Konsili Yerusalem: Pengikut Kristus Tidak Perlu Disunat

0
4169
Gambar ilustrasi oleh 696188 / Pixabay

Pembahasan mengenai perlu tidaknya sunat bagi pengikut Kristus sempat menjadi isu penting dalam sejarah kekristenan. Pembahasan tersebut tercatat dengan sangat baik di dalam Kisah Para Rasul 15:1-21.

Kemunculan isu tersebut bukan tanpa dasar. Dasarnya adalah adanya pengajaran dari orang-orang yang datang dari Yudea ke Antiokhia yang mengajarkan bahwa setiap orang yang mau diselamatkan (menjadi pengikut Kristus) harus disunat. “Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan” (Kis. 15:1).

Paulus keberatan dengan pengajaran tersebut. Meski dia juga berlatar belakang Yahudi yang taat, namun ia tidak mau tradisi Yahudi itu dibebankan kepada orang lain yang bukan dari keturunan Yahudi. Makanya ia dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu.

Tetapi, Paulus tidak bisa mengeluarkan keputusan sendiri berhadapan dengan isu yang sangat penting itu; sehingga ditetapkan, supaya ia dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu.

Secara pribadi, saya melihat bahwa apa yang dilakukan oleh Paulus dan rekan-rekannya ini sangatlah tepat. Bahwasanya, untuk memutuskan sesuatu yang amat penting, kita perlu mendengarkan beberapa pihak; demi kemaslahatan banyak orang.

Cerita berlanjut. Setibanya di Yerusalem, Paulus dan rekan-rekannya disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka. Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: “Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa” (Kis. 15:5).

Ternyata di Yerusalem pun ada juga kelompok yang beranggapan bahwa sunat itu wajib hukumnya. Sampai di sini, kita melihat bahwa ada dua pemikiran berkaitan dengan sunat itu: ada kelompok yang mendukung, tetapi ada juga kelompok yang berpendapat bahwa hal tersebut tidak diperlukan lagi. Karenanya, untuk mencapai kata sepakat, isu ini harus dibawa ke dalam sidang. Maka, bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu.

Menarik untuk dilihat di sini bahwa yang namanya ‘musyawarah untuk mufakat’ ternyata sudah lama ada di dalam sejarah kekristenan. Para rasul bermusyawarah untuk mencapai kata mufakat soal perlu tidaknya bersunat bagi orang-orang non-Yahudi yang mau menjadi pengikut Kristus. Kemudian hari, sidang yang dilakukan di Yerusalem ini dikenal dengan sebutan ‘Konsili Yerusalem’.

Sidang berlangsung alot, barangkali juga dengan sedikit ketegangan, sehingga sulit mencapai kata sepakat; makanya sesudah beberapa waktu lamanya, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka:

“Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga” (Kis. 15:7-11).

Di sini kita bisa melihat bahwa Petrus berbicara dengan otoritas dan penuh wibawa sebagai pemimpin. Ia dikagumi dan diperhitungkan suaranya di antara para rasul yang lain. Mengapa? Karena Yesus sendiri menitipkan tongkat kegembalaan-Nya kepada Petrus. Makanya, ketika Petrus berbicara, diamlah seluruh umat itu, lalu mereka mendengarkan Paulus dan Barnabas menceriterakan segala tanda dan mujizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di tengah-tengah bangsa-bangsa lain.

Tongkat kegembalaan Petrus ini diwariskan secara turun-temurun melalui para paus. Paus mengambil peran seperti Petrus, memegang otoritas tertinggi dalam pengajaran iman. Makanya, dalam Gereja Katolik muncul istilah ‘Roma locuta, causa finita’ yang artinya ‘Roma berbicara, perkara selesai’. Kita boleh saja berdebat ini dan itu, tetapi jika Paus (Roma) sudah mengeluarkan keputusan, maka selesailah segala diskusi dan perdebatan. Dengan kata lain, perkara selesai.

***

Setelah Paulus dan Barnabas selesai berbicara, berkatalah Yakobus: “Hai saudara-saudara, dengarkanlah aku: Simon telah menceriterakan, bahwa sejak semula Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain, yaitu dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya. Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi.

Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah. Tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat.”

Perkataan dari Yakobus ini seolah menjadi keputusan akhir dari sidang itu: yaitu bahwa, untuk menjadi pengikut Kristus, orang tidak harus disunat. “Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini: kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik.”

Sampai di sini jelas: tidak ada kewajiban bersunat untuk menjadi pengikut Kristus. Tapi, di situ masih ada satu hal yang dipesankan, yaitu mereka (orang Kristiani) harus menghindari makanan yang haram. Makanya, pada beberapa waktu lalu, seorang pembaca bertanya tentang topik tersebut, dan mendasarkan pertanyaannya dari Kis. 21:25. “Tetapi mengenai bangsa-bangsa lain, yang telah menjadi percaya, sudah kami tuliskan keputusan-keputusan kami, yaitu mereka harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan” (Kis. 21:25).

Jawaban saya sederhana saja. Kita harus mengakui bahwa untuk mengubah suatu kebiasaan diperlukan waktu dan penjelasan yang memadai. Sangat sulit untuk mengubah suatu kebiasaan yang sudah dilakukan bertahun-tahun dalam tempo yang singkat. Jika terlalu cepat, justru menimbulkan pertentangan dan penolakan. Jika sudah ditentang dan ditolak, misi pun tidak dapat berjalan dengan baik. Makanya perlu bertahap.

Kita bisa melihat, misalnya Kis. 21:25), konteksnya adalah kedatangan Paulus ke tengah-tengah komunitas Yahudi, setelah dirinya ‘berhasil’ mempertobatkan banyak orang non-Yahudi. Paulus mempunyai misi untuk memperkenalkan Kristus di antara orang Yahudi dan dia mau supaya mereka menerima Yesus. Tapi ada satu kendala, yaitu adanya rumor tak sedap tentang dirinya di sana, yaitu bahwa dia dikabarkan sudah tidak lagi menjalankan hukum Musa (Kis. 21:21).

Tentu saja, rumor semacam ini, jika tidak diberi penjelasan, justru akan menjadi batu sandungan bagi karya misinya. Makanya, orang-orang mengusulkan agar Paulus meluruskan romor itu dengan cara mengikuti upacara pentahiran (seperti orang Yahudi pada umumnya) dan orang Kristen non-Yahudi tidak boleh memakan makanan haram (Kis. 21:23). Dengan cara itu, maka orang Yahudi yang ingin menjadi pengikut Yesus tidak merasa enggan.

Kita mesti ingat bahwa yang kita bicarakan di sini ini adalah komunitas transisi dari Yahudi menjadi Kristen. Butuh waktu dan proses yang lama untuk mengubah mereka supaya menjadi ‘pure’ Kristiani. Maka, supaya tidak menjadi batu sandungan, lebih baik mengikuti pintu mereka sambil perlahan-lahan diajarkan ajaran Yesus. Tentu saja dengan pertimbangan: sejauh itu tidak bertentangan dengan ajaran Yesus.

avatar
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.