Membangun Spiritualitas Remaja Katolik dengan Meneladani Carlo Acutis

0
245

Carlo Acutis anak dari pasangan Andrea Acutis dan Antonia Salzano. Ia lahir di London pada 3 Mei 1991. Empat bulan setelah kelahirannya, keluarganya pindah ke Milan. Carlo menghabiskan waktu kanak-kanaknya di Milan.

Sejak kecil, Carlo sudah menunjukan ketertarikannya pada bidang agama. Dia menerima komuni pertama saat berusia tujuh tahun. Carlo dididik di salah satu sekolah menengah di Milan, yaitu sekolah Jesuit Instituto Leone XIII.

Sejak menerima komuni pertama, Carlo Acutis menjadi betul-betul mengabdikan diri pada Ekaristi. Ia selalu berusaha untuk mengikuti perayaan Ekaristi secara rutin. Bahkan, setiap minggu ia selalu mengaku dosa. Dirinya juga melakukan devosi kepada Bunda Maria. Ia pernah berkata bahwa Bunda Maria akan menjadi satu-satunya wanita dalam hidupnya. Atas pengaruh Carlo, kehidupan orang tuanya yang semula tidak terlalu percaya perlahan-lahan berubah.

Sama seperti remaja pada umumnya, Carlo pun sangat menyukai film, game, dan hangout bersama teman-teman. Ia juga membuat sebuah web yang bernama carloacutis.com. Karenanya, ia dikenal sebagai ahli computer oleh orang-orang di sekitarnya.

Menurut ibunya, Carlo memanfaatkan internet untuk ‘mempengaruhi’ orang lain agar dekat dengan Tuhan. Salah satu karyanya adalah membuat situs web katalog mujizat Ekaristi. Dia menyelesaikannya pada tahun 2005 sebelum dirinya menderita penyakit leukemia. “Menurut Carlo, Ekaristi merupakan jalan masuk ke surga dan jalan menuju kesucian,” ujar ibunya.

Carlo juga sangat menghormati Bunda Maria. pernah menyebutkan bahwa hanya Bunda Maria satu-satunya wanita yang akan anda dalam hidupnya. Jika dilihat sekilas kita mungkin berpikir itu hanyalah kata-kata dari seorang anak. Namun dia bersungguh-sungguh akan perkataannya. Dia berdoa Rosario dengan sungguh.

Setelah dirinya menderita penyakit leukemia, dia berkata bahwa dirinya akan menyerahkan penderitaannya kepada Paus, Gereja dan Tuhan. Dia sama sekali tidak takut akan penyakitnya. Di saat terakhir pun dia meminta kepada kedua orang tuanya untuk membawanya berkeliling ke tempat-tempat ziarah di mana keajaiban Ekaristi terjadi. Pada tanggal 12 Oktober 2006 Carlo pulang kepada Bapa. Sesuai dengan keinginannya, ia dimakamkan di Asisi.

Banyak hal yang bisa kita teladani dari seorang Carlo Acutis. Di masa pandemi ini kita bisa mengimplementasikan nilai-nilai yang kita dapat dari seorang Carlo Acutis. Carlo yang begitu muda saat itu didiagnosa menderita penyakit Leukimia. Sesuatu yang tidak dapat diduga sebelumnya.  Namun toh ia tidak putus asa atas apa yang terjadi padanya. Justru sebaliknya, ia semakin mendekatkan diri pada Tuhan.

Sikap selalu mengandalkan Tuhan inilah yang kita butuh selama covid-19 ini. Banyak kemungkinan akan terjadi selama masa pandemi ini. Kita mungkin mulai bertanya  “Apa yang harus saya lakukan? Apakah jika saya terpapar saya bisa sembuh? Bagaimana jika keluarga saya juga ikut terpapar?” Berbagai macam pertanyaan mungkin akan terlintas. Hal ini juga bisa membuat kita gelisah.

Percayalah bahwa pandemi ini merupakan salah satu cara dari Tuhan untuk menyadarkan umat-Nya. Sebelum pandemi ini kita mungkin seringkali melupakan Tuhan. Sekarang saatnya untuk kembali ke jalan Tuhan. Percayalah saja setelah kita melalui semua ini dengan berharap kepada Tuhan akan ada sesuatu yang sangat baik yang telah Tuhan rencanakan.

avatar
Lahir di Ruteng, 02 Juli 2002. Mahasiswa semester satu fakultas Farmasi Universitas Airlangga Surabaya.