Katolik Menjawab: Penetapan Natal 25 Desember Bukan dari Perayaan Kaum Pagan

3
34459
Dalam akun instagramnya, Deddy Corbuzier membahas soal penciptaan figur Sinterklas. Menurutnya, figur tersebut dibuat oleh minuman bersoda raksasa di AS. Dia juga menyebut jika tanggal 25 Desember bukanlah hari kelahiran Nabi Isa atau Yesus.

Gereja Katolik, setidaknya sejak abad ke-2, telah meyakini bahwa Kristus lahir pada tanggal 25 Desember. Namun, sejumlah orang membuat teori yang seolah-olah ingin menunjukkan bahwa hari raya Natal berasal dari kebiasaan kafir.

Teori itu muncul karena mereka menghubungkan peringatan kelahiran Yesus yang jatuh pada tanggal 25 Desember itu dengan perayaan dewa Sol Invictus (dewa matahari kerajaan Romawi). Padahal, penghormatan kepada dewa Sol Invictus di kerajaan Romawi baru dimulai pada tahun 274 AD; sedangkan penghormatan umat Kristen kepada Kristus, Sang Terang Dunia (Yoh. 9:5), sudah ada lebih dulu daripada penghormatan kepada dewa Sol Invictus itu.

Tradisi perayaan pada tanggal 25 Desember tidak ada dalam kalender Romawi sampai setelah Roma menjadi negara Kristen. Bukti prasasti di zaman Kaisar Licinius, menuliskan bahwa perayaan dewa Sol Invictus itu jatuh pada tanggal 19 Desember. Prasasti tersebut juga menyebutkan bahwa persembahan kepada Sol Invictus itu dilakukan pada tanggal 18 November. Jadi, bukti ini sendiri menunjukkan adanya variasi tanggal perayaan Sol Invictus, dan juga bahwa perayaannya tersebut baru marak dilakukan pada abad ke-4 dan ke-5, jauh setelah zaman Kristus dan para Rasul.

Tanggal 25 Desember baru menjadi hari ‘Kelahiran Matahari yang tak terkalahkan’  sejak pemerintahan  kaisar Julian yang murtad. Kaisar Julian pernah menjadi Kristen, tetapi telah murtad dan kembali ke paganisme Romawi. Sejarah menyatakan bahwa Kaisar Julian itulah yang menentukan hari libur pagan tanggal 25 Desember. Dengan demikian, pandangan yang lebih logis adalah bahwa kaisar  ‘mengadopsi’ perayaan Natal 25 Desember sebagai perayaan dewa matahari-nya, dan bukan sebaliknya, umat Kristen yang mengadopsi perayaan itu dari mereka.

Lantas, bagaimana umat Kristiani menentukan tanggal dan bulan kelahiran Yesus? Menurut St. Yohanes Krisostomus, tanggal kelahiran Yesus dihitung dari kelahiran Yohanes Pembaptis.

St. Lukas, dalam Injil yang ditulisnya, mengatakan bahwa pada suatu saat Zakaria dari ‘rombongan Abia’ melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan (Luk. 1:5). Keturunan Harun dibagi ke dalam dua puluh empat rombongan (1 Taw. 24). Dua puluh empat rombongan itu bertugas untuk menyelenggarakan ibadah dalam suatu rotasi sepanjang tahun. Setiap rombongan imam melayani satu minggu di bait Allah, dua kali setahun. Rombongan Abia melayani di giliran ke-8 dan ke-32 dalam siklus tahunan.

Namun bagaimana siklus dimulai? Josef Heinrich Friedlieb dengan sangat yakin mengatakan bahwa rombongan imam pertama, Yoyarib, bertugas sepanjang waktu penghancuran Yerusalem pada hari ke-9 pada bulan Yahudi yang disebut bulan Av ((Josef Heinrich Friedlieb’s Leben J. Christi des Erlösers. Münster, 1887, p. 312.)). Maka, masa rombongan imamat Abia (yaitu masa Zakaria bertugas) melayani adalah minggu kedua bulan Yahudi yang disebut Tishri, yaitu minggu yang bertepatan dengan the Day of Atonement, hari ke-10. Di kalender kita, the Day of Atonement dapat jatuh di hari apa saja dari tanggal 22 September sampai dengan 8 Oktober.

Dikatakan dalam Injil Lukas bahwa Elisabet mengandung beberapa saat setelah masa pelayanan Zakaria (lih. Luk. 1:24). Maka, konsepsi St. Yohanes Pembaptis dapat terjadi sekitar akhir September, sehingga perhitungan empat puluh minggu setelahnya, menempatkan kelahiran Yohanes Pembaptis di akhir Juni, meneguhkan perayaan Gereja Katolik tentang Kelahiran St. Yohanes Pembaptis tanggal 24 Juni.

Selanjutnya dikatakan bahwa sesaat setelah Perawan Maria mengandung Kristus, ia pergi untuk mengunjungi Elisabet yang sedang mengandung di bulan yang ke-6. Artinya, umur Yohanes Pembaptis 6 bulan lebih tua daripada Yesus Kristus (lih. Luk. 1:24-27, 36). Jika 6 bulan ditambahkan kepada 24 Juni maka diperoleh 24-25 Desember sebagai hari kelahiran Kristus. Jika tanggal 25 Desember dikurangi 9 bulan, diperoleh hari peringatan Kabar Gembira (Annunciation) yaitu tanggal 25 Maret. Jika Yohanes Pembaptis dikandung segera setelah the Day of Atonement, maka tepatlah penanggalan Gereja Katolik, yaitu bahwa kelahiran Yesus jatuh sekitar tanggal 25 Desember.

Selain itu, Tradisi Suci juga meneguhkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Tuhan Yesus. Sumber dari Tradisi tersebut adalah kesaksian Bunda Maria sendiri. Sebagai ibu tentu Maria mengetahui dengan rinci tentang kelahiran anaknya [dan ini yang diteruskan oleh para rasul dan para penerus mereka]. Bunda Maria pasti mengingat secara detail kelahiran Yesus ini yang begitu istimewa, yang dikandung tidak dari benih laki-laki, yang kelahirannya diwartakan oleh para malaikat, lahir secara mukjizat dan dikunjungi oleh para majus.

Sebagaimana umum bahwa orang bertanya kepada orangtua yang membawa bayi akan umur bayinya, demikian juga orang saat itu akan bertanya, “Berapa umur anakmu?” kepada Bunda Maria. Maka, tanggal kelahiran Yesus 25 Desember (24 Desember tengah malam), sudah diketahui sejak abad pertama. Para Rasul pasti menanyakan tentang hal ini sehingga baik St. Matius maupun St. Lukas mencatatnya bagi kita. Singkatnya, adalah sesuatu yang masuk akal jika para jemaat perdana telah mengetahui dan merayakan kelahiran Yesus, dengan mengambil sumber keterangan dari ibu-Nya.

Sumber:
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/refuting-the-pagan-roots-of-christmas-claim
http://www.katolisitas.org/apakah-yesus-lahir-tanggal-25-desember/
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/why-december-25

avatar
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.