Jika Engkau Mau, Sembuhkan Aku

0
68

Sesungguhnya setiap orang hanya mau sehat sepanjang hidupnya.  Tidak ada yang mau sakit. Tapi hanya mau sehat atau tidak mau sakit, hanyalah harapan. Kenyataannya lain. Setiap orang pernah sakit.  Setiap orang tak selalu sehat. Tak perlu ada yang menyangkalnya. Yang berbeda hanya jenis penyakit yang diderita, lama waktu sakit dan kapan sakit, dll.

Saat menderita sakit, setiap orang ingin segera sembuh. Untuk sembuh, ia perlu bantuan sesama (dokter, perawat, keluarga, dll). Ia butuh perawatan intensif. Saat inilah orang sakit dan keluarganya mengorbankan segalanya (harta, dll). Tujuannya: segera sembuh. Tak ada orang yang mau lama-lama menderita sakit. Tak ada seorang pun mau lama-lama berbaring di tempat tidur Rumah Sakit atau di rumahnya sendiri.

Bagi  orang yang percaya kepada Tuhan Yesus,  untuk sembuh itu tak hanya mengandalkan bantuan sesama (dokter, perawat, keluarga, dll.). Ia membutuhkan bantuan Tuhan Yesus. Bahkan Yesus dipercaya sebagai “Dokter Ilahi” yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Kepercayaan akan Yesus sebagai “Dokter Ilahi” itu memang  dilandaskan pada aneka kisah  dalam Injil tentang Yesus yang menyembuhkan orang-orang sakit secara ajaib.

Karena itu, orang sakit terus berdoa dan menyerahkan dirinya kepada Yesus agar berkenan segera disembuhkan. Ia juga meminta keluarga atau kenalannya agar mendoakannya. Atau kalau ia sakit berat, keluarga dan kenalannya, tanpa diminta, pasti akan selalu mendoakannya. Tentang hal ini, banyak orang yang mengakui telah mengalami kesembuhan secara ajaib. Bagi mereka,  yang menyembuhkan mereka secara ajaib itu tak lain adalah Yesus, Sang Dokter Ilahi.

Jika mengalami kesembuhan, orang mengucapkan syukur. Ucapan syukur itu berlandaskan keyakinan bahwa ia telah  disembuhkan oleh Tuhan Yesus melalui cara-Nya sendiri yang tak bisa dijelaskan secara tuntas oleh akal budi. Tentu saja diyakini juga bahwa Tuhan Yesus bekerja melalui sesama (dokter, perawat, keluarga, dll). Karena itu, menyampaikan terima kasih kepada sesama atas segala pelayanan selama sakit adalah hal penting yang tak boleh diabaikan.  Ucapan terima kasih ini dilakukan juga dengan mendoakan mereka agar tetap sehat sehingga masih bisa melanjutkan karya pelayanan dengan baik.

Pengalaman sakit inilah yang dialami seseorang dalam Injil hari ini (Mat. 8:1-4).  Ia menderita penyakit kusta. Ini penyakit yang menyebabkan penderitaan mendalam. Orang yang mengidap penyakit ini tak hanya menderita secara fisik, tapi juga secara sosial. Orang kusta disingkirkan dari masyarakat. Ia harus dikarantina! Tujuannya agar penyakit ini tak menular ke orang lain. Mereka tak boleh bergerak bebas apalagi bergabung dengan banyak orang.  Kita bisa bandingkan dengan saudara/i yang terinfeksi Covid-19 saat ini dan dikarantina. Mereka pasti sangat menderita.

Karena sangat menderita secara fisik dan sosial, orang yang menderita kusta pasti ingin segera sembuh. Dalam Injil hari ini, seseorang yang menderita kusta itu datang kepada Yesus. Ia tentu sudah mendengar  berita tentang siapa Yesus. Ia sujud menyembah Yesus dan berkata, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.”  Yesus tentu tahu betapa menderitanya orang itu. Tanpa menunggu lama, Yesus langsung mengulurkan tangan-Nya, menjamahnya seraya berkata, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”  Sembuhlah orang itu.  Mukjizat terjadi.

Tentu saja orang kusta yang telah disembuhkan secara ajaib oleh Yesus itu sangat bersuka cita. Ia pasti sangat bersyukur atas rahmat kesembuhan yang diterimanya. Ia pasti sangat berterima kasih kepada Yesus.

Yesus meminta orang itu agar bertemu dengan para imam dan memperlihatkan diri kepada mereka bahwa ia telah sembuh.  Ia juga diminta agar mempersembahkan persembahan yang diperintahkan Musa sebagai bukti kesembuhan. Ini perintah hukum. Mengapa mesti memperlihatkan kesembuhan ini kepada imam? Karena mereka adalah pemimpin yang ‘berkuasa’ memastikan kesembuhan para penderita kusta. Setelah itu, seizin para imam, orang yang telah sembuh dari penyakit kusta boleh bergabung kembali dengan banyak orang; boleh hidup bebas di tengah masyarakat. Ia tak dikarantina lagi.

Saya tertarik untuk menggarisbawahi cara orang kusta ini meminta bantuan Yesus. Walau sangat menderita, ia tak menyuruh atau memaksa Yesus agar segera menyembuhkannya. Kata-katanya sangat menyentuh. “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Ia hanya meminta kemurahan hati Yesus atas dirinya. Tak ada paksaan. Saya kira,  Yesus tersentuh dengan cara minta bantuan dari orang kusta ini.  Makanya, Ia langsung menanggapinya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”

Bagi saya, cara minta dari orang kusta ini menjadi contoh doa yang baik bagi para pengikut Yesus sepanjang zaman. Saya katakan demikian, karena kecenderungan kita adalah memaksa dan memerintahkan Tuhan Yesus untuk memenuhi apa pun yang kita minta. Dalam doa, kita cenderung memaksa Yesus agar mengabulkan setiap permohonan kita. Padahal, belum tentu semua permohohan itu sesuai dengan kehendak Allah. Barangkali itu hanya keinginan untuk memuaskan hasrat duniawi kita. Kalau tak dikabulkan, kita malas berdoa dan langsung berprasangka buruk terhadap Tuhan. “Ia tak peduli dengan penderitaanku; Ia tak mengabulkan permohohanku; mungkin Tuhan tidak sayang padaku, dll.” Begitulah kita mengungkapkan kekecewaan kepada Tuhan.

Karena itu, kita perlu membarui cara kita berdoa. Baiklah kita berseru, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku;  atau, jika Tuan mau, Tuhan menyembuhkan aku.” Atau, “Ya Tuhan, jika sesuai dengan kehendak-Mu, kabulkan permohonanku ini.” Selebihnya, biarkan Tuhan melakukan apa yang menjadi bagian-Nya.  Sebab, Ia sesungguhnya tahu apa yang paling kita butuhkan dalam hidup ini. Yang  paling kita butuhkan itu, pasti diberikan-Nya melalui pelbagai macam cara. Jika yang kita minta belum dikabulkan, barangkali  permintaan itu belum sesuai dengan kehendak-Nya. Tetaplah berpikir positif tentang-Nya.***

Labuan Bajo, 26 Juni 2020

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.