Melihat Isi Kitab Taurat secara Garis Besar

0
735
tdjgordon / Pixabay

Kata Pentateukh diambil dari kata bahasa Yunani, (penta berarti lima, dan touchis yang berarti kotak). Pentateukh berarti lima kotak.

Yang dimaksudkan dengan ‘kotak’ di sini jelas bukan kotak kardus, kotak suara, apalagi kotak pemilu; melainkan menunjuk pada suatu gulungan dari kulit kayu atau yang disebut ‘papirus’ yang merupakan bahan untuk penulisan, yang disimpan ke dalam kotak-kotak. Masing-masing kotak menyimpan satu kitab.

Pentateukh adalah istilah yang digunakan untuk menunjuk lima kitab pertama dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Apa saja yang termasuk dalam Kitab Pentateukh? Jawabannya: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan.

Judul-judul kelima kitab dalam Pentateukh itu mengungkapkan pokok yang dibahas dalam bab-bab pertama masing-masing kitab:

  • Kitab Kejadian, karena bab 1-2 menceritakan tentang penciptaan.
  • Kitab Keluaran, karena bab 1-15 mengenai pembebasan dari Mesir.
  • Kitab Imamat, karena bab 1-10 mengenai tugas imam.
  • Kitab Bilangan, karena nan 1 mengenai cacah jiwa suku-suku Israel.
  • Kitab Ulangan, karena mengulangi ‘hukum pertama’ dalam Keluaran 19-Bilangan.

Kitab-kitab itu seringkali disebut juga dengan sebutan ‘Kitab Taurat’ atau ‘Taurat Musa’. Mengapa? Karena isinya tentang ajaran atau petunjuk kongkret mengenai kehendak Allah, yang disampaikan melalui Musa. Ajaran atau petunjuk itu disampaikan tidak hanya melalui peraturan hukum, tetapi juga melalui kejadian-kejadian yang dikisahkan.

Garis besar dari Kitab Pentateukh adalah: bermula dari penciptaan dunia sampai para bapa bangsa Israel (Abraham, Ishak, dan Yakub), keturunannya yang dibebaskan dari perbudakan Firaun di Mesir di bawah pimpinan Musa, mengadakan perjanjian dengan YHWH dan mengikat diri pada peraturan-peraturan perjanjian, serta perjalanan mengantar keturunan Yusuf dari Mesir ke Sinai dan ke dataran Moab. Lalu, berakhir dengan kematian Musa pada Kitab Ulangan 34.

Musa ditugaskan untuk membawa orang Israel keluar dari Mesir menuju tanah terjanji (Keluaran 3). Pada akhir Kitab Ulangan, ia diberi kesempatan untuk melihat negeri yang terjanji itu, meski tidak sempat masuk ke negeri yang dijanjikan itu karena ia keburu mati (Ulangan 34).

Tuhan sendiri yang tidak membolehkan Musa untuk masuk ke tanah terjanji. Alasannya sepele: masalah air. Orang Israel bertengkar karena kekurangan air, dan Musa marah-marah. Karena marahnya itulah, makanya Tuhan melarang Musa masuk ke tanah terjanji. Kisah lengkapnya bisa dibaca di dalam Kitab Bilangan 20:2-12.

“Pada suatu kali, ketika tidak ada air bagi umat itu, berkumpullah mereka mengerumuni Musa dan Harun, dan bertengkarlah bangsa itu dengan Musa, katanya: “Sekiranya kami mati binasa pada waktu saudara-saudara kami mati binasa di hadapan TUHAN! Mengapa kamu membawa jemaah TUHAN ke padang gurun ini, supaya kami dan ternak kami mati di situ? Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minum pun tidak ada?” Maka pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah Pertemuan, lalu sujud. Kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN kepada mereka. TUHAN berfirman kepada Musa: “Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya.” Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya. Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum. Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.”

Siapa penulis Kitab Pentateukh? Selama berabad-abad yang lampau, orang beranggapan bahwa Musa menulis kelima kitab tersebut, tapi pada abad-abad pertengahan mulai dipertanyakan bagaimana ia dapat menuliskan tentang kematiannya sendiri (Ul. 34). Memang, sampai sekarang masih banyak orang beranggapan bahwa Musa-lah yang menulis Kitab Pentateukh, dengan sedikit catatan. Catatannya adalah: penulisan kitab itu boleh jadi dimulai oleh Musa, tapi dilanjutkan oleh para pengikutnya (sekretarisnya). Zaman dahulu, orang-orang terkenal, selalu mempunyai pengikut. Sama juga halnya pada masyarakat kita dewasa ini. Kemungkinan kedua, dari awal ditulis oleh para pengikutnya, tapi di bawah arahan Musa.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.