Ucapan Bahagia dalam Kitab Suci: Lokasinya di Bukit atau di Dataran Rendah?

0
489
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay,com

Acuan: Mat. 5:1-12; Luk. 6:20-26

Dari keempat Injil, ada yang namanya Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas), yang isinya rada-rada mirip; dan satunya lagi Injil Yohanes, yang isinya berbeda sama sekali dengan ketiga Injil lainnya.

Kita tahu bahwa keempat Injil ini memuat empat biografi dari Yesus menurut keempat penulis yang berbeda. Keempat penulis Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) menulis menurut pemahaman masing-masing, dan ketika mereka menulis, jangan dibayangkan seperti seorang wartawan meliput suatu berita. Waktu dan tempat penulisannya berbeda satu dengan yang lain; sehingga sekalipun materi yang dibahas boleh jadi sama, tapi cara mereka membahasakannya berbeda satu dengan yang lain.

Yang juga perlu kita ketahui bahwa Kitab Suci tidak seperti koran yang memuat sedetail mungkin tentang hidup dan karya Yesus dari satu kejadian ke kejadian lainnya. Tidak begitu. Para penulis Kitab Suci menulis menurut daya tangkapnya masing-masing terhadap tuntunan Roh Kudus, tanpa menghilangkan poin penting dari pengajaran Yesus.

Konteks dari khotbah yang disebutkan dalam Injil Matius dan Lukas ini adalah: Yesus yang sedang berbicara di depan orang banyak (Mat. 4:23-25 dan Luk. 6:17-19). Bedanya, Matius tidak memasukan peringatan-peringatan seperti yang ada pada Luk. 6:24-26, dan Lukas tidak menyertakan ide besar dari Mat. 5:21-28 ke dalam tulisannya. Matius mencantumkan delapan sabda bahagia, sedangkan dalam Injil Lukas hanya ada empat, ditambah empatnya lagi adalah peringatan-peringatan. Bukan hanya itu. Bahkan, tempat yang digambarkan berbeda: Matius mengatakan ‘di bukit’, Lukas mengatakan ‘di dataran rendah’. Dua-duanya masuk akal, menurut sudut pandang masing-masing.

Ada dua penafsiran untuk perbedaan ini. Pertama, Matius dan Lukas menyampaikan dua ‘ringkasan’ yang berbeda dari satu khotbah yang sama. Sama seperti ketika kita meringkas suatu pembahasan yang panjang, biasanya ringkasan antara si A, si B, dan si C, pasti tidak sama. Kita meringkas mana yang menurut kita paling penting. Tapi, tidak mengurangi inti dari pembahasan. Kedua, Lukas dan Matius menulis tentang dua khotbah yang berbeda di dua tempat yang berbeda, dengan isi yang kurang lebih sama. Tafsiran kedua ini juga masuk akal, sebab dalam keempat Injil Yesus diceritakan berkeliling dari kota ke kota, dari satu desa ke desa lainnya. Tentulah dalam setiap perjalanan-Nya itu, Yesus beberapa kali mengulang pengajaran yang sama.

Kedua tafsiran ini sama-sama masuk akal dan diterima, meski umumnya yang dipakai adalah tafsiran pertama. Alasannya: karena lokasi yang diceritakan tampaknya lokasi yang sama, hanya saja sudut pandangnya yang berbeda, yang satu melihat dari dataran rendah ke atas, sehingga menyebutnya ‘di bukit’ (Mat. 5:1), sedangkan yang satunya lagi melihat dari atas ke bawah, sehingga menyebutnya ‘di tempat yang datar’ (Luk. 6:17). Jadi, mereka mengutip khotbah yang sama dari sudut pandang yang berbeda.

avatar
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.