Balas Dendam

0
112

Jika ada yang berbuat baik kepadamu, apakah yang akan Anda lakukan? Umumnya, Anda akan berjuang agar membalas kebaikannya. Kebaikan dibalas dengan kebaikan. Tampaknya ini hukum yang berlaku sepanjang zaman. Tapi, jika ada yang berbuat jahat kepadamu, apa yang akan Anda lakukan? Umumnya, Anda berjuang membalasnya dengan kejahatan. Kejahatan dibalas dengan kejahatan. Tampaknya ini juga hukum yang berlaku sepanjang zaman.

Kebaikan dibalas dengan kebaikan. Kejahatan dibalas dengan kejahatan. Tampaknya ini hukum universal. Jika kebaikan dibalas dengan kebaikan, itu baik. Memang itu yang diharapkan. Tapi jika kejahatan dibalas dengan kejahatan, dalam kaca mata kristiani, itu tidak bijak dan perlu dibarui. Ini yang diwartakan Yesus dengan tegas kepada para para pendengar-Nya; juga kepada pengikut-Nya sepanjang zaman sebagaimana dikatakan-Nya dalam Injil hari ini.

“Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Mat. 5:38-39).

Tuhan Yesus mengajak pendengar dan pengikut-Nya agar tak balas dendam.  Jika ada yang melakukan kejahatan, janganlah membalas dendam. Yang perlu dilakukan adalah membalas kejahatan dengan kebaikan. Atau sekurang-kurangnya memaafkan orang  yang melakukan kejahatan. Apa yang diajarkan Yesus ini perlu terus didengarkan dengan baik oleh para pengikut-Nya sepanjang zaman. Tak hanya didengarkan, tapi terutama  berjuang dihayati dalam hidup.

Ajaran Yesus ini memang tampaknya ‘melawan arus’ zaman atau bahkan melawan hukum universal: kejahatan dibalas dengan kejahatan. Saat ini hukum balas dendam dianggap sebagai sesuatu yang normal. Membalas kejahatan dengan kejahatan itu wajar. Tak perlu diperdebatkan.

Sebagai contoh, ada balas dendam politik. Umumnya yang mendapat jabatan atau tugas penting-strategis di bidang pemerintahan dari tingkat desa sampai pusat adalah orang-orang yang mendukung pemimpin terpilih. Walau kadang-kadang kemampuan mereka dalam mengemban tugas penting nan strategis itu kurang memadai. Sementara orang lain yang tidak mendukung pemimpin terpilih, tidak mendapatkan tugas atau jabatan strategis dan penting, walau memiliki kemampuan yang memadai. Balas dendam politik ini sering kali dianggap hal yang sangat wajar dalam dunia politik. Akibatnya, kesejahteraan yang didambakan  sulit dirasakan oleh banyak orang.

Walaupun tampak sulit, para pengikut Yesus tetap harus berjuang tampil beda dalam kebaikan: tidak balas dendam. Mereka harus menghayati hukum kasih yang diajarkan Yesus: membalas kejahatan dengan kebaikan, atau sekurang-kurangnya memaafkan orang yang melakukan kejahatan terhadapnya. Tentu ini menjadi tantangan bagi para pengikut Yesus.

Akan tetapi, jika kejahatan itu mengancam kehidupan dan harus segera diatasi, membiarkan penegak hukum bertindak  adalah langkah yang bijak. Dengan demikian, tindakan ‘main hakim sendiri’ bukan ciri-ciri pengikut Yesus yang baik.***

 

Labuan Bajo, 15 Juni 2020

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.