17.5 C
New York
Saturday, June 12, 2021

Hanya Yesus yang Menjamin Kehidupan Kekal dan Kebangkitan Orang Mati

Dasar Kitab Suci: Kis. 9:1-20; Yoh. 6:52-59

Kita semua berdosa. Dosa dan kecenderungan untuk berbuat dosa sudah menjadi bagian dari hidup kita sebagai manusia. Inilah warisan paling jelas yang diturunkan dari leluhur umat manusia, Adam dan Hawa.

Namun kita bersyukur sebab kita mempunyai seseorang yang mampu membebaskan kita dari hukuman akibat dosa. Dia adalah Yesus Kristus, Tuhan kita. Dosa kita telah ditebus oleh Yesus dengan harga yang sangat mahal. Bukan dengan emas, bukan pula dengan perak, tetapi dengan darah-Nya yang tertumpah di kayu salib.

Apakah Yesus pura-pura saja mati di kayu salib? Atau apakah kematian-Nya di kayu salib digantikan oleh orang lain? Jawabannya: tentu saja tidak. Tidak ada kepura-puraan dalam diri Yesus. Ia sungguh-sungguh wafat sebagai jalan tebusan bagi dosa-dosa kita. Kitab Suci sudah sangat jelas mengatakan itu. Dan, hal itu sudah disampaikan-Nya jauh sebelum Ia menderita dan wafat di kayu salib.

Ketika Ia mengajar di rumah ibadat di Kapernaum, misalnya, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh. 6:53-56).

Yesus memberikan diri-Nya kepada kita sebagai ‘makanan’ yang menghidupkan. Inilah santapan rohani kita. Kita hidup oleh Dia. Kekuatan kita harus datang dari Tuhan, bukan yang lain. Tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Yesus. Yang lain hanya bisa berharap dan berdoa, hanya Yesus yang bisa menjamin hidup yang kekal dan kebangkitan pada akhir zaman. Bukankah perkataan ini sudah sangat jelas dan tegas? Maka, tak perlu lagi bersikap seperti Thomas yang penuh keraguan.

Yesus mengorbankan diri-Nya untuk kita sebagai tanda cinta-Nya kepada kita. Di kala orang lain memberi bunga mawar sebagai tanda cinta, Yesus justru menunjukkan cinta-Nya dengan memberikan tubuh dan darah-Nya sendiri. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13).

Lantas, dengan apa kita membalas cinta Tuhan ini? Tak jarang balasan kita tidak seperti yang diharapkan. Banyak orang bertingkah seperti Yudas yang berkhianat. Juga, tidak sedikit yang seperti Petrus yang menyangkal Yesus di depan umum dan atau secara diam-diam.

Tak jarang, kita menyia-nyiakan pengorbanan Yesus di kayu salib dengan ulah kita yang tak pantas. Kita berpikir bahwa kita bisa hidup hanya dengan kemewahan, harta benda, makan minum yang enak. Kita lupa bahwa jika kita tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kita tidak mempunyai hidup. Dengan kata lain, jika kita tidak bersatu dengan Dia, kita akan mati. Kita menjadi ‘mayat berjalan’. Hidup kita hampa.

Kita ini adalah murid-murid Tuhan. Kita tidak sendiri. Ada banyak juga murid-murid Tuhan yang lainnya. Demi mempertahankan iman kepada Kristus, mereka rela menumpahkan darah. Merekalah martir Gereja. Dan, Gereja dibangun di atas darah para martir itu.

Hari ini, kita bisa mengekspresikan iman kita tanpa banyak tekanan. Kalaupun masih ada pergulatan di sana-sini, tentu tak sampai berdarah-darah. Kita hanya cukup mengeluarkan keringat untuk membangun dan mempertahankan iman kita.

Maka dari itu, jangan patah semangat. Tugas kitalah memberitakan kabar baik dari Tuhan ini kepada dunia. Sebab, Tuhan Yesus sendiri bersada: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk. 16:15).

avatar
Jufri Kano, CICM
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
avatar
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini