NKRI Harga Mati, Katolik sampai Mati

0
447
Upacara bendera usai Perayaan Ekaristi di kompleks Gereja Paroki St. Theresia, Pelaihari - Kalimantan Selatan

NKRI Harga Mati, Katolik sampai Mati: Renungan HUT Kemerdekaan RI ke-74, Sabtu 17 Agustus 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Sir. 10:1-8; Bacaan II: 1 Ptr. 2:13-17; Injil: Mat. 22:15-21

Hari ini kita merayakan Hari Kemerdekan yang ke-74 dari negara kita. Jika ini umur manusia, maka pastilah sudah sangat sepuh; dan hampir pasti arif dan bijak juga.

Kita berharap agar di usia kemerdekaan yang ke-74 ini, negara kita memiliki pemerintah yang arif dan bijak. Mengapa? Karena, seperti kata penulis Kitab Putra Sirakh dalam bacaan pertama hari ini, ‘pemerintahan yang bijak menjamin ketertiban dalam masyarakat, dan sebuah kota menjadi sejahtera berkat kearifan para pembesarnya’ (Sir. 10:1, 3).

Munculnya kelompok-kelompok yang kurang senang terhadap kebhinnekaan akhir-akhir ini menunjukkan betapa kita sangat membutuhkan pemimpin yang arif dan bijaksana itu. Maka dari itu, sembari kita bersyukur kepada Tuhan atas rahmat kemerdekaan ini, kita juga memohon agar negara kita dikaruniai pemimpin yang arif dan bijak, pemimpin yang senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh rakyatnya, bukan hanya kepentingan orang per-orangan dan atau kepentingan kelompok tertentu saja.

Kita percaya bahwa ‘di dalam tangan Tuhan terletak kuasa atas bumi, dan pada waktunya Ia mengangkat orang yang serasi atasnya’ (Sir. 10:5). Karenanya, kita yakin bahwa pemerintah yang sedang memimpin saat ini adalah pilihan Tuhan sendiri melalui suara-suara kita. Ingat, “Suara rakyat adalah suara Tuhan”.

Tapi, kita juga tahu bahwa para pemimpin kita bukanlah malaikat. Sama seperti kita, mereka juga dapat salah kapan saja. Lagi-lagi, pedoman kita hari ini adalah Kitab Putra Sirakh, yang berbunyi: “Jangan pernah menaruh benci kepada sesamamu apapun kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu” (Sir. 106).

Belakangan ini, ungkapan kebencian terhadap pemerintah bertebaran di mana-mana. Bahkan, orang sampai mengeluarkan kata-kata yang kasar sekali. Padahal, segala permasalahan tidak akan pernah selesai hanya dengan mencaci maki. Malah, kita bisa dijerat UU ITE dan dijebloskan ke dalam penjara. Negara kita ini adalah negara hukum. Siapapun yang melakukan penyimpangan, baik rakyat maupun pemerintah, akan berhadapan dengan hukum.

Dalam 1 Petrus 2:13 dikatakan: “Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik”. Jangan sampai ada orang Katolik yang mencaci maki pemerintah.

Kita bersyukur sekali bahwa kita hidup secara merdeka; kita bisa bekerja dengan baik, hidup nyaman dan aman, kita bisa menjalankan hidup keagamaan kita dengan baik, meski di sana sini masih ada kekurangan. Maka, sebagaimana yang tertulis di dalam 1 Petrus 2:16 “Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” Jangan mudah dihasut dan diprovokasi. Orang yang mudah dihasut dan diprovokasi bukanlah ciri orang merdeka.

Bahwasanya, kita memang merdeka, tapi kemerdekaan kita itu harus digunakan sebaik-baiknya; supaya tidak menabrak aturan. Akhir-akhir ini, banyak orang menyalahgunakaan kemerdekaannya. Mentang-mentang ada kebebasan berkumpul dan berpendapat, lantas seenaknya mencaci maki pemerintah dan sesamanya. Yang begituan jelas dilarang. “Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja”.

Sudah menjadi tanggung jawab kita untuk tunduk pada mereka yang memimpin kita; dan itu sama sekali tidak menyalahi perintah Tuhan. justru, dalam Injil hari ini, Yesus bilang: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat. 22:21). Artinya, sebagai warga negara yang baik tunaikan tugas kita sebagai warga negara yang baik; dan sebagai warga agama yang baik, kita juga harus tunaikan tugas dan tanggung jawab kita sebagai umat beragama yang baik. Keduanya, jangan dicampur aduk; dan jangan juga dipertentangkan.

Kita adalah warga Gereja, sekaligus warga negara. Kita 100% Katolik, 100% Indonesia. Tidak ada tawar-menawar, bagi kita NKRI itu harga mati; dan menjadi Katolik itu jelas harus sampai mati. Merdeka!!!

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.