Memaknai Pekan Suci di Tengah Badai Corona

0
119

Hari ini kita umat Katolik memasuki Pekan Suci yang diawali dengan Perayaan Minggu Palma. Perayaan ini dirayakan dengan sangat sederhana dan tanpa kehadiran umat. Kita tahu alasannya: Covid 19 (Corona). Kita sedang dilanda badai yang membahayakan peradaban manusia. Tapi, walaupun badai sedang mengamuk kencang, Pekan Suci tetap dijalankan. Mungkin ini Pekan Suci paling menyedihkan dan paling bersejarah bagi umat Katolik.

Di tengah situasi ini, saya hendak membagikan permenungan saya tentang Pekan Suci yang berbeda ini. Intinya saya mengajak saudara/i untuk memanfaatkan dan memaknai situasi badai ini secara positif, bukan secara negatif, demi kematangan iman.

Menurutku, pada Pekan Suci sebelumnya barangkali kita terlalu sibuk dengan aneka kemeriahan lahiriah (koor, dekorasi, tablo, agape, tos paskah, telur paskah, pakaian misa atau busana yang keren, dll) tapi agak atau nyaris lupa merenungkan secara mendalam misteri SENGSARA, WAFAT dan KEBANGKITAN YESUS yang tak lain adalah inti misteri Pekan Suci.

Kali ini berbeda. Tuhan Yesus barangkali mengajak kita para pengikut-Nya agar merenungkan secara mendalam inti misteri Pekan Suci: SENGSARA, WAFAT dan KEBANGKITAN-NYA sekaligus melupakan sejenak aneka kemeriahan sebagaimana yang dirasakan-dialami pada Pekan Suci sebelumnya.

Barangkali Tuhan Yesus sedang meminta kita masuk masa retret agung Pekan Suci dalam keheningan keluarga atau komunitas masing-masing. Sebab sesungguhnya, Dia hanya ditemukan dalam keheningan batin, keheningan doa yang dilantunkan penuh syukur dan iman walau sebesar biji sesawi.

Menurut saya, mungkin ini juga saatnya bagi kita memaknai apa yang diwartakan oleh Gereja Katolik bahwa keluarga adalah Gereja Kecil atau Gereja Rumah Tangga (Ecclesia Domestica). Disebut Gereja Kecil karena seharusnya di dalam keluargalah iman kepada Tuhan itu diajarkan, ditumbuhkan, dihidupi dan mulai diamalkan. Berkaitan dengan itu, doa bersama, baca Kitab Suci dan merenungkannya secara bersama-sama, sharing iman dan sebagainya seharusnya menjadi roh dari setiap keluarga Katolik.

Kalau selama ini hal tersebut mungkin diabaikan, barangkali ini saatnya. Saat untuk mewujudkan bahwa setiap keluarga adalah Gereja Kecil. Tuhan Yesus adalah andalannya. Tiada yang lain.

Apa yang saya sampaikan ini hanya merupakan ajakan untuk berpikir positif di tengah badai Covid 19. Sebab bagiku, berpikir positif itu ‘cara hidup’ orang beriman. Ini ciri-ciri pengikut Yesus yang baik. Bukankah setiap peristiwa bahkan sepahit apapun selalu memiliki pesan positif untuk kita? Bukankah rahmat terselubung (blessing in disguise) itu tak terbantahkan?

Saya hanya tak ingin kita terlarut dalam kesedihan karena tak bisa mengikuti Pekan Suci secara meriah seperti sebelumnya. Sebab bagiku, terlarut dalam kesedihan itu bukan ciri-ciri pengikut Yesus yang baik. Apalagi kalau memaki atau mengumpat situasi ini atau pihak tertentu. Apakah itu menyelesaikan persoalan wabah Covid 19? Sama sekali tidak. Itu hanya letupan ketidakdewasaan dalam banyak hal, khususnya ketakdewasaan dalam beriman.

Akhirnya, selamat memasuki retret agung mandiri Pekan Suci. Selamat menghidupkan kembali Gereja Kecil kita masing-masing.

Jangan lupa pula berdoa agar badai Covid 19 ini bisa diatasi dengan baik. Doakan pula para pasien Covid 19 di seluruh dunia agar bisa disembuhkan. Jangan lupa juga berdoa bagi para pelayan kesehatan, pemerintah terkait, relawan/ti di seluruh dunia yang berada di garis depan “bertempur” mengatasi covid 19. Bagi yang telah berpulang ke pangkuan ilahi, semoga karena doa kita mengalami sukacita abadi dan menjadi pendoa bagi dunia yang sedang sakit-terluka ini.

Semoga kita semua juga dibebaskan dari wabah ini. Bukankah tiada yang mustahil bagi orang percaya-beriman? ***

“Selamat memasuki retret agung Pekan Suci; tetaplah berpikir positif. Tuhan memberkati kita! Amin.”

#StayPositiveThinking

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.