Imam Agung Melkisedek dalam Kitab Suci: Raja Kebenaran

0
1159
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Surat kepada Orang Ibrani (lih. Ibr. 7:1-3) menjabarkan ciri-ciri imam Melkisedek. Melkisedek mempunyai ciri-ciri khusus yang membuatnya menjadi ‘gambaran’ Kristus. Hubungan antara Kristus dengan Melkisedek secara khusus tertulis dalam frasa, ‘tidak ber-bapa, tidak ber-ibu, tidak bersilsilah’, yang mengacu pada kekekalan.

Oleh karena keterangan yang penuh misteri tentang tokoh Melkisedek dalam Kitab Kej. 14:18-20 dan Mzm. 110:4, maka beberapa komentator Yahudi melihat tokoh ini sebagai simbol akal budi manusia yang diterangi oleh kebijaksanaan ilahi (lih. Philo dari Alexandria, De legum Allegoria, 3, 79-82).

Sejarawan Yahudi, Flavius Josephus (37-100), menghubungkan Melkisedek dengan ‘Pangeran Kanaan’. Nama ‘Melkisedek’ adalah nama Kanaan, yang berarti ‘rajaku adalah benar’ atau ‘Raja Kebenaran’ (lih. Yos 10:13). Menurut arti namanya, Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera (lih. Ibr. 7:2). Kata ‘Salem’ kemungkinan adalah kependekan dari Yerusalem (lih. Mzm 76:2). Raja Salem artinya ‘Raja Damai’ (berhubungan dengan kata Ibrani, ‘shalom‘ yang berarti ‘damai’.

Kitab Keluaran mengajarkan bahwa meskipun hidup di tanah Kanaan yang menyembah banyak allah, Melkisedek adalah imam Allah yang sejati. Meskipun ia bukan anggota bangsa pilihan Allah, ia memiliki pengetahuan akan Allah yang Mahatinggi.

Mazmur 110 menjabarkan pewahyuan tentang Sang Mesias: seorang keturunan Daud, bukan hanya seorang Raja, namun juga seorang Imam, dan Ia bukan Imam menurut keturunan Harun, namun Ia adalah Imam menurut ketentuan baru yang ditentukan Allah, atau yang disebut dalam surat kepada jemaat Ibrani, ‘menurut ketentuan Melkisedek.’ Maka, Melkisedek, adalah suatu gambaran akan imamat baru yang ditentukan Allah, yang tidak tergantung dari Hukum Musa.

Karena itu, pada figur Melkisedek ada dua ciri-ciri kerajaan Mesianis, yaitu ‘kebenaran dan damai’ (lih. Mzm. 85:10;89:14;97:2; Yes. 9:5-7;2:4; 45:8, Luk. 2:14). Lagipula, karena Kitab Kejadian tidak mengatakan apapun tentang latar belakang dan silsilahnya, maka Melkisedek sering diinterpretasikan sebagai gambaran akan Kristus yang kekal. Jadi, bukan Kristus yang dikatakan mirip dengan Melkisedek, tetapi Melkisedek yang mirip dengan Kristus – karena ia (Melkisedek) diciptakan agar menjadi gambaran akan Kristus, sang Imam yang sempurna. Theodoret dari Cyrus mengatakan:

“Kristus Tuhan mempunyai segala ciri-ciri ini … (Dalam kodrat-Nya sebagai Allah) Kristus tidak ber-ibu, sebab Ia lahir dari Allah Bapa saja. (Dalam kodrat-Nya sebagai manusia) Kristus tidak ber-bapa, sebab Ia dikandung oleh Sang Perawan (Maria) saja. Ia tidak mempunyai silsilah, sebab sebagai Tuhan, Ia yang lahir dari Allah Bapa tidak membutuhkan silsilah. Ia tidak mempunyai awal mula, sebab Ia ada dalam kekekalan. ‘Ia tidak mempunyai akhir’ sebab Ia mempunyai kodrat yang kekal. Dengan semua alasan ini, Kristus sendiri tidak untuk diperbandingkan dengan Melkisedek, tetapi Melkisedek dengan Kristus”.

Sebagai seorang imam Allah yang Maha Tinggi, namun bukan anggota dari bangsa Yahudi, Melkisedek adalah contoh bagaimana Tuhan menaburkan benih kebenaran akan keselamatan yang melampaui batas bangsa. “Keimamatan Kristus, yang di di dalamnya para imam telah mengambil bagian, harus diarahkan kepada semua bangsa, dan tidak dibatasi oleh batas hubungan darah, ras, atau zaman, sebagaimana telah digambarkan dengan cara yang misterius dalam gambaran Melkisedek. Maka, para imam, harus ingat bahwa perhatian kepada semua Gereja harus menjadi perhatian mereka yang terdalam” (Konsili Vatikan II, Presbyterorum Ordinis, 10).

Sumberhttp://www.katolisitas.org/tentang-imam-agung-melkisedek-ibr-71-3/

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289