Mukjizat itu Masih Ada

0
98
Sumber: Google, Com

Minggu Prapaskah V

Yohanes 11:1-45 

Sudah dua minggu umat Katolik tidak mengikuti misa di gereja. Alasannya jelas: memutus rantai penyebaran Virus Corona yang mengacaukan dunia saat ini. Demi kemanusiaan, misa bersama ditiadakan. Umat  diminta berdoa di rumah masing-masing atau mengikuti misa/ibadat online. Saya senang karena rupanya banyak umat merindukan misa. Hal ini saya ketahui dari percakapan pribadi dengan mereka via alat komunikasi maupun yang saya amati kerinduan mereka sebagaimana tersebar di media sosial online, terutama di lapak pribadi mereka (Fb, Wa, IG). Mereka merasa hampa tanpa misa. Bagiku, ini kesadaran iman yang baik. Sembari berharap agar Virus Corona segera diatasi dengan baik, umat tetap diminta bersabar di rumah sambil tetap merawat kesehatan dan berdoa. Ini pasti berlalu. Kita hanya perlu bersabar menunggu waktu-Nya Tuhan, bukan waktu manusia.

Saudara/i terkasih!

Pada hari Minggu Prapaskah V, hari ini, Injil yang direnungkan oleh seluruh umat Katolik di dunia adalah kisah “Lazarus dibangkitkan.” Penginjil Yohanes (Yoh. 11:1-45) mengisahkan dengan baik dan menarik bagaimana mukjizat kebangkitan Lazarus terjadi. Injil menulis bahwa Lazarus adalah sahabat yang dikasihi Yesus. “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” Ini kabar yang disampaikan oleh kedua saudari Lazarus (Marta dan Maria) kepada Yesus.  Terhadap kabar itu Yesus hanya berkata, “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu, Anak Allah akan dimuliakan (ay. 4).” Setelah itu, Ia tak langsung mengunjungi Lazarus. Beberapa hari kemudian baru Ia datang. Dan Lazarus sudah empat hari di dalam kubur! Ketika Yesus tiba, Marta mengungkapkan kekecewaannya. “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya (21-22).” “Saudaramu akan bangkit.” Begitulah Yesus menanggapi kekecewaan Marta. “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” Marta terus menanggapi Yesus sesuai dengan apa yang dipahaminya. “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati dan setiap orang yang hidup dan percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah Engkau akan hal ini? (25-26). Rupanya Yesus semakin serius menanggapi Marta. Akhirnya Marta mengungkapkan imannya, “Ya Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia (27).” Betapa dialog antara Yesus dan Marta ini sangat mendalam.

Lazarus dibangkitkan

Sekarang giliran saudari Lazarus yang lain, Maria. “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati (33).” Ini ungkapan hati Maria ketika berjumpa dengan Yesus. Sama persis dengan ungkapan hati Marta sebelumnya! Ini juga ungkapan kekecewaan karena Yesus terlambat datang. Tak banyak dialog dengan Maria. Yesus malah langsung menanyakan tempat Lazarus dibaringkan (dikuburkan). Sebagaimana Marta, Maria dan kerabat yang lain sangat sedih dan menangis, Yesus pun sedih bahkan menangis. Ya, Yesus menangis! Barangkali ini menunjukkan bahwa Yesus sangat mengasihi Lazarus dan juga Ia terlibat secara mendalam dengan kesedihan keluarga berduka. Solidaritas yang mendalam. Kepedulian yang tak tertandingi. “Angkat batu itu!” Perintah Yesus ini langsung dibantah oleh Marta: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya, engkau akan melihat kemuliaan Allah?” Yesus mengingatkan  Marta akan dialog sebelumnya. Marta sekali lagi diminta percaya. Tak perlu ragu lagi!

