Secara pribadi, saya tidak kaget mendengar isi ceramah seperti ini; mungkin karena telinga saya sudah sering mendengar hal serupa. Miris memang, tetapi begitu nyatanya yang terjadi. Makanya, saya tidak mau ikut-ikutan terlalu serius menanggapi isi ceramah itu, apalagi sampai harus mengumbar ujaran kebencian terhadap si penceramah. Sebab, Yesus, Tuhan yang saya imani itu, pernah berkata: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu” (Mat. 5:44).

Tentu saja, kita tidak akan memaksa siapapun untuk menerima salib sebagai simbol yang sakral. Tidak, kita tidak akan pernah melakukan itu. Tapi, mestinya, jika tidak mau menerima salib sebagai sesuatu yang sakral, paling tidak jangan juga menjelekkannya. Mungkin itulah yang membuat banyak orang Kristiani sedikit baperan ketika menonton video yang berisi ceramah tentang salib itu.

Yang pasti, bagi orang Kristiani, salib bukanlah suatu peristiwa kebetulan, bukan pula suatu tragedi manusia. Namun sebaliknya, salib adalah puncak dari rencana ilahi. Salib merupakan representasi dari instrumen penyaliban Yesus. Itulah sebabnya mengapa salib menjadi simbol yang paling terkenal dalam kekristenan. Tapi, rasa-rasanya, mungkin karena terlalu ikonik itu jugalah sehingga sejumlah umat agama lain sering menolak kehadirannya.

Sekali lagi, bagi umat Kristiani, kematian Yesus di kayu salib itu bukanlah suatu tanda kekalahan, melain justru kemenangan. Penderitaan dan wafat-Nya itu memang merupakan suatu ‘kebodohan’ menurut hikmat manusia, tetapi merupakan ‘kemenangan’ menurut hikmat Allah (lih. 1 Kor 1: 18-31). Di sinilah kita harus paham bahwa dalam hal apapun orang biasanya mencemooh sesuatu yang tidak dia mengerti. Maka, jika kita berhadapan dengan orang seperti ini, kita tidak perlu menghujat, apalagi mencaci makinya. Dia ngomong begitu karena dia tidak mengerti.

Saya sendiri sebetulnya heran juga mengapa ada orang yang begitu alergi atau takut terhadap (salib) Yesus. Setahu saya, dalam Kitab Suci, hanya setan yang takut terhadap Yesus. Diceritakan Injil Lukas, misalnya, bahwa ketika setan itu melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur di hadapan-Nya dan berkata dengan suara keras: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi? Aku memohon kepada-Mu, supaya Engkau jangan menyiksa aku” (Luk. 8:28). Setan itu begitu takutnya terhadap Tuhan Yesus.

Begitu pula yang dialami oleh ketujuh puluh murid Yesus. Ketika mereka kembali dari perutusan, mereka membawa laporan kepada Yesus. Mereka berkata: “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit” (Luk. 10: 17-18).

Ketakutan setan terhadap (salib) Yesus bahkan pernah divisualisasikan dalam bentuk film. Seorang penulis buku The Vampire Defanged, Susanah Clements, pernah menuliskan bahwa salib adalah senjata terbaik untuk melawan vampir; sebab vampir-vampir takut terhadap (salib) Yesus. Makanya, jangan heran kalau di dalam sejumlah dongeng vampir tradisional, salib dan simbol-simbol kekristenan lainnya dinilai efektif melawan vampir.

Jadi, saudara-saudaraku, tidak perlu marah dan jengkel apabila ada orang yang mencemooh (salib) Yesus. Doakan saja mereka. Mereka membutuhkan doa-doa kita; sebab boleh jadi mereka sedang kerasukan setan.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.