Waktu Tuhan Pasti yang Terbaik, Walau Kadang Tak Mudah Dimengerti

0
517

Jika kita mengikuti terus pemberitaan mengenai perkembangan penyebaran Covid-19 di tanah air, kita akan menangkap kesan bahwa tingginya angka terkonfirmasi positif memperlihatkan bahwa penularannya masih saja terjadi.

Covid-19 sudah menjadi momok yang menakutkan bagi manusia dewasa ini. Kita menjadi orang-orang yang serba takut, tidak bisa lagi bersalam-salaman, cipika-cipiki, dan sebagainya.

Kabar buruknya adalah pandemi ini tidak hanya merenggut banyak nyawa, tetapi juga sudah membuat banyak orang kehilangan sumber pendapatannya.

Selama wabah ini merebak, banyak orang mau tidak mau harus ‘dirumahkan’, entah dalam artian kerja dari rumah, maupun diberhentikan (PHK). Akibatnya, jumlah pengangguran bertambah, angka kemiskinan pun meningkat.

Berhadapan dengan situasi sulit seperti ini tentu kemampuan kita terbatas. Namun, kita tidak sendiri. Sandaran terakhir kita ialah Tuhan. Apapun yang terjadi pada kita saat ini, jangan sampai hal itu membuat kita menjauh dari Tuhan; sebab:

“TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya” (Nah. 1:7).

Ya, kita percaya bahwa Tuhan kita baik, walau kadang segala rencana dan rancangan-Nya tak mudah dimengerti, seperti potongan syair lagu berikut ini:

“Kita tahu bahwa waktu Tuhan pasti yang terbaik. Walau kadang tak mudah dimengerti. Lewati cobaan kutetap percaya, waktu Tuhan pasti yang terbaik.”

Kabar baiknya adalah bahwa di tengah pandemi seperti ini, orang-orang menjadi terbuka matanya dan tergerak hatinya untuk berbagi. Orang secara serempak tolong-menolong satu terhadap yang lain, terutama menolong mereka yang berada dalam kesusahan.

Begitu banyak potongan video dan gambar yang memperlihatkan bagaimana orang-orang berbagi. Pertolongan seperti ini tentu saja memberikan keringanan bagi warga terdampak.

Anjuran untuk tolong-menolong sebetulnya sudah pernah disuarakan oleh Rasul Paulus, sebagaimana yang ditulisnya dalam suratnya kepada jemaat di Galatia. Dalam suratnya itu, ia menuliskan demikian:

“Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus” (Gal. 6:2).

Bagi Paulus, tolong-menolong merupakan cara terbaik untuk memenuhi hukum Kristus. Hukum Kristus adalah hukum kasih. Kristus mengajarkan kepada setiap pengikut-Nya agar saling mengasihi satu terhadap yang lain. Berbagi dan tolong menolong adalah wujud nyata dari pelaksanaan hukum kasih itu.

Ya, wabah ini telah mendorong setiap kita untuk berbagi. Dan banyak di antara kita mampu melakukannya. Jika mampu, jangan bilang tidak. Jika kita sanggup berbagi, jangan ditahan. Ingat, Tuhan tahu kita mampu.

“Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya” (Ams. 3:27).

Ingat, tidak ada pertolongan yang sia-sia, sekecil apapun pertolongan kita itu. Pertolongan kita mungkin saja kecil, tetapi yang pasti sangat berguna bagi mereka yang membutuhkannya.

Selama wabah ini, kita dianjurkan untuk mengambil jarak fisik, tapi hati kita harus tetap satu. Kita bersatu hati dengan mereka yang terdampak; dan bersedia menolong mereka seturut kemampuan kita masing-masing.

Boleh jadi, wabah ini hadir di generasi kita, supaya kita menjadi saksi bagi anak cucu kita kelak; bahwa orang-orang yang hidup pada masa ini ternyata sanggup berbagi.  Maka, biarlah kita menjadi saksi atas semuanya ini; sehingga bersama Paulus kita berkata:

“Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka” (2 Kor. 8:3).

avatar
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.