Belakangan ini, permainan TIKTOK maupun MOBILE LEGEND digemari oleh anak-anak, dan tentu saja para remaja serta orang dewasa. Kegemaran seperti ini tidak buruk, hanya saja seringkali menyedot perhatian dan energi anak; sehingga anak bersangkutan boleh jadi kurang memberikan perhatian terhadap kegiatan yang lain. Maka, sangat disayangkan kalau kegemaran seperti itu tidak dibatasi.
Di tengah maraknya kebiasaan bermain Tiktok dan Mobile Legend di kalangan anak-anak, dorongan untuk membaca Kitab Suci semakin surut. Bayangkan, anak-anak mampu duduk berjam-jam sambil memandang layar HP-nya sementara untuk membaca Kitab Suci hanya sebentar saja, tidak bisa.
“Tak kenal, maka tak sayang” demikian bunyi pepatah klasik. Dengan pepatah ini saya memaksudkan bahwa apabila anak-anak tidak mengenal Kitab Suci, maka mereka sulit menyayangi Kitab Suci, apalagi isinya. Pengajaran Kitab Suci kepada anak-anak sangatlah penting sebab dengan berkenalan dengan Kitab Suci, anak-anak akan mengetahui siapa yang mereka imani. Maka, sangat disayangkan jika anak-anak tidak diperkenalkan dengan Kitab Suci.
Saya sangat terkesan dengan anak-anak BIA (Bina Iman Anak) di salah satu paroki di Jabodetabek tempat saya pernah berapostolat. Anak-anak di sana pada umumnya memiliki pengetahuan Kitab Suci yang sangat bagus. Jika ditanya mengenai cerita Kitab Suci, biasanya mereka dengan semangat memberikan jawaban. Menurut saya, ini adalah contoh yang amat baik. Tugas orang tualah yang pertama-tama memperkenalkan Kitab Suci kepada anak-anak. Jangan sampai orang tua menganggap bahwa memperkenalkan Kitab Suci kepada anak-anak adalah tugas para pendamping BIA. Ingat, pendidikan pertama dimulai di dalam keluarga.


