Kisah Dua Wanita di Kota Ein Karim

0
223

Pagi yang cerah, Kereta melaju pelan. Maria duduk di jendela, searah dengan Masinis. Ia bisa membayangkan hamparan padang yang menghijau.

Lembah Gilead yang memantulkan cahaya pagi, cerah sekali. Tanah yang ditunjuk Abraham untuk keponakannya, Lot, juga nampak biru bertudung awan yang putih membentang luas dan pemandangan indah lainnya memanjakan matanya.

“Terpujilah Engkau Allah Ishak, Allah Yakub, Allah Abraham, Leluhur kami!” Katanya dalam hati.

Disamping dia duduk seorang perempuan paruh baya. Dari perawakannya, ia perempuan tenar, banyak perhiasan pada jenjang leher dan tangannya. Cukup rapi pakaiannya. Ia dipanggil nyonya Salome. Jarinya bersih, kuku kaki dan tangannya terawat. Ia hidup dari satu kota ke kota yang lain. Bulu matanya jelentik, semua tumbuh alami. Ia menyedot semua pemandangan di Kereta itu.

Nyonya Salome, siapa tidak mengenalnya?

Ia wanita kaya, tapi entah dari mana semua kekayaanya itu, takkah tahu? Kata orang ia bersuara emas dan menjaja tubuhnya di pusat kota. Tapi Maria tidak menghakiminya. Jalan hidup orang-orang memang berbeda. Tuhan menenun rahasianya.

Ia memandang Maria dengan cara yang tak biasa. Ia melihat menembusi mata yang jernih perempuan muda itu, melihat dengan banyak tanya di depan. Mereka benar-benar mengagumi kecantikan wanita muda yang sederhana dari Nazareth itu.

Seorang gadis yang jatuh cinta dengan sesuatu yang luar biasa. Cinta yang merusak segalanya.

Kesederhanaan Maria memikat dan mengalirkan energi yang tidak lazim. Siapa yang duduk dekat dengan Maria, ia merasakan getaran kesederhanaannya.

Maria sendiri tidak tahu energi itu. Orang lain merasakannya. Banyak mata terlihatnya takjub.

“Mau kemana Nona?” Tanya Salome.

“Ke Kota Ein Karim, bu! Kalau ibu?

“Oh wisata yang cukup lama. Saya sudah tiga kali ke Kota itu. Omong-omong, namamu siapa?

“Mariam, Bu!

“Aku Salome. Kamu anak siapa, Mariam?

“Yoakim dan Anna!”

“Oh, aku pernah mengenal nama-nama itu! Timpal Salome dengan tersenyum. Tapi kamu sedang terlibat ya?

“Wajah Maria merah lebam. Mata wanita memang memang jeli. Maria padahal sudah cerdik menyembunyikan perutnya yang membesar.

“Tolong jangan kasitahu ke siapa-siapa” pinta Maria.

Salome tertawa. Ya, aku akan menyembunyikannya. Itu wanita rahasia. Suamimu dari Ein Karim? ”Tanyanya lagi dengan pandangan mata yang cerdik menyelidik.

“Maria gugup menjawabnya. Bibirnya bergetar. Dengan sekuat tenaga iabesarbicara pelan. Bukan! Tapi …

“Tak bersuami yah?” Jangan sampai orang Roma itu? Atau? Salome tertawa sinis.

“Mariam diam. Seperti pedang menusuk jantungnya. Ia tidak menjawab Salome. Anak-anak di dalam kandungannya menggeliat, juga lama. Perjalanan masih panjang, tapi rahasia uang masih panjang. Lebih baik perjalanan panjang di dunia, perjalanan hidup dalam misteri yang tak berujung .

Maria memang sudah dididik untuk menjadi perempuan perkasa dan mandiri dalam segala hal. Roti dan penderitaan melilit setali. Ia sering menimba udara ke sumur Yakob, satu kilo dari rumah orangtuanya. Semua pekerjaan bisa dikeluarkan olehnya seperti desain Ibunya juga.

Saat menenun kain. Anna selalu berpesan, wanita harus bisa bekerja apa saja. Kadang nasehatnya seirama dengan rotan pemukul kasur yang diseringkan dipakainya. Anna keras sekaligus lembut hati. Ia perempuan terhormat. Ia sering mambantu persalinan banyak perempuan di kampungnya.

Maria tertidur, Semuanya teka-teki, lupa semua pertanyaan dan pertanyaan Salome. Ia sendiri yang tahu rencana ajaib atas pengeluaran. “Bapa lindungilah hambamu ini”.

Maria memejamkan mata dan tidur.

…………..