Setelah batu penutup kubur dibuka, Yesus berdialog dengan Bapa-Nya. “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku (41-42).” Hal penting yang perlu digarisbawahi adalah ungkapan “Supaya mereka percaya.” Yesus mau semakin banyak yang beriman; percaya pada kemahakuasaan Allah. “Lazarus, marilah ke luar!” Perintah Yesus yang penuh kuasa ini dan telah diawali  dialog dengan Bapa-Nya, membangkitkan Lazarus dari kematian. Tentu saja Marta dan Maria beserta keluarga yang lain bergembira atas mukjizat ini walau Injil tidak mencatatnya. Peristiwa ini menegaskan kata-kata Yesus dalam dialog dengan Marta, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” Penginjil mencatat bahwa banyak orang yang menyaksikan mukjizat itu percaya kepada Yesus (45). Memang inilah salah satu hal penting yang dikehendaki Yesus, “Supaya mereka percaya.” Benarlah juga apa yang disampaikan Yesus pada awal bacaan ini, “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu, Anak Allah akan dimuliakan (4).”

Sikap Yesus terhadap Wabah Corona

Menurut saya, kisah  Yesus membangkitkan Lazarus tepat dibaca dan direnungkan secara serius pada situasi gawat yang sedang dihadapi dunia saat ini. Virus Corona betapa membawa dunia pada kematian. Tak hanya kematian fisik, yang mana puluhan ribu orang sudah meninggal, tapi juga kematian dalam banyak bidang kehidupan lainnya (ekonomi, sosial, politik, sosbud, dll). Virus ini melahirkan krisis besar bagi dunia saat ini. Situasi saat ini tampaknya mencekam. Pelbagai pihak terkait (pemerintah, lembaga-lembaga amal, relawan/ti, institusi religius-keagamaan, dan sebagainya) telah  dan sedang melakukan upaya terbaik untuk mengatasi krisis besar ini. Hasilnya sudah mulai dirasakan tapi belum mampu menghalau virus ini.

Para ahli dalam pelbagai bidang kehidupan juga telah dan sedang berjuang melawan Corona. Semoga mereka segera berhasil. Pelbagai agama dan aliran kepercayaan uga meminta umatnya tekun berdoa meminta intervensi Tuhan atau Dewa junjungannya agar virus ini segera lenyap dari bumi ini. Tampaknya Tuhan atau Dewa itu masih belum mau intervensi! Tapi menariknya, umat beragama dan aliran kepercayaan itu belum lelah berdoa. Mereka masih percaya, Sang Maha Kuasa, masih peduli dengan dunia dan segala ciptaan-Nya dan akan melenyapkan Corona.

Tak ketinggalan kita umat Katolik. Bapa Suci, para uskup, para imam, biarawan/ti meminta semua umat Katolik tak lelah berdoa memohon campur tangan Tuhan Yesus agar wabah ini segera berlalu. Salah satu hal yang mengagumkan bagi saya adalah ketika Bapa Suci Fransiskus dengan pelbagai cara mengajak umat Katolik untuk berdoa memohon intervensi (campur tangan) Tuhan untuk mengatasi wabah ini. Setelah beberapa hari lalu ia meminta umat Katolik mendaraskan Doa Bapa Kami secara bersama-sama, kemarin ia meminta umat Katolik di seluruh dunia mengambil bagian dalam Adorasi Sakramen Maha Kudus dan memberikan berkat urbi (kota Roma) et orbi (dunia). Berkat urbi et orbi  yang biasanya diberikan saat Natal dan Paskah, kini diberikan juga saat situasi darurat Corona. Ini tindakan yang luar biasa! Tujuannya jelas: Meminta kemurahan hati Tuhan Yesus agar segera terlibat menyembuhkan dunia ini; terlibat menghentikan wabah ini.

Saudara/i terkasih!

Barangkali dalam situasi sulit karena Corona ini kita seperti Marta dan Maria berkata sambil menangis, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini atau sekiranya Engkau peduli dengan kami, atau sekiranya Engkau mendengarkan doa kami, Virus ini pasti lenyap. Dunia ini pasti tidak kacau seperti ini.”

