Memento Mori: Ingatlah Kematianmu

0
156
https://www.google.com/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fkoranseruya.com%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F04%2FGlenn-Friedly-wafat.jpg&imgrefurl=https%3A%2F%2Fkoranseruya.com%2Fglenn-fredly-tutup-usia.html&tbnid=I96NwoH48lHctM&vet=12ahUKEwimopjTptroAhWt8TgGHRWbCXwQMygiegQIARBF..i&docid=CbhEwyKqPVdThM&w=673&h=373&q=glenn%20fredly&safe=strict&ved=2ahUKEwimopjTptroAhWt8TgGHRWbCXwQMygiegQIARBF
Bro Glenn Fredly, Rest in Peace!

Tadi malam, kita dikejutkan dengan berita meninggal dunianya  musisi hebat asal Ambon, Glenn Fredly. Berita kepergian musisi kelahiran  tahun 1975  ini sangat mengagetkan banyak orang, termasuk saya. Media sosial online penuh dengan ucapan belangsungkawa atas kepergiannya. Ada orang yang  menayangkan (posting) lagi lagu-lagu ciptaan Glenn Fredly. Ada juga orang yang menulis puisi indah tentangnya.

Memang tak sedikit orang yang selayang pandang mengulas aneka keutamaan hidupnya, termasuk ibu Sri Mulyani (Menkeu). Pada laman facebooknya Ibu Sri Mulyani menulis, “Saya kehilangan seorang teman yang memiliki kepedulian yang sangat besar terhadap berkembangnya industri music dan kesejahteraan para musisi serta seniman Indonesia.” Duka yang mendalam juga dirasakan mbak Najwa Shihab. Pada laman facebooknya ia menulis, “Duka mendalam atas kepergian Glenn Fredly, musisi kenanamaan Indonesia sekaligus sahabat dekat kami.” Masih ada orang penting lainnya yang menarasikan kebersaman indahnya bersama Glenn.

Saya membatin, aneka ungkapan bernada positif ini menunjukkan hal penting bahwa Glenn adalah orang baik. Hidupnya penuh keutamaan dan menginspirasi banyak orang.  Ia tak hanya piawai bermain gitar, menciptakan lagu dan menyanyikannya, tetapi pandai berelasi dengan sesama bahkan melakukan aksi positif (tindakan kemanusiaan) untuk kebaikan orang lain. Ia memang  telah menjadi berkat bagi banyak orang. Ia telah berjasa bagi Indonesia!

Tapi, Glenn tetap pergi untuk selamanya. Aneka keutamaan hidupnya tidak membuatnya hidup abadi di dunia ini. Ia sudah pergi menghadap Sang Pemberi hidup. Yang sisa di dunia ini hanya aneka kenangan tentangnya. Kita hanya bisa bersyukur kepada Tuhan karena sudah mengirimkan Glenn untuk memberi warna yang indah bagi bangsa ini. Kita hanya bisa berterima kasih kepada Glenn atas pengabdiannya di bidang seni musik dan aneka tindakan kemanusiaan yang sudah dilakukannya selama ini untuk Indonesia. Tentu saja kita juga berdoa agar Glenn mengalami sukacita abadi bersama Allah yang diimaninya dan keluarga yang ditinggalkan diberi rahmat kekuatan dan kesabaran. Bro Glenn, rest in peace! Hanya itu yang bisa kita lakukan. Tak lebih!

Hari Kematian

Bagi saya, kepergian Glenn (juga kepergian orang lain karena Corona, misalnya)  seharusnya mengajak kita untuk merenungkan hidup masing-masing dan mengingat hari kematian masing-masing. Ini yang dalam ungkapan Latin disebut memento mori. Ingatlah akan hari kematianmu! Ya, semua orang memang perlu mengingat kematiannya. Bahwasannya, ini hanya soal waktu. Yang namanya manusia, entah kaya atau miskin, terkenal atau tidak terkenal, pejabat atau masyarakat biasa, orang berpendidikan formal  dengan sederet gelar atau tidak, orang kota atau kampung, tinggal di negara maju atau berkembang, beragama atau tidak,  pasti akan meninggal dunia dunia seperti Glenn.  Untuk mati itu bahkan tak harus sakit atau dirawat di rumah sakit. Banyak orang kelihatan sehat. Tiba-tiba meninggal dunia. Tak harus juga tunggu usia lanjut. Toh banyak anak kecil, remaja atau orang muda meninggal dunia. Tak harus juga meninggal di rumah sendiri atau di rumah sakit.  Toh ada yang meninggal dunia di jalan, di hutan, di laut atau di mana saja di luar rumah. Jika saat kematian tiba, tak ada seorang pun bisa menghalanginya. Siapapun  dia!

