Pribadi  Ekaristi

0
50
Sumber: Google.com

Seharusnya pada malam Kamis Putih ini umat Katolik bersama-sama secara meriah merayakan Ekaristi memperingati Perjamuan Terakhir Tuhan Yesus bersama murid-murid-Nya ini. Tapi karena Virus Corona, kita tidak bisa melakukannya secara bersama. Kami para imam misa di tempat kami masing-masing dan umat mengikuti-Nya dari rumah melalui media TV atau live streaming Media Sosial, atau membuat ibadat sendiri di rumah. Tapi sadarlah, kita bersatu dalam doa. Yakinlah, Tuhan Yesus mendengarkan doa kita sekalian, teristimewa untuk kesembuhan dunia dari Corona pun kesembuhan kita sendiri dari segala penyakit baik fisik maupun psikis, secara khusus kesembuhan dari segala dosa kita

Pada malam Kamis Putih ini saya merenungkan secara serius tentang hubungan antara Ekaristi dan pelayanan. Renungan pribadi ini saya bagikan kepada saudara/i sekalian

Ekaristi

Malam perjamuan terakhir Tuhan Yesus bersama para murid-Nya ini boleh dikatakan sebagai malam lahirnya Sakramen Ekaristi. Tentang hal ini, Rasul Paulus dalam Suratnya kepada jemaat di Korintus (11:23-26) sebagaimana dibacakan malam ini menegaskan: “Tuhan Yesus, pada malam Ia diserahkan, mengambil roti itu seraya berkata, “Inilah Tubuhku, yang diserahkan bagimu; perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata, “Cawan ini adalah Perjanjian Baru yang dimeteraikan dalam Darah-Ku. Setiap kali kamu meminumnya, perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku!” Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu mewartakan wafat Tuhan sampai Ia datang.”

Perayaan Ekaristi (eucharistia: syukur) tak lain adalah perayaan syukur Yesus kepada Bapa-Nya sebagai ungkapan ketaatan-Nya pada kehendak Bapa sekaligus pemberian diri-Nya secara total kepada kita. Penyerahan tubuh-Nya (yang dilambangkan dengan roti) dan darah-Nya (dilambangkan dengan anggur) merupakan ungkapan pemberian diri yang total. Semuanya ini dilakukan-Nya dengan tujuan agar manusia diselamatkan. Jadi, keselamatan kita adalah tujuan pemberian diri-Nya.

Tuhan Yesus juga meminta para murid-Nya agar terus melakukan hal tersebut. “Perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku!” Sepanjang zaman Gereja terus melakukan apa yang diwariskan oleh Yesus itu melalui Perayaan Ekaristi yang dirayakan setiap hari di seluruh dunia. Perayaan yang dipimpin atas nama Kristus oleh Bapa Suci, para Uskup dan para imam dan melibatkan umat beriman ini telah terbukti menghidupkan Gereja hingga saat ini. Gereja bertahan karena Ekaristi!

Bagi kita Gereja Katolik, Perayaan Ekaristi adalah puncak dan sumber hidup umat beriman. Disebut demikian, karena di dalam Ekaristi, umat beriman berjumpa dengan Kristus melalui sabda-Nya dan teritimewa melalui santapan Tubuh dan Darah-Nya (roti dan anggur). Karena itu, orang yang tekun mengikuti Ekaristi pasti sungguh-sungguh mengalami perjumpaan dengan Yesus dan pasti mendapatkan rahmat berlimpah dalam hidup.

Pembasuhan Kaki

Hal penting lain yang saya renungkan malam ini adalah pembasuhan kaki para murid yang dilakukan oleh Yesus (Yoh. 13:1-15). Ini tindakan tidak biasa dalam masyarakat Yahudi. Ini pekerjaan seorang hamba! Hanya hamba yang bertugas membasuh kaki tuannya. Bukan sebaliknya! Tak ada pula guru yang membasuh kaki para muridnya. Hanya murid yang membasuh kaki gurunya. Tapi Yesus melakukan hal yang tidak biasa ini.