Jarak Nazaret ke Ein Karim sekitar 120 Km. Kakaknya Elisabet bersama berlian tinggal di Karim sejak mereka menikah. Waktu itu, Maria masih kecil. Elisbet menikah dilakukan 30 tahun, cukup terbilang terlambat menikah. Juga dia mujur, karena mendapatkan suami yang baik dan jujur ​​pula. Namanya Zakaria.

Zakaria bekerja sebagai imam. Saat-saat dia mencangkul tanah, membangun kandang dan membuat rumah mereka sendiri. Ia tidak banyak bicara, tetapi banyak pria yang meminta nasehat dan wejangan sucinya.

Maria terbangun! Ia seperti mendengarkan suara Yosef memanggilnya. Ia sadar, Yosef tidak pergi bersamanya. “Oh Yosef, apakah aku mencintaimu? Aku memimpikan dirimu?” Maria tersenyum. Ia melihat orang-orang di sekitarnya. Hari hampir subuh, beberapa orang mengeluarkan roti dari tas mereka.

Mereka makan tanpa peduli sesama di samping mereka. Setelah makan, ada yang tidur lagi. Tidur adalah cara orang melupakan kesuntukan dalam perjalanan yang panjang dan jauh.

……………..

Kreta berhenti, tidak jauh dari jalan, kira-kira seplempar batu ternak, Analisis rumah Elizabet. Melihat seorang gadis berambut pirang turun dari Kreta, banyak mata pandangannya. Maria menyita banyak perhatian.

“Itu saudarinya Elisabeth”, teriak seorang ibu.

Oh Kota Ein Karim, manusianya ramah, lirih Maria dalam ruangan. Wanita itu mengantar Maria ke rumah kakaknya.

Angin dari selatan menghempas terburu-buru. Elisabet masih sibuk melakukan kopi, menghidangkan kue tak beragi dari tepung roti yang masih tersisa dari nasi yang dipinjamkan ke tetangga untuk pesta pernikahan putri Bin Amidin. Apalagi waktu itu menjelang pesta panen.

“Maria, Maria, Elisabet berseru, girang. Ia memeluk adiknya. Dua wanita tergantung waktu itu menyatu.

“Terpujilah engkau Maria, terpujilah engkau!” kata Elisabet.

Maria mengusap wajah saudarinya. Air mata rindu tumpah membasah jubah keduanya. Rindu karena terlalu lama tak bersua dengan adiknnya.

“Aku akan mau meberitakan kepadamu, Elis, Kata Maria. Matanya yang bulat, bersinar. Semuanya pratanda baik.

Elis, sedikit terkejut, kedua lagi. Ia tersenyum dan tersenyum kepada Maria. Kedua jabatan mengusap pipi Maria. Kau gadis kecil, kini sudah besar. Segalanya akan terjadi padamu, Elisabet Memuji.

“Elis …”
“Maria …!”

Mereka saling mengagumi.

“Sudah berapa bulan, Maria?”

“Sudah tiga bulan, Elis!”
Duduk di dekat tungku api.

Zakaria melihat dari jauh. Ia tidak bisa menyela kedua wanita yang sedang berbahagia itu. Saja ia sendiri tentang kegembiraan yang sama.

“Zakariaaa, sahut Maria. Elisabet melihat dasar.” Ia tidak bisa bicara lagi! “Kening elisabet mengerut. Tapi Maria menghiburnya.

“Percayalah!”

“Maria, terpujilah engkau, jagalah Rahasia dalam rahimmu, sang Juru Selamat”. Suara Elisabet nan lembut menggetarkan rahim Maria.

Maria mengangguk. “Dan engkau Elis, berbahagialah engkau!” Maria tersenyum. Ia merengkuh pundak kakaknya. Ibu dan ayah, sangat bersemangat ketika bercerita tentang keluarga akhir-akhir ini.

“Terpujilah Allah Ishak, Allah Yakub dan Allah Abraham!”

Maria, Elisabeth dan Zakaria bersama-sama mengucapkan kata itu.

Setelah perbincangan yang cukup lama. Elisabet mengeluarkan kue dari almari kayu buatan Zakaria. Ia memanggil tetangganya untuk minum bersama-sama.

Kegembiraan itu memang harus dibagikan.

Tetangganya datang dan mereka meminta melihat dua perempuan yang mengandung, adik dan kakak. Berbahagialah kalian! Kata Mereka.

“Terpujilah engkau Maria!” Kata Elizabet. Mulutnya tiada henti dari kata-kata itu. Anak di dalam rahimnya pun melonjak kegirangan. Tiga bulan lamanya Maria tinggal di Ein Karim.

“Terpujilah dulu Ein Karim karena dari Kotamu, akan berseru-seru, persiapkanlah jalan bagi Tuhan!

avatar
Anak kampung suka mancing. Kalau dipancing pasti dikencing. Kalo sudah dikencing pasti ketawa. Kena kerjain loh!