Karena  kesadaran bahwa yang namanya manusia pasti meninggal dunia, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita takut? Takut itu manusiawi, asal tak berlebihan. Sebab takut atau tidak, sama sekali tidak membuat kita hidup abadi di dunia ini. Kita tetap meninggal dunia. Memento Mori seharusnya membuat kita memaknai hidup hari ini dengan sebaik-baiknya. Bila perlu kita menganggap bahwa hari ini, minggu ini atau bulan ini adalah saat terakhir dalam hidupku! Seremkah? Bisa jadi. Tapi ini cara yang baik untuk mengakrabkan diri dengan kematian.  Ini cara untuk menyadarkan diri kita bahwa kematian bahkan menjadi bagian dari hidupku yang tak seharusnya ditakutkan secara berlebihan. Tak berlebihan juga kalau dikatakan bahwa memento mori menggerakkan hati kita agar mencintai kematian, jangan membencinya! Sebab tak ada gunanya juga membenci kematian. Kita tetap meninggal dunia!

Tak hanya itu, memento mori  juga menggerakkan hati kita untuk hanya melakukan yang  terbaik hari ini, minggu ini atau bulan ini. Apa yang terbaik itu? Menurutku, patokannya adalah norma atau aturan dalam keluarga, masyarakat/negara atau norma agama masing-masing.

Bagi para pengikut Yesus, norma  tertinggi atau norma pertama dan terutama adalah KASIH. Norma ini ditegaskan sendiri oleh Tuhan Yesus. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mat. 22:37-38).” Norma inilah yang seharusnya menjiwai peziarahan hidup para pengikut Kristus.

Memento mori menggerakkan hati para pengikut Kristus untuk hanya berjuang mengasihi Allah dan mengasihi sesama dengan segenap hati  sesuai panggilan dan perutusan masing-masing. Norma ini dihayati secara konkret di dalam keluarga, komunitas, lingkungan atau kelombok basis, tempat kerja dan di tengah masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini juga bentuk persiapan pribadi menghadapi kematian yang sering datang seperti pencuri itu. Semuanya ini harus dilakukan selama hari ini, minggu ini atau bulan ini. Jangan menunda-nunda! Sebab barangkali ini saat terakhir hidup kita.

Dengan demikian, segala tindakan yang bertentangan dengan norma KASIH, antara lain: menyangkal Tuhan (ateis), malas berdoa, benci, iri hati, fitnah, menyebar kebohongan, sombong, berhamba pada harta atau tahta atau kenikmatan tertentu, mencuri/korupsi, tidak peduli dengan penderitaan orang (egois), membunuh, aborsi, euthanasia perlu dihindari atau tidak perlu dilakukan. Semuanya tindakan ini tidak perlu dilakukan hari ini, minggu ini atau bulan ini. Jangan menunda-nunda! Sebab barangkali ini saat terakhir kita menikmati hidup di dunia ini.

Memento Mori juga menyadarkan orang bahwa harta, pangkat/jabatan dan kenikmatan yang diperoleh di dunia ini semuanya fana. Tak abadi. Karena itu, orang tak perlu melekatkan hati pada semuanya itu. Tidak perlu berhamba pada tuan harta, uang, pangkat/jabatan dan kenikmatan tertentu. Semuanya akan berlalu. Semuanya tak akan dibawa pulang saat kematian. Semua orang akan pulang kepada Allah dalam keadaan telanjang sebagaimana ia keluar dari rahim ibunya. Telanjang bulat. Bulat sekali!

Akhirnya, memento mori menyadarkan orang bahwa dunia ini tidak abadi. Yang abadi adalah tinggal bersama Allah dalam keabadian yang dialami setelah meninggalkan dunia ini. Dunia ini bukan rumah kita. Dunia ini hanya tempat singgah (mampir ngombe: mampir minum) dan bukan tujuan peziarahan. Tujuan peziarahan adalah berada di rumah Tuhan dalam keabadian.

Tentang kefanaan hidup manusia, saya tertarik untuk membagikan kepada Anda syair lagu yang indah sekali dari  Maria Shandi, artis Kristen yang terkenal beberapa tahun terakhir ini. Saya sangat menyukai lagu ini. Jika Anda belum tahu lagu ini dan mau tahu bagaimana menyanyikannya, silahkan mencari dan mendengarkannya di Youtube.

Dunia bukan Rumahku

(Maria Shandi)

Dunia ini bukanlah rumahku
Semua yang ada hanya sementara
Tak ada satupun yang dapat kubawa
Saat ku kembali pada-Nya

Ku sadari singkat hidup ini
Seperti embun pagi yang datang dan pergi
Selama kuhidup senangkan hati-Mu
Ku yakin kembali pada-Mu

Janji-Mu kan membawaku
Dimana Kau ada, aku pun berada
Ku nanti datangnya hari-Mu
Bila tiba saatnya, ingatlah aku
Bawaku tinggal bersama-Mu

Ku sadari singkat hidup ini
Seperti embun pagi yang datang dan pergi
Selama kuhidup senangkan hati-Mu
Ku yakin kembali pada-Mu

Janji-Mu kan membawaku
Dimana Kau ada, aku pun berada
Ku nanti datangnya hari-Mu


Saudara/i, Memento mori! Ingatlah kematianmu!***

Labuan Bajo, 9 April 2020

 

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.