Terhadap keluhan dan tangisan kita ini, apa yang Yesus katakan? Apakah Yesus menangis seperti meratapi kematian Lazarus? Entahlah! Menurutku, mungkin Yesus berkata, “Tenang, Virus ini akan segera Kuatasi. Percayalah pada-Ku! Virus Corona ini tidak akan membuat semua manusia punah, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh Virus Corona  ini, Anak Allah akan dimuliakan. Dunia ini akan segera sembuh. Aku akan melakukannya! Tapi sadarlah Virus ini telah mendidikmu mencari Aku yang selama ini kamu abaikan. Sekarang kamu hampir setiap detik menyebut nama-Ku! Tapi, selama ini kamu sangat sibuk, anak-anak-Ku. Tak ada waktu bagimu, walau semenit saja, untuk menyebut nama-Ku. Selama ini atas alasan sibuk mencari nafkah, harta dan pangkat, aneka kesenangan semu, sibuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, kamu lupa untuk bersyukur; lupa datang kepada-Ku. Kamu terlalu sombong. Padahal seharusnya kamu sadar bahwa hidupmu hanya sementara. Harta dan pangkatmu, kepintaranmu merakit teknologi, kecanggihan ilmu pengetahuanmu dan aneka kehebatan yang sering kamu banggakan itu tak abadi. Semuanya fana! Yang abadi hanyalah kasihmu kepada-Ku! Sebab pada saatnya engkau akan kembali pada-Ku. Saat itu, harta, pangkat dan segala kemewahan dan kehebatanmu tak akan engkau bawa. Engkau akan kembali ke pangkuan-Ku dalam keadaan telanjang bulat seperti engkau keluar dari rahim ibumu. Virus ini mempertobatkanmu, anak-anak-Ku! Virus ini membuatmu kembali percaya pada-Ku. Kembalilah kepada-Ku! Aku akan melenyapkan Virus ini pada waktu-Ku! Jangan takut! Waktu-Ku selalu terbaik! Bukan waktumu! Kamu hanya perlu terus bertobat-membarui diri. Percayalah kepada-Ku! Percayalah! Jangan ragu!”

Saya membatin, barangkali ini kata-kata yang dikatakan Yesus dalam situasi sulit ini. Ya, barangkali!

Jaga Kesehatan dan Berdoa

Sambil tetap mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah, juga yang diminta oleh pihak Gereja Katolik dan sambil terus menjaga stamina tubuh, marilah teruslah datang kepada Yesus. Datang kepada-Nya untuk bersyukur karena kita masih diberi waktu untuk hidup. Sujudlah di hadapan-Nya seraya memohon ampun atas segala dosa kesombongan kita yang sering mengabaikan-Nya selama ini. Marilah mohon berkat dan kemurahan kasih-Nya untuk menyembuhkan diri kita yang sakit, menyembuhkan Gereja kita, menyembuhkan daerah dan bangsa kita, menyembuhkan dunia kita yang sedang sakit dan lumpuh ini. Saya  yakin banyak orang yang bertobat di seluruh dunia ini karena Corona ini! Corona ‘memaksa’ manusia untuk mencari Tuhan dan mengakui kemahakuasaan-Nya yang tak tertandingi oleh harta dan aneka kecanggihan ilmu pengetahuan dan tekhnologi saat ini.

Yakin pula bahwa mukjizat itu masih ada zaman ini. Tentu saja Tuhan bekerja melalui siapapun yang berkehendak baik untuk mengatasi wabah ini. Tapi, tetap ada ruang misteri, ruang mukjizat bahwa Ia sanggup menyembuhkan ketika manusia sudah tak mampu lagi! Ini cara pandang orang beriman. Dunia akan sembuh! Virus Corona akan berlalu!

Sebagaimana  banyak orang yang menyaksikan bagaimana Lazarus dibangkitkan percaya kepada Yesus, saya masih yakin banyak orang  bertobat dan percaya kepada Tuhan baik saat ini maupun setelah Corona berlalu. Mukjizat masih ada zaman ini. Kapan? Pada waktu-Nya Tuhan, bukan pada waktu yang diinginkan manusia. Bukankah waktu Tuhan selalu yang terbaik? Fiat Voluntas tua!***

 

 

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.