Menghargai Kehidupan

0
38
Sumber: Google.com

Banyak hal yang tak bisa diduga dalam hidup ini. Kecanggihan ilmu pengetahuan dan tekhnologi rupanya belum cukup mampu memprediksi banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Ketika suatu hal yang tak diduga itu terjadi, umumnya manusia huru-hara. Ini reaksi normal-manusiawi. Apalagi kalau sesuatu yang terjadi itu berupa penderitaan dan membahayakan kehidupan. Manusia berjuang mencari jalan keluar terbaik. Semua kemampuan terbaik dikeluarkan. Semua metode atau cara pemulihan dilakukan. Segala sarana sederhana sampai yang canggih dikerahkan. Begitulah manusia berjuang mengatasi penderitaan sekaligus membela kehidupan.

Kira-kira begitulah yang terjadi saat ini. Semua manusia di dunia huru-hara menghadapi badai Covid 19. Virus yang mulai terdeteksi di Wuhan-Cina ini telah mengacaukan dunia. Hampir semua negara di dunia dikacaubalaukan olehnya.  Sudah ribuan orang yang meninggal dunia karenanya. Masih banyak orang lainnya yang dirawat. Barangkali masih banyak orang lain yang akan menjadi korban keganasannya. Pemerintah setiap  negara sudah mengeluarkan aneka kebijakan terbaik agar virus ini segera lenyap. Para ahli di pelbagai negara sibuk mencari antivirus terbaik dan aneka langkah pencegahan dan pengobatan lainnya. Selain itu, warga masyarakat dilarang berkumpul. Semuanya harus jaga jarak. Semua kegiatan yang bersifat mengumpulkan massa (banyak orang) tak diizinkan untuk dilaksanakan. Bahkan kegiatan rohani setiap agama diminta untuk dihentikan sementara. Aneka tempat ibadah di seluruh dunia kosong. Sepi. Semua umat beragama diminta berdoa di rumah masing-masing. Semuanya harus tinggal di rumah saja.

Tentang instruksi agar berdoa di rumah masing-masing, rupanya cukup banyak umat katolik yang merindukan perayaan ekaristi. Ada yang memberitahukan kepada saya bahwa mereka merindukan Tubuh Kristus. Maklum sudah hampir satu minggu tidak ada perayaan ekaristi bersama umat. Mungkin ini juga baru terjadi dalam sejarah umat katolik di dunia bahwa untuk jangka waktu tertentu tidak ada perayaan ekaristi bersama umat. Padahal perayaan ekaristi adalah puncak dari setiap doa, ibadat dan liturgi orang katolik. Tapi, demi keselamatan banyak orang, langkah ini harus diambil oleh Gereja Katolik.

Memang, betapa mengerikan virus ini. Semua  yang disebut manusia takut. Semua orang panik. Kepanikan semakin tak karuan lantas pemberitaan media massa online semakin liar. Cukup sulit membedakan informasi yang akurat dan abal-abal (hoax). Belum lagi setiap orang jadi wartawan/ti. Ia bebas menulis sesuatu di lapaknya sendiri atas nama kebebasan berpikir, berpendapat dan berbicara yang dijamin undang-undang. Walau kebebasan itu sering kali kebablasan: menimbulkan kepanikan, keresahan bahkan menyesatkan banyak orang. Banyak orang juga bertengkar dan berdebat kusir karena virus ini. Banyak juga orang yang selalu menghujat pemerintah atau pihak berwenang karena dianggap lamban dan tak memiliki strategi mumpuni menghadapi badai ini. Pokoknya kacau!

Entahlah! Virus ini benar-benar mengacaukan dunia. Sepanjang umurku, saya baru merasakan bagaimana semua manusia di dunia dikacaukan oleh wabah penyakit. Saya baru merasakan bagaimana orang di kampung dan kota, orang miskin dan kaya, orang beragama dan tak beragama, pejabat dan rakyat, orang sekolah dan tak sekolah, negara miskin-berkembang dan maju diporakporandakan oleh wabah penyakit. Belum lagi aneka krisis yang timbul dari badai ini. Kehidupan ekonomi, sosial, politik, budaya, pertahanan dan keamanan kacau balau. Benar-benar kacau.

Di tengah kekacauan dunia karena badai Covid 19, saya merenungkan hal penting. Saat ini dunia sedang menunjukkan  apa yang disebut berperang melawan kematian karena virus dan memperjuangkan kehidupan. Dunia sedang menunjukkan kesadaran terbaik bahwa kehidupan itu mahal harganya. Kehidupan itu tak bisa diuangkan atau tak bisa digadaikan dengan emas atau perak atau aneka kekayaan duniawi lainnya. Betapa mahal harga nyawa seorang manusia. Semua kemampuan-keahlian terbaik yang ada di dunia ini dikerahkan demi menyelamatkan kehidupan. Jadi, dunia sedang sadar bahwa menghargai kehidupan itu perjuangan universal. Semuanya demi kehidupan manusia apapun suku, bangsa, warna kulit, status dan agamanya.

Saat ini, semua orang diundang untuk menghargai kehidupan dan sama-sama bergerak melawan badai Covid 19. Melawan badai Covid 19 artinya melawan kematian. Melawan kematian karena Covid 19 artinya menghargai-membela kehidupan. Setiap orang tak hanya menghargai kehidupannya sendiri, tetapi juga orang-orang yang ada di sekitarnya. Caranya yang terbaik adalah setia tinggal di rumah masing-masing. Selain mengalami indahnya kebersamaan dengan orang-orang terkasih di rumah, setiap orang juga mengambil waktu untuk berdoa, memohon campur tangan Allah agar badai ini segera teratasi dengan baik. Jika selama di rumah mengalami gangguan kesehatan, segera meminta pertolongan pelayan kesehatan terdekat. Itu saja. Akhirnya, semoga semua orang semakin menghargai kehidupan. Semoga badai Covid 19 ini bisa diatasi dengan baik.***

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.