Iman Vs Akal Budi

0
352

Oleh: Silvester Detianus Gea*

Wabah Corona Virus Disease (Covid 19) yang melanda dunia saat ini menimbulkan berbagai masalah. Tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, sosial, politik, melainkan berkaitan dengan ideologi, terutama ideologi agama. Pada konteks ini berkaitan dengan pandangan orang-orang yang ‘mengaku’ beriman kepada Tuhan. Terlebih sejak pemerintah mengeluarkan larangan untuk membuat kerumunan atau pertemuan-pertemuan yang memungkinkan adanya kontak fisik. Seperti kita ketahui, pemerintah juga menghimbau agar tempat-tempat ibadah untuk sementara melaksanakan ibadah online.

Banyak orang mulai berdalih, dan mencoba mencari pembenaran untuk ‘melawan’ aturan yang dibuat oleh pemerintah. Mereka mencomot dan mengutip berbagai ayat untuk mendukung pendapat mereka bahwa satu-satunya yang harus ditakuti adalah Tuhan. Oleh sebab itu, mereka mengajak jemaat mereka agar tetap melaksanakan ibadah di gereja. Bahkan mereka membuat pernyataan bahwa ketika umat takut untuk mengadakan ibadah di gereja, sesungguhnya telah menduakan Tuhan. Namun, seiring berjalannya waktu, penganut paham ‘fideisme’ (iman saja cukup) ini mulai menghilang. Menghilang dalam arti, mereka mulai patuh kepada aturan pemerintah. Meskipun sebagian dari mereka tetap membuat dan menyebarkan pernyataan yang sama di berbagai sosial media.

Terkait dengan paham ‘fideisme’ tersebut, salah seorang tokoh agama menyampaikan tantangan kepada penganut paham fideisme agar mereka turun langsung untuk melaksanakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) penyembuhan di rumah-rumah dan di rumah sakit. Hingga saat ini, tantangan tersebut belum dijawab oleh penganut paham fideisme. Malahan mereka lebih banyak membuat tulisan-tulisan di media sosial daripada bertindak dan turun langsung. Penganut paham fideisme disatu sisi benar, namun disisi lain mereka kurang bijak, dan tidak memakai akal budi. Pandangan mereka benar, bahwa kita wajib takut hanya kepada Tuhan. Namun, mereka disisi lain tidak menggunakan akal budi yang telah diberikan oleh Tuhan. Ibarat didepan mereka ada jurang yang sangat dalam, namun mereka tetap berjalan karena mereka yakin Tuhan menyelamatkan. Sementara jika mereka memakai akal budi, mereka tahu bahwa Tuhan tidak mungkin menegur seketika supaya tidak jatuh ke dalam jurang itu. Tentulah Tuhan bisa saja memakai orang lain untuk menegur agar kita tidak jatuh ke dalam jurang.

Baca Juga:

Meskipun ada sekelompok orang menganut paham fideisme, ada pula yang menganut paham fideisme dan akal budi. Penganut fideisme dan akal budi sesungguhnya lebih bertindak bijak dalam hal ini. Mereka memandang suara pemerintah sebagai ‘suara Tuhan’. Tidak heran paham tersebut terkandung dalam Kitab Suci, dimana umat beriman diajak untuk menghormati lembaga pemerintahan. Bisa jadi, penganut fideisme sekaligus akal budi setidaknya pernah membaca gagasan St. Thomas Aquinas seorang imam dari ordo dominikan. Menurut St. Thomas Aquinas iman dan akal budi mesti berasal dari wahyu Allah. Oleh sebab itu, iman harus dibangun di atas akal budi sehingga sempurna. Iman dapat menjelaskan apa yang terbatas secara akal budi, sementara akal budi menjelaskan apa yang diketahui secara inderawi.

Dengan demikian, umat beriman sebaiknya memiliki paham fideisme tanpa membuang akal budi. Sebab keduanya saling melengkapi. Seandinya saja, paham fideisme itu tanpa akal budi, maka seseorang itu dapat beriman secara membabi-buta. Artinya, akal budi dibuang secara total demi menegaskan bahwa fideisme satu-satunya yang harus dipegang. Akal budi dan iman bekerja sama untuk memahami apa yang tersembunyi di balik setiap peristiwa kehidupan manusia. Oleh sebab itu, akal budi dan iman adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan sehingga mampu menelusuri lebih jauh keagungan dan kebesaran Tuhan di balik setiap peristiwa.

*Penulis adalah Wartawan FloresNews.net, ZIARAHNEWS.COM, dan  KOMODOPOS.COM, Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul “MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS” (2018). Kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289.

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289