Sebuah Kesaksian: Aku Menemukan Salib-Mu

0
1818
Gambar ilustrasi oleh Pexels / Pixabay

Saya sudah sejak lama berteman di Facebook dengan seorang Katolik. Sebelum itu dari kecil saya sudah pernah belajar tentang Kristen non-Katolik. Namun dari pertemanan di Facebook itu saya mendapatkan pewartaan tentang iman Katolik.

Memang, selama ini sudah puluhan tahun tidak pergi ke Gereja manapun, tetapi dalam setiap iman dan doa saya tertuju kepada Tuhan Yesus. Saya didorong untuk kembali ke Gereja, tetapi Gereja Katolik.

Saya pada awalnya mengalami kebingungan, karena saya belum pernah masuk ke Gereja Katolik dan tidak tahu tata cara ibadahnya. Saya takut jadi sorotan, dan takut ditertawakan. Tetapi teman itu yang selalu memberikan dorongan, sehingga akhirnya saya mencoba mengikuti misa pertama, dalam bahasa Mandarin. Awalnya saya nervous karena saya tidak mengenal siapa-siapa.

Saya sudah lama mempunyai kerinduan untuk ke Gereja, tetapi saya tidak berani dan malu. Pada akhirnya saya didorong dan dikuatkan untuk mencoba pergi ke Gererja. Tetapi saat Misa bahasa Mandarin tersebut, hati saya masih belum puas, karena tidak mengerti firman yang disampaikan melalui homili.

Kemudian saya melanjutkan untuk mengikuti kebaktian di Gereja non-Katolik di suatu kota. Lagi-lagi saya tidak tahu jadwal ibadahnya. Saya melihat kebaktian sedang berlangusng, akhirnya saya masuk juga, namun saya tidak mendengarkan Firman Tuhan, karena terlambat. Akhirnya saya mengikuti sesi kebaktian kedua. Saya kebaktian di Gereja non-Katolik memakai bahasa Indonesia.

Hari demi hari saya terus bertanya jawab dengan teman saya, karena saya pun tahu sedikit tentang cerita Alkitab. Saya sering juga membaca di FB Page, yang membahas mengenai iman Katolik.

Pada tanggal 20 September 2015, saya pertama kali ke Gereja, karena mengikuti masa katekumenat. Saya harus menunggu bulan Mei 2016, untuk mendapatkan Sakramen Baptis dan saya merasa lama sekali. Padahal ketika saya ke Gereja non-Katolik, ada pengumuman bagi yang mau dibaptis untuk mendaftarkan diri. Saya hampir saja mendaftar karena saya tidak sabar, tetapi sebelum daftar saya diskusi terlebih dahulu dengan teman saya.

Berdasarkan saran dari teman saya, maka saya tetap menjalani masa katekumenat. Saya mengikuti masa katekumenat di dua tempat. Saya pun kewalahan karena bolak balik di antara ke dua tempat itu. Akhirnya saya mendapat info di tempat yang lebih dekat, akan menerimakan sekaligus tiga sakramen. Maka, saya putuskan untuk mengikuti di tempat yang lebih dekat itu.

Saya pernah complain pada teman, karena dalam Gereja Katolik, susah sekali proses menuju pembaptisan, padahal menurutku di tempat lain begitu gampang. Tetapi teman saya menjelaskan tentang hakekat iman Katolik, sehingga membuat saya sabar.

Saya juga merasa bersukacita, ketika saat saya dalam perjalanan menuju Gereja pada hari Minggu untuk mengikuti kelas katekumen, saya menemukan SALIB yang ada corpus-nya. Tanpa sengaja saya melangkah dan melihat ke bawah, sudah melewati beberapa langkah, tetapi rasanya ada sesuatu benda tergeletak di lantai gedung. Kemudian saya kembali melihat dan tenyata sebuah SALIB.

Saya berpikir jangan sampai salib terinjak-injak di jalan, kemudian saya pungut. Saya melihat salibnya berwarna kuning dan ada corpus-nya. Saya senang, sekaligus takut dan bingung, dan bertanya dalam hati ini milik siapa? Kemudian, saya melanjutkan perjalanan ke Gereja untuk mengikuti pelajaran masa katekumenat dan ikut Misa.

Setelah Misa sore, saya bercerita kepada suster. Suster melihat SALIB tersebut, dan mengatakan itu hanya kuningan, dan karena tak ada yang punya, saya pun menyimpannya. Ketika pulang, saya penasaran. Saya mencoba bertanya ke toko emas, pura-pura mau jual, orangnya juga mengatakan, SALIB itu hanyalah berbahan chrome. Lalu, dia pun mengetes, dan melihat nilai jualnya.

Kemudian, orang itu tidak mengatakan emas, dia justru mengatakan mereka akan membeli dengan harga $200 Sin. Itu artinya salib itu adalah emas, kalau chrome tidak mungkin ada harganya. Akhrinya, saya berkata kepada mereka, saya akan pikir-pikir dahulu sebelum menjual.

Saya sebenarnya hanya ingin tes saja. Saya senang bukan karena itu emas, tetapi saya memaknai ini dalam perjalanan masa katekumenat yang saya lalui, karena pada waktu itu masih ada kebimbangan. Saya maknai penemunan SALIB itu, sebagai petunjuk dari Tuhan, untuk kembali ke pangkuan Gereja Katolik. SALIB itu mempunyai makna rohani bagi saya pribadi. Saya sangat bersukacita karena Tuhan menunjukkan jalan ke mana saya harus berlabuh.

Saya pun bingung mau ditaruh di mana lagi salib itu. Sempat hilang 8 bulan, entah terselip di mana. Saya merasa sedih ketika salib itu hilang, namun saya mencoba berpikir positif mungkin itu hanya titipan, dan kalau tercecer bisa didapati oleh orang lain, mungkin salib itu membawa jiwa baru.

Saya berkata dalam hati, “Tuhan, sebuah SALIB saja, saya tidak mampu menjaganya. Namun saya berjanji tidak mau kehilangan “salib” itu dalam hatiku, salib sesungguhnya.”

Saya terus menghibur diri dengan berpikir positif, mungkin itu hanya sarana untuk saya masuk ke Gereja Katolik. Delapan bulan kemudian, ketika saya sedang membaca Alkitab, lalu saya berniat mencari Rosario gelang yang diberikan sebagai souvenir, ketika saya dibaptis. Saya ingin melihat cara penggunaannya, begitu kata hatiku. Kemudian saya bongkar barang-barang yang saya terima, pada saat saya dibaptis. Dan ternyata saya menemukan SALIB emas itu kembali.

Saya sangat senang dan penuh sukacita. Kemudian saya pastikan supaya tidak hilang lagi. Saya pakai sebagai kalung sampai sekarang. Memang ada rasa canggung karena SALIB itu emas. Terkadang ada rasa kecil hati, apabila orang menyindir dengan berkata “Pakai kalung salib, tetapi tidak mampu pikul salib yang sebenarnya.”

Saya merasa senang bisa bertemu dengan teman Katolik, sehingga saya mengenal iman Katolik; dan sekarang menjadi seorang Katolik. Terima kasih telah berkenan menyediakan waktu untuk membaca sharing saya. Kalau ada waktu saya ingin menghubungi Silvester Detianus Gea, untuk bertanya mengenai Iman Katolik.

[Catatan: Sharing dikirim melalui WA. Pihak yang bersharing meminta agar identitasnya disembunyikan]

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289