Tindakan Yesus ini memiliki pesan yang sangat mendalam. Antara lain: ini ungkapan kerendahan hati yang tulus! Yesus mau para murid-Nya menjadi pribadi rendah hati. Yesus juga mau agar para murid-Nya saling melayani. “Kamu pun wajib saling membasuh kaki!” Itu yang dikatakan-Nya. Inti perutusan mereka adalah pelayanan. Mereka harus menjadi pelayan; harus melayani satu sama lain. Tak hanya asal melayani, tapi melayani dengan rendah hati. Keutamaan seorang pelayan adalah kerendahan hati!

Pribadi Ekaristi

Apa hubungan Ekaristi dengan membasuh kaki? Menurutku, hubungannya adalah Ekaristi menggerakkan hati orang untuk saling membasuh kaki. Membasuh kaki artinya melayani satu sama lain. Maksudnya, perjumpaan dengan Kristus yang dialami dalam Ekaristi mengandung perutusan penting yakni pelayanan kepada sesama. Bahkan perjumpaan dengan Kristus itu mendesak orang untuk pergi melayani sesama dan tidak hanya tinggal diam.

Selain itu, rahmat yang berlimpah yang diterima melalui Ekaristi harus dibagikan; jangan dinikmati sendiri, sebagaimana Yesus rela membagi-bagikan diri-Nya (tubuh dan darah-Nya) demi keselamatan manusia. Semuanya ini dilakukan dengan tulus dan rendah hati. Dengan demikian, menurut saya, Ekaristi mendorong atau menggerakkan hati umat beriman agar menjadi pelayan yang rendah hati seperti Yesus. Ekaristi mendorong kita saling membasuh kaki dalam semangat kerendahan hati.

Mari sejenak melihat ziarah hidup kita yang telah berlalu! Kita sudah sering mengikuti Ekaristi baik saat misa harian maupun hari Minggu dan Hari Raya lainnya. Harapannya kita sungguh-sungguh mengalami perjumpaan dengan Kristus dan mendapatkan banyak rahmat yang mengalir dari Ekaristi.

Apakah Ekaristi yang kita ikuti selama ini mendorong kita menjadi pelayan? Apakah perjumpaan kita dengan Kristus mendesak kita agar melayani sesama dan tidak hanya hidup bagi diri sendiri? Apakah Ekaristi menggerakkan hati untuk saling membasuh kaki? Harapannya, kita semua sudah melakukannya. Harapannya kita semua telah menjadi pelayan yang rendah hati. Di mana kita melakukannya? Di mana saja kita berada sesuai panggilan dan perutusan kita masing-masing (keluarga, komunitas, kelompok basis/lingkungan, tempat kerja, di tengah masyarakat, dan sebagainya).

Kalau sudah melakukannya, itu berarti kita sudah menjadi pribadi Ekaristi. Yang saya maksudkan dengan pribadi Ekaristi adalah pribadi yang mau berbagi kepada sesama, peduli dengan sesama, tergerak untuk membantu sesama dan tidak hanya hidup untuk diri sendiri. Pribadi Ekaristi adalah pribadi yang mau saling membasuh kaki (saling melayani). Pribadi Ekaristi melakukan semuanya itu dengan tulus dan penuh kerendahan hati. Teladan sempurna pribadi Ekaristi adalah Tuhan Yesus. Dialah pelayan sejati!

Tetapi jika belum sungguh-sungguh melakukannya, semoga perayaan Kamis Putih malam ini membarui hidup kita agar semakin menjadi pribadi Ekaristi. Semoga ke depan kita juga semakin mencintai Ekaristi sebagai puncak dan sumber hidup kita. Semoga kita juga semakin menjadi pribadi yang ‘mau saling membasuh kaki’ (melayani) dan rela berbagi dengan sesama terutama yang sangat membutuhkannya di jalan panggilan dan perutusan kita masing-masing. Semua itu kita perlu lakukan dengan tulus dan rendah hati. Itulah pribadi Ekaristi!***

Tuhan Yesus memberkati kita sekalian! Amin.

 

Labuan Bajo, 9 April 2020

(Kamis Putih tanpa umat)

 

 

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.