Tuhanlah Kekuatan Umat, Ia Menyertai Kita Selamanya

0
241

Hidup kita selalu mengalir. Baru dan baru lagi tiap harinya. Pengalaman bertambah, umur menua, kulit makin keriput.

Semua berjalan maju. Tidak ada yang tinggal tetap, apalagi bergerak mundur. Dan, kita tidak bisa mengulang peristiwa yang sudah berlalu. Kesempatan yang sama hanya datang satu kali. Sekali kita melewatinya, kita kehilangan kesempatan itu.

Kadang, kita membiarkan kesempatan berlalu begitu saja. Kita merasa terlalu sulit untuk mengambilnya. Atau, kita terlalu takut untuk menjalaninya.

Maka, yang terjadi berikutnya hanyalah penyesalan. Dan, menyesal kemudian jelas tidak ada gunanya. Memang, kata orang-orang, ‘penyesalan selalu datang terlambat’.

Kita selalu menginginkan kesempatan yang baik datang menghampiri kita, tapi sayangnya, kita menolak menghadapi kesulitannya. Kita lupa bahwa kesempatan yang baik seringkali datang bersamaan dengan sejumlah kesulitan. Jika kita menghindari kesulitannya, jangan-jangan pada saat yang sama kita  kehilangan kesempatan yang baik itu.

Karena itu, seharusnya, kesulitan dihadapi, bukannya dihindari. Memang, berhadapan dengan kesulitan, dibutuhkan perjuangan. Tapi yakinlah, tak ada perjuangan yang sia-sia. Hasil selalu sejalan dengan perjuangan. Berjuang besar, hasil besar. Tanpa perjuangan, hasil nol besar.

Yakinlah, di setiap kesulitan pasti ada hikmahnya, dan di ujung semua kesulitan, ada secercah harapan menanti kita. Harapan itu sudah disiapkan oleh Tuhan bagi kita. Yang terpenting kita percaya kepada-Nya.

Ya, dalam Tuhan selalu ada harapan; sekalipun di mata manusiawi kita, sepertinya tak ada harapan lagi. Bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin. Apa yang bagi kita tidak mungkin, selalu mungkin bagi Tuhan. Yang terpenting kita tambatkan jiwa kita pada janji-janji-Nya.

Janji Tuhan itu pasti. Janji Tuhan tak pernah palsu. Tuhan tak pernah ingkar janji.  Karenanya, ketika kita menghadapi kesulitan, jangan lupa bahwa Tuhan punya satu janji untuk kita. Ia berkata:

Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20).

Tuhan berjanji untuk menyertai kita selamanya. Ia memelihara kita setiap saat. Kita tidak sendiri. Kita berharga di mata-Nya.

“Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit” (Mat. 10:30-31).

Tuhan memperhatikan kita. Ia mempedulikan hidup kita. Ia bersama kita. Tak ada yang perlu ditakutkan bagi orang yang percaya pada penyertaan Tuhan.

Jika Tuhan menyertai kita, kita tidak takut. Sebab, kata pemazmur:

TUHAN di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Mzm. 118:6).

Tuhan mengerti kesengsaraan kita, sebab Ia sendiri sudah mengalaminya. Tidak ada artinya kesengsaraan kita jika dibandingkan dengan kesengsaraan yang dialami oleh Tuhan Yesus dalam perjalanan-Nya menuju Bukit Tengkorak.

Jika kita mengalami kesepian yang akut, jangan lupa Tuhan Yesus mengalaminya di kayu salib ketika Dia berseru dengan suara nyaring:

Eloi, Eloi, lama sabakhtani?” yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mrk. 15:34).

Jika kita dibenci orang, Tuhan Yesus juga sudah mengalaminya. Ia berkata:

Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu” (Yoh. 15:18).

Karena itu, jangan takut, Tuhan mengerti keadaan kita. Ia akan menjadikan segalanya baik. “Ia menjadikan segalanya baru (Why. 21:5). Kita harus punya keyakinan seperti Yeremia, ketika dia berkata: “TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah” (Yer. 20:11).

Maka dari itu, jangan takut terhadap apapun juga atau siapapun juga. Takutlah hanya kepada Tuhan: takut tidak bisa mematuhi perintah-Nya, takut melanggar larangan-Nya. Tuhan bersabda:

“Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka” (Mat. 10:28).

—JK-IND—

avatar
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.