Apapun Alasannya, Tak Ada Kata Cerai dalam Perkawinan Katolik

1
2913
stevepb / Pixabay

Artikel ini disusun berdasarkan dua bacaan Kitab Suci hari ini, yaitu Bacaan I: Yos. 24:1-13 dan Injil: Mat. 19:3-12. Maka, postingan yang sedang Anda baca ini sebetulnya merupakan lanjutan dari renungan hari ini yang saya posting terlebih dahulu. Jika ingin membaca renungannya, bisa dibuka di sini: Tuhan Baik, Maka Janganlah Ingkar Janji.

Hukum Gereja menegaskan bahwa TIDAK ADA kata ‘CERAI’ di dalam Gereja Katolik. Orang Katolik menikah hanya sekali saja, dan pernikahan itu berlaku untuk seumur hidup. Ajaran ini jelas mempunyai dasar di dalam Kitab Suci. Dalam Injil hari ini (Mat. 19:3-12), kita membaca atau mendengar cerita tentang orang-orang Farisi yang bertanya kepada Yesus mengenai perceraian. Penulis Injil Matius memberikan catatan kecil bahwa pertanyaan mereka itu bukan untuk mencari tahu, tapi semata-mata untuk mencobai Yesus. Mereka bertanya: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?” (Mat. 19:3).

Yesus menjawab, “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat 19:3-6).

Berdasarkan ajaran ini, kita orang-orang Katolik yakin bahwa ketika seorang laki-laki yang dibaptis Kristiani secara sukarela menikahi seorang perempuan yang dibaptis Kristiani, mereka membentuk suatu ikatan sakramental yang tak terceraikan.

Ikatan sakramental yang tak terceraikan ini dinyatakan dalam Janji Perkawinan yang saling mereka ikrarkan, “Di hadapan Romo, para saksi, saya BUDI menyatakan dengan tulus ikhlas bahwa MAWAR yang hadir di sini, mulai sekarang menjadi isteri (suami) saya. Saya berjanji setia kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit, saya mau mencintai dan menghormati engkau seumur hidup. Demikianlah janji saya demi Allah dan Injil suci ini” (Ritus Perkawinan).

Hukum Gereja (Kan. 1141) mengajarkan bahwa ‘perkawinan ratum (secara formal adanya janji perkawinan oleh dua orang dibaptis di depan iman dan para saksi) dan consumatum (adanya hubungan badan) tidak dapat diputus oleh kuasa manusiawi manapun dan atas alasan apapun, kecuali oleh kematian.

Menariknya, orang-orang Farisi mengutip contoh dari pengalaman Musa. Dalam hukum Musa, Ul 24:1-4, Musa memang memperbolehkan perceraian ‘apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai, sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya’.

Yesus mengetahui bahwa Musa memperbolehkan perceraian dengan tujuan untuk melindungi hak dan martabat kaum wanita; dan bukan untuk memberi hak istimewa kepada kaum pria untuk menceraikan istrinya.

Musa memperbolehkan perceraian, karena kekerasan hati bangsa Israel yang pada masa masa itu menganggap kaum wanita sebagai warga kelas rendah, bahkan seperti budak, hampir seperti binatang. Makanya, dengan mengizinkan adanya surat cerai, Musa melindungi hak dan martabat wanita, sebab seandainya wanita tersebut dimadu, tentu kondisinya lebih buruk lagi. Jadi, sejatinya, perceraian tidak pernah sesuai dengan rencana awal Allah.

Orang-orang Farisi sebenarnya mengetahui hal itu; tetapi, seperti kata penginjil Matius, mereka ingin menjebak Yesus, supaya Yesus membuat kontradiksi dengan ajaran hukum Taurat. Namun, Yesus sudah mengetahui maksud jahat mereka. Makanya, Ia berkata kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian” (Mat. 19:8).

Yesus dengan tegas mengajarkan bahwa kesatuan perkawinan antara suami dan istri tidak terceraikan.  Nah, inilah pengajaran yang dipegang oleh Gereja Katolik sampai hari ini, yaitu bahwa jika perkawinan yang dilakukan itu sah (dalam artian tidak ada cacat konsensus, tidak ada halangan pernikahan; dan perkawinan itu dilakukan sesuai dengan ketentuan kanonik), maka  jika suatu saat kedua pihak memutuskan untuk berpisah, mereka tidak dapat menikah lagi.

Ada sisi yang menarik dari jawaban Yesus kepada orang-orang Farisi itu; dan jawaban itu yang kadang-kadang digunakan oleh kaum pria sebagai pembenaran untuk menceraikan istri. Yesus berkata: “Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zina” (Mat. 19:9).

Tampaknya, ayat dalam Injil Matius ini sulit dimengerti dan ‘rawan’ untuk disalah-mengerti. Banyak orang gagal paham atas teks ini. Mereka mengira bahwa kalau demikian, perceraian boleh saja dilakukan sejauh itu karena si istri kedapatan berbuat tidak senonoh atau berzina.

Benarkah begitu maksud Yesus dalam Injil Matius ini? Marilah kita bandingkan kutipan dalam Injil Matius ini dengan apa yang tertulis di dalam Injil Markus dan Lukas. Dalam Injil Markus dikatakan: “Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinaan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zina” (Mrk. 10:11-12).

Hal senada dengan Injil Markus, muncul juga dalam Injil Lukas: “Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zina; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zina” (Luk. 16:18).

Apa yang tertulis di dalam Injil Markus dan Injil Lukas ini sangatlah jelas, yaitu bahwa Tuhan Yesus melawan setiap perceraian baik dari pihak istri maupun suami, juga apabila ada perzinaan. Lantas, bagaimana dengan kutipan dalam Injil Matius? Matius sebetulnya ingin merumuskan maksud Yesus dengan lebih teliti bahwa pada pokoknya, Yesus melawan setiap perceraian, tetapi apabila seorang istri sangat kurang setia, maka sulitlah pernikahan itu berjalan terus.

Kita tahu bahwa Yesus sangat konsisten dengan pengajaran pada Perjanjian Lama, bahwa perceraian dianggap sebagai sesuatu yang tidak patut. Dengan demikian, menceraikan pasangan ‘karena zina’ bukanlah opsi yang dimungkinkan pada Hukum Taurat. Mengapa? Karena dalam hukum Taurat sangat jelas dikatakan bahwa sanksi dari perzinaan bukanlah perceraian tetapi hukuman mati dengan rajam. “Bila seorang laki-laki berzina dengan isteri orang lain, yakni berzina dengan isteri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzina itu” (Im. 20:10).

Referensi:
http://www.katolisitas.org/tentang-perkawinan-tak-terceraikan-mrk-101-12/
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/did-jesus-say-adultery-is-grounds-for-divorce
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/marriage-and-divorce-in-the-teaching-of-jesus
https://www.catholic.com/tract/the-permanence-of-matrimony
http://www.sarapanpagi.org/perceraian-kecuali-karena-zinah-matius-19-9-vt2169.html

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.