1.3 C
New York
Tuesday, January 26, 2021

Memulai Paroki Baru dari Nol, Belajar dari POM Bensin

Ketika semua Gereja merayakan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, kami, umat Paroki St. Matius Halong, Keuskupan Banjarmasin, mengadakan peresmian paroki dan pelantikan Dewan Pastoral Paroki.

Paroki Halong ini didirikan pada 1 Januari 2020 bersamaan dengan empat paroki baru lainnya. Rencana awal, paroki ini diresmikan pada 26 April 2020, namun tertunda karena tiba-tiba saja Covid-19 datang melanda negeri ini. Saat itu, saya merasa bahwa Corona membawa musibah, karena gara-gara virus ini paroki kami belum bisa diresmikan. Tapi, lambat laun, saya berpikir bahwa ternyata di balik musibah ini ada juga hikmahnya. Sebab, justru gara-gara Corona pula, kami mempunyai  kesempatan untuk berbenah.

Saya masih ingat persis, ketika saya tiba di paroki ini pada 12 Januari 2020 lalu,  saya terkena sakit kepala sebelah atau yang dikenal dengan istilah migrain. Penyebabnya bukan karena hari itu saya telat makan atau karena kelelahan melainkan karena energi saya terkuras memikirkan ulang segala pergulatan yang pernah saya alami ketika pada tahun 2015-2016 saya menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di wilayah ini.

Dulu tempat ini masih sebagai stasi sehingga dalam arti tertentu, tuntutan pastoralnya pun masih ringan, apalagi untuk saya yang saat itu masih sebagai frater TOP. Dan sekarang sudah menjadi paroki, dan saya adalah pastor paroki pertamanya. Ini bukan sesuatu yang mudah. Saya tahu itu sulit. Makanya, saya tak habis pikir apa yang akan saya alami nantinya.

Di sini belum ada apa-apa. Jauh dari bayangan paroki pada umumnya. Tak ada fasilitas ini dan itu. Bahkan untuk sekedar tidur pun, saya masih harus membentangkan tikar dan tidur di antara tumpukan kardus dan barang-barang. Ketika itulah, terlintas di benak saya suatu pertanyaan: “Tuhan, mau dibawa ke mana paroki ini?” Jam terbang saya masih sedikit, pengalaman saya pun belum banyak.

Wajah Gereja Halong Dulu

Tuhan sepertinya sedang meyakinkan saya bahwa saya tidak akan bekerja sendirian, juga misi ini bukan misi saya melainkan misi Tuhan sendiri. Dia yang memulai, Dia pula yang meneruskan. Saya hanyalah alat-Nya.

Di sinilah saya belajar dari POM Bensin untuk memulai segala-galanya dari nol. Ya, paroki baru ini dimulai dari nol. Modal saya hanya mimpi. Memang, CICM membentuk kami, anggotanya, untuk berani bermimpi. Tapi, mimpi saja tidak cukup. Berani bermimpi dan harus berani pula mewujudkan impian itu. Tapi, dari mana harus dimulai? Semua berawal dari titik nol.

Di sini pula Tuhan meyakinkan saya bahwa Ia baik. Saya bertanya satu kali, Tuhan menjawab banyak kali. Saya meminta sesuatu yang sederhana, Tuhan memberi lebih dari apa yang saya minta. Ia tahu apa yang kami mau. Ia memberikan apa yang dibutuhkan di sini.

Tuhan menyentuh hati segenap umat-Nya untuk membantu kami mewujudkan mimpi kami. Maka, perlahan tapi pasti, wajah Gereja Paroki ini mulai terbentuk, umatnya pun terlihat antusias. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih untuk semua donatur yang sudah menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam mewujudkan mimpi-mimpi kami.

Wajah Gereja Halong Kini

Di sini juga saya belajar dari St. Yoseph, suami Maria. Ia bekerja dalam diam, tapi hasil kerja jelas dan pasti. Selama Corona, kami bekerja, berbenah, dan memberi bentuk atas wajah paroki ini. Tidak fantastis memang, tapi paling tidak sekarang saya tidak perlu lagi tidur di antara kardus-kardus dan tidak perlu lagi takut lantai Gereja ambruk karena papan-papannya rapuh.

Saat Peresmian Paroki

Saya menjadi semakin yakin bahwa Tuhan berpihak pada kami. Ia adalah raja kami, dan kami anak-Nya. Keyakinan ini jugalah yang mendorong kami untuk memilih tanggal 22 November, pada perayaan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam sebagai tanggal peresmian paroki kami. Sebab, kami yakin bahwa kami adalah anak-anak raja, dari Raja Semesta Alam. Karena kami anak raja, kami diperlakukan secara istimewa oleh-Nya. Syukur kepada-Mu Tuhan, terima kasih untuk para donatur. JK-IND.

avatar
RP Jufri Kano, CICM
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Ikuti Kami

10,456FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini