Teologi Ekaristi Zaman Ini: Kristus Hadir dalam Gereja dan Liturgi

0
171
  1. Kehadiran Kristus dalam Ekaristi

Kehadiran Kristus dalam Ekaristi  menjadi fokus perhatian berkepanjangan dalam sejarah teologi. Zaman Skolastik (abad ke-9 hingga abad ke-15) memahami kehadiran Kristus dalam dua bentuk, yakni kehadiran-Nya dalam diri manusia (inhabitatio Dei) dan dalam rupa roti dan anggur (Ekaristi). Manusia menjadi kediaman dan bait Allah (Ef 2:21-22). Pada pertengahan abad ke-20, diskusi teologis tentang kehadiran Kristus kembali disoroti, karena adanya pembaharuan liturgi dan teologi Dom Odo Casel (1886-1948). Hasil keputusan dari diskusi teologis ini adalah Kristus hadir dalam Gereja dan liturgi, sebagaimana juga telah digagas sebelumnya oleh Paus Pius XII dalam Ensklik Mediator Dei (1947) dan ditegaskan kembali oleh Konsili Vatikan II dalam Sacrosanctum Concilium artikel 7.

Diskusi teologis realis praesentia, pada dekade 1950 hingga 1960-an, memfokuskan perhatian pada masalah konsepsi transubstantio. Dalam diskusi ini, substansi diartikan sebagai materi atau bahan fisik. Pandangan ini berbeda dengan paham Skolastik dan Trente, yang melihat substansi sebagai hakikat atau esensi, dan materi dipahami sebagai accidentia. Perkembangan arti substansi dipengaruhi oleh modernitas ilmu pengetahuan alam.

Filsuf Bernhard Welte melihat makna substansi (das sein) dalam hubungan dengan manusia. Roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus karena penetapan ilahi oleh Yesus pada perjamuan malam terakhir bersama para murid-Nya. Piet Schoonenberg dan E. Schillebeeckx mendukung gagasan Welte. Bahkan mereka mengusulkan istilah transsignifikasi dan transfinalisasi. Transsignifikasi artinya perubahan makna tanda atau simbol. Transfinalisasi artinya perubahan tujuan substansi roti dan anggur sebagai tanda kehadiran personal Kristus. Schoonenberg menunjuk fungsionalitas transfinalisasi. Para teolog dan Paus Paulus VI dalam ensiklik Mysterium Fidei, menolak istilah transsignifikasi dan transfinalisasi. Menurutnya, dalam transubstantio tidak hanya terjadi perubahan fungsi, tujuan dan makna, melainkan seluruh esensi dan hakikat roti dan anggur berubah total menjadi tubuh dan darah Kristus.

  1. Ekaristi sebagai kurban Kristus

Kaum reformator mempertanyakan paham Gereja Katolik tentang Ekaristi sekaligus sebagai kurban salib Kristus dan kurban Gereja. Mereka mempersoalkan di manakah letak kurban Gereja dalam perayaan Ekaristi. Bukankah Ekaristi itu semata-mata kurban salib Kristus? Persoalan ini menjadi debat teologis Konsili Trente hingga abad ke-20.

Beberapa teolog protestan (L. Billot, de La Taille, dkk.) penggagas teologi kurban menjelaskan makna kurban berdasarkan sifat tanda. Para teolog Katolik Odo Casel, A. Vonier dan Johannes Betz merenungkan makna kurban Ekaristi dalam kaitannya dengan perjamuan secara sistematis. Para teolog Prostestan  melalui berbagai tesis Arnolshaimer (pernyataan komisi teologis Gereja Protestan tahun 1947-1957) tetap menolak ajaran gereja Katolik tentang transubstantio. Debat teologis ini masih menjadi bahan diskusi ekumenis pada zaman ini.

  1. Ekaristi sebagai perjamuan sakramental

Perayaan Ekaristi merupakan suatu perjamuan pengenangan wafat dan kebangkitan Kristus, yang ditetapkan oleh Kristus sendiri pada perjamuan malam terakhir bersama para murid-Nya. Dalam perayaan Ekaristi terdapat unsur-unsur perjamuan, yakni makanan dan minuman, tuan rumah penyelenggara pesta, dan para undangan. Gagasan ini dicetuskan oleh para teolog pembaruan liturgi Katolik R. Guardini, Odo Casel, G. Söhngen dan J. Pascher.

Gagasan para teolog Katolik di atas ditentang oleh para teolog lain, yakni J.A. Jungmann, H. Schűrmann, J. Ratzinger, W. Kasper, dan Lothar Lies. Mereka berpendapat bahwa pada dasarnya perayaan Ekaristi adalah suatu perayaan puji syukur. Hal ini tampak melalui susunan Doa Syukur Agung yang sumbernya diambil dari doa birkat ha-mazon. Dari kedua pendapat ini, akhirnya disimpulkan bahwa perayaan Ekaristi memiliki dua bentuk, yakni makna dan perayaan. Makna Ekaristi adalah suatu perayaan puji syukur, sedangkan perayaannya adalah suatu perjamuan sakramental.

  1. Ekaristi dan Imam

Menurut tradisi awal Gereja Katolik, pemimpin perayaan Ekaristi adalah mereka yang secara resmi telah menerima sakramen tahbisan (imamat) dalam Gereja Katolik. Persoalan pun datang dari Gereja-gereja di tanah misi. Mereka kekurangan imam. Mereka bertanya kepada Vatikan, apakah hanya imam yang harus dan boleh memimpin Ekaristi? Apakah Gereja setempat dapat menahbiskan bapak-bapak yang sudah teruji iman dan moralnya menjadi imam? Vatikan menjawab bahwa hanya imam yang selibater boleh memimpin perayaan Ekaristi. Vatikan mendasarkan argumen pembelaannya dengan merujuk pada kuasa imamat jabatan yang diberikan oleh Yesus Kristus kepada para rasul. Argumen ini menjadi dasar bagi Vatikan menolak perempuan ditahbiskan.

Paus Yohanes Paulus II dalam Surat Apostolik Ordinatio Sacerdotalis (1994) menegaskan Gereja tidak mempunyai kuasa untuk menahbiskan perempuan menjadi imam. De facto, Yesus tidak memasukkan perempuan dalam kelompok duabelas rasul. Diskusi mengenai tahbisan perempuan menjadi imam masih menjadi pokok persoalan hingga kini. Namun, Gereja tetap mengikuti dan setia pada magisterium.

  1. Makna Ekaristi dalam kehidupan umat beriman

Tradisi Gereja memandang Ekaristi secara istimewa dan memiliki tempat utama dalam hidup umat beriman. Namun, Ekaristi dirasa belum mampu menjawab perjuangan nasib manusia. Kemiskinan, ketidakadilan, kesenjangan sosial, kekerasan keragaman agama dan budaya harus menjadi fokus perjuangan Gereja. Teologi dewasa ini mempertanyakan apa manfaat Ekaristi bagi umat beriman? Karena itu, usaha kontekstualisasi teologi Ekaristi harus mampu menjawab pergumulan hidup umat beriman.

Alamat: Paroki St. Fransiskus Assisi, Jl. Medan, KM. 5,6 Kotak Pos 176, Pematangsiantar Sumatera Utara, 